November 2012

ikadikobar.blogspot.com - Di ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat, yaitu Pangkalan Bun telah dilakukan berbagai kegiatan dalam menyambut tahun Baru Hijriah seperti pawai obor, dan syukuran dengan membaca doa awal tahu.

Lantas apa saja sebenarnya amalan sunnah yang sebaiknya kita lakukan dan semarakkan dengan mengajak beramai - ramai kaum muslimin? Berikut adalah beberapa dalil tentang puasa sunnah di Bulan Muharam.

1. Ibnu Abbas ra. berkata, "Rasulullah saw. berpuasa 'Asyura dan memerintahkan supaya orang - orang berpuasa." (Muttafaq 'alaih) hadits nomor 1252 Kitab Riyadhus Sholihin.

Pelajaran Hadits
Puasa 'Asyura (hari ke - 10 Muharram) adalah sunnah muakkad.

2. Abu Qatadah ra. berkata, "Rasulullah saw. ditanya tentang puasa 'Asyura, beliau menjawab, 'Dapat menghapus dosa setahun sebelumnya." (h.r. muslim) hadits nomor 1253 Kitab Riyadhus Sholihin.

Pelajaran Hadits
Hadits ini menjelaskan keutamaan puasa 'Asyura.
3. Ibnu Abbas ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Seandainya aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku benar-benar akan berpuasa pada hari kesembilan (dari bulan Muharram)." (h.r. muslim) hadits nomor 1254 Kitab Riyadhus Sholihin.

Pelajaran Hadits 
- Kita disunnahkan berpuasa Tasu'a dan 'Asyura.
- Orang - orang Yahudi juga berpuasa 'Asyura. Oleh karena itu, untuk membedakan dengan mereka, Rasulullah menambahkan puasa Tasu'a.

disalin dari kitab Syarah & Terjemah Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi
yang ditulis oleh DR. Mustofa Said Al-khin; Dr. Mustofa Al-Bugho, Muhyidin Mistu; Ali Asy-Syirbaji; dan Muhammad Amin Luthfi.


SINTA YUDISIA*
Penulis, Relawan BSMI, tinggal lima hari di Khan Younis- Gaza 2010

Masih segar dalam ingatan peristiwa Cast Lead di akhir 2008 yang menyatukan hati seluruh Muslimin di dunia untuk turut melawan tindakan aneksasi kolonial paling tak masuk akal dalam sejarah. Israel menjatuhkan bom yang jelas-jelas dilarang dalam konvensi Jenewa--bom fosfor.
Bom ini bukan hanya meninggalkan jejak mengerikan di langit, menghanguskan tubuh manusia hingga beberapa hari uap panas masih mengepul dari daging yang melelehi tulang, melainkan yang lebih utama, bom fosfor menjadikan Jabaliyah tanah beracun hingga tumbuhan mati, tanah sulit ditanami.
Awal tahun Hijriah 1434, kaum Muslimin dikejutkan oleh kematian Ahmad Jabari, komando Izzuddin al Qossam, sayap militer Hamas. Pembunuhan salah satu tokoh penting di jajaran Hamas ini memang sudah diisyaratkan oleh Shaul Mofaz, mantan kepala staf militer Israel (Republika, 14 /11/2012). Ahmad Jabari dan Ismail Haniyah disebut-sebut sebagai tokoh kunci yang akan merapuhkan Palestina, khususnya Gaza, bila dilenyapkan.
Situasi politik menjelang pemilu 22 Januari tahun depan menjadi alasan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Ehud Barak untuk mencari muka di kalangan rakyat dengan menghantam musuh paling oposisional. Menjadikan Suriah, Tunisia, atau bahkan Mesir sekali pun sebagai musuh, tak sedramatis ketika menjadikan Palestina sebagai sasaran serangan. Selalu, bila tindakan keras dan arogan terhadap musuh Israel mengemuka, pemilik keputusan mendapat simpati dan suara yang melonjak.
Tindakan Israel tentang permukiman, pendudukan, aneksasi, blokade, menyelisihi perjanjian membuat geram banyak pihak. Reaksi keras muncul dari warga Israel sendiri yang menolak serangan ke Gaza awal Muharam ini dan tentu saja kaum Muslimin yang mengge- lar sekian banyak aksi di dunia maya. Hashtag beragam muncul di twitter: SavePalestine, prayforgaza, savegaza, dan masih banyak lagi.
Lembaga zakat dan lembaga kemanusiaan pun bersegera menggalang dana. Berita-berita keadaan terkini Gaza mengalir cepat lewat media sosial. Relawan bergerak dari nurani kemanusiaan terdalam.
Legiun tanpa nama atau dikenal sebagai hacktivist ikut memberikan suara dukungan bagi Gaza. Didukung kepiawaian mereka dalam TI, kelompok ini menjadi prajurit cyberyang andal saat media lain tersendat memberitakan kondisi kritis terkini. hacktivist adalah sebutan bagi sekelompok orang--mirip prajurit sehingga disebut legiun--yang mampu menembus keamanan dunia maya. Sasarannya cenderung politis; kehadirannya dibenci, tapi juga dinanti.
Untuk saat ini, salah satu hacktivist yang memberitakan menit per menit kondisi Gaza adalah akun dengan sebutan AnonymousPress. Rajin meng-update informasi, memberi panduan bagaimana cara berkomunikasi saat listrik diputus oleh Israel--lewat komunikasi radio yang sudah sangat lama ditinggalkan--juga mengunggah foto-foto. Akibatnya, mereka juga mendapatkan sumpah serapah dari kelompok pro-Israel.
Everything is fair in love and war, kredo itu boleh jadi dipegang Israel. Apa pun halal dilakukan bila menyangkut perang melawan Palestina. Joe Sacco melaporkan pandangan mata bagaimana tentara Israel menginterogasi anak Palestina tanpa mengindahkan hukum kemanusiaan konvesi Jenewa. Bila Palestina membalas, itu kejahatan. Bila Israel menyerang, itu pertahanan.
Cast Lead 2008-2009 digelar dalam keadaan jauh dari kondisi adil, imbang, dan bermartabat. Gaza terblokade, listrik sulit, pasokan makanan dan obat minim. Satu-satunya yang membuat masyarakat bertahan adalah keper- cayaan mereka kepada Tuhan dan bersyukur, kepada pemerintahan.
Usai Cast Lead, Gaza bangkit cepat. UCAS, salah satu universitas di Gaza City mampu mendirikan kembali bangunan enam tingkat dengan menggunakan batu, semen, dan besi-besi yang hancur. Tambak ikan berkolam-kolam di Asdaa land, diikuti produksi susu. Kebun zaitun dan tiin terpelihara, begitu pun timun, tomat, dan jeruk. Perempuan-perempuan disiapkan untuk terdidik dan terlatih tampil.
Penulis didepan kantor PM Ismail Haniyah
yg sekarang sudah hancur lebur terkena rudal Israel
Nyaris setiap keluarga di Palestina harus merelakan anggota lelaki--tulang punggung keluarga--untuk terpenjara, cacat, atau terbunuh. Warga Gaza, termasuk anak-anak, memiliki ambisi besar untuk mampu menghafalkan Alquran di usia muda. Selain itu, warga Gaza juga tak kalah cerdas dibanding orang Yahudi.
Dukungan para relawan yang terus bergelombang menjadi bahan bakar bagi Palestina untuk terus bertahan, sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa bukan hanya Israel yang memiliki sekutu. Prajurit cyber bersiap mengadang tindakan merugikan Israel.
Bila Israel masih merasa menang, ada baiknya kita merenungkan akhir Yitzhak Shamir, perdana menteri ketujuh. Saat Shamir menjabat sebagai menteri luar negeri, dengan Menachem Begin sebagai perdana menteri, ia diduga terlibat dalam pembantaian keji Shabra Shatila 1982 di kamp pengungsi Libanon. Tahun 2004, Shamir menderita alzheimer parah yang membutuhkan dana pengobatan besar. Pemerintah Israel lepas tangan dan Shamir hidup memilukan hingga mati pada 2012. []
*REPUBLIKA (Opini, 19-12-2012)


[detikcom] Jakarta - Daripada menyerang situs Israel dengan membabi buta, sejumlah hacker di Indonesia mengaku lebih memilih untuk 'berjihad' di Palestina.
Jihad di sini sudah pasti bukan bertempur dengan senjata api atau sejenisnya, namun para peretas Tanah Air berjanji akan membuat warga Palestina agar bisa terus berkomunikasi di dunia maya.
"Dapat tugasnya cuma membuat jalur koneksi internet di Palestina tetap hidup," pengakuan salah satu hacker Indonesia kepada detikINET, Senin (19/11/2012).
Seperti diketahui bahwa sebelumnya Israel telah memutuskan koneksi internet di jalur Gaza. Alhasil, warga sekitar seakan terisolasi dari dunia luar untuk mendapatkan informasi terkini.
Melihat kondisi tersebut, ada sekelompok hacker yang dengan sukarela membuat jalur intenet dengan jaringan dial-up. Tapi hal ini pun dirasa belum cukup, karena selain tidak aman, akses melalui jalur tersebut tergolong sempit.
Kini, para kelompok hacker pun terus mencari cara agar warga Palestina bisa online seperti sedia kala.
"Jalur FO (fiber optik) dari Turki ke Palestina sudah diblokir Israel, jadi terpaksa harus meretas jalur baru, dan itu adalah jalur yang digunakan oleh bank Israel," ungkap hacker yang pernah menerobos jaringan NASA tersebut.
Sebelumnya, hacker Indonesia menyatakan untuk tidak ikut terlibat dengan aksi cyberwar yang dicetuskan Anonymous terhadap Israel. Tetapi melihat kondisi Palestina yang semakin memprihatinkan, sepertinya para peretas lokal berubah pikiran.
"Finally tim indonesia memutuskan ikut serta, wish me luck," tutup hacker yang tidak ingin disebutkan identitasnya itu.




Mahfudz Siddiq
@MahfudzSiddiq
Ketua Komisi I DPR RI


  1. Kenapa Zionis Israel serang Gaza?  (1) Ini ritual rutin jelang Pemilu Israel. Cara galang dukungan politik, khususnya rezim Netanyahu.

  2. (2) Wujud kepanikan zionis Israel thd daya survive masy Gaza dan menguatnya kemampuan militer Hamas.

  3. (3) Menguji sikap politik Mesir sekaligus memancing campur-tangan militernya. Jika terjadi, opini akan diputar-balikkan.

  4. Keterlibatan militer Mesir akan dipakai Israel mendorong integrasi Gaza dgn Mesir dan dijadikan satu front oleh Israel.

  5. Lalu dimulai skenario memisahkan kesatuan Gaza dari Palestina, shg tersisa Tepi Barat di bawah dominasi Fatah.

  6. Menjadikan Mesir dan Gaza dlm satu front dimaksudkan untuk mulai hancurkan pusat kekuatan politik Ikhwanul Muslimin di kawasan tsb.

  7. Zionis Israel akan tekan AS dan Obama untuk balik menekan Mesir. Ini akan jadi ujian Israel thd kebijakan politik Obama.

  8. (4) Serangan zionis Israel ke Gaza juga untuk alihkan perhatian atas proposal Palestina jadi state-observer di PBB.

  9. Jika skenario Israel tahap 1 sukses, maka tinggal lanjutkan skenario serupa thd Tepi Barat.

  10. Zionis Israel akan merekayasa alasan menyerang Tepi Barat secara militer.

  11. Lalu Israel akan memancing keterlibatan Yordania yg juga jadi basis politik Hamas di pengasingan.

  12. Tepi Barat dan Yordania lagi2 akan dijadikan satu front dan didorong integrasinya.

  13. Tangan AS akan tetap dipakai paksa untuk dukung skenario ini. Dan akan lebih mulus jika rezim Netanyahu tetap berkuasa.

  14. Jadi skenario besarnya adalah melenyapkan eksitensi Palestina sebagai bangsa dan negara merdeka.

  15. Ingat bhw pandangan ideologis dan politis zionisme adalah mendirikan Imperium Israel Raya di atas tanah Palestina dan sekitarnya.

  16. Namun kendala pertama yg dihadapi Israel saat ini adalah perlawanan balik Hamas yg di luar dugaan.

  17. Brigade Al-Qassam, unit militer Hamas tlah mampu kembangkan kekuatan persenjataan dan operasi militernya yg jangkau Tel Aviv.

  18. Sikon ini akan picu kepanikan dan resistensi warga Yahudi thd aksi militer Netanyahu.

  19. Mesir pun bereaksi cerdas dgn menuntut gencatan senjata tapi tetap buka perbatasan di Rafah.

  20. Netanyahu bingung merespon tawaran (damai) Mesir krn bukan itu reaksi yg diharapkan.

  21. Diamnya Mahmud Abbas menunjukkan ide rekonsiliasi Fatah-Hamas masih sulit. Ini justru dinikmati Israel.

  22. Jadi benih pemilahan Tepi Barat dan Gaza sbg skenario antara zionis Israel diam2 didukung unsur internal Palestina.

  23. Lalu bgm dunia menyikapi hal ini? Pertama, dunia hrs trus dorong rekonsiliasi Fatah-Hamas sbg aktor politik utama Palestina.

  24. Kedua, perkuat akses dan koneksitas masy Palestina di Tepi Barat dan Gaza sbg satu entitas.

  25. Ketiga, negara2 dunia hrs perkuat eksistensi negara Palestina dgn buka hub diplomatik dan buka perwakilan di Tepi Barat dan Gaza.

  26. Keempat, negara2 dunia jg hrs dorong PBB terima proposal Palestina sbg state-observer.

  27. Kelima, negara2 dunia lakukan politik isolasi dan alienasi thd rezim zionis-imperialis Israel.

  28. Keenam, respon kemanusiaan thd Gaza melalui Rafah. Kehadiran elemen2 sipil kemanusiaan efektif tekan Israel.

  29. Bgm dgn sikap pemerintah Indonesia? Saya masih menunngu kapan pemerintah buka konsul kehormatan di Palestina sbg langkah awal?

DR Agus Setiawan
@doktoragus



Alasan-alasan Syar'i mengapa Kita Peduli Palestina…
  1. Alasan pertama: shalat 5 waktu diwajibkn saat Mi'raj dari Masjidil Aqsa ke langit.Ini berarti al-Aqsa begitu melekat dg kewajiban harian muslim.

  2. Alasan kedua: Nabi saw rutin membaca surat al-Isra pada malam hari. Seolah-olah Nabi saw tak cukup mengingat Palestina dg shalat 5 waktu.

  3. Alasan ketiga: Demikian banyak para nabi yg bersinggungan dg bumi Palestina. Ada yg lahir, tinggal atau wafat disana.

  4. Alasan keempat: Saat Abu Bakar ra dilantik jadi khalifah, beliau banyak hadapi masalah internal negara. Tapi beliau tetap melanjutkan mengirim tentara yg telah disiapkan Nabi saw dipimpin oleh Usamah bin Zaid ra. Dengan harapan bahwa semoga dg bantu masalah luar negeri, Allah akan bereskan masalah dalam negeri.



*dikutip dari twit @doktoragus

ikadikobar.blogspot.com - Kita semua pada umumnya adalah produsen dan konsumen sekaligus. Kita memproduksi barang atau jasa A, dan membutuhkan produk barang atau jasa B. Dalam proses konversi antara yang kita produksi A menjadi yang kita butuhkan B inilah dibutuhkan medium of exchange – yaitu uang. Sayangnya uang yang kita pakai untuk medium of exchange selama ini sangat tidak efisien.

Kalau kita memproduksi jagung dan kita butuh beras setahun kemudian, kehilangan proses penukaran ini bisa mencapai sekitar 9 % di Indonesia – yaitu angka inflasi rata-rata per tahun bahan pangan selama 5 tahun terakhir.

Hal yang sama terjadi pada skala negara, kita memproduksi gas, emas, hasil hutan dlsb., pada saat yang bersamaan kita butuh pesawat terbang, computer, mesin-mesin pabrik dlsb. Produksi kita dijual dan kita menerima Dollar untuk digunakan membeli barang-barang yang kita butuhkan.

Karena ada jeda waktu antara kita menjual produk dan membeli kebutuhan, selama jeda waktu tersebut Dollar simpanan kita (cadangan devisa) terus mengalami penurunan. Terhadap kambing (yang setara emas) misalnya, Dollar menurun daya belinya 18 % per tahun rata-rata selama 10 tahun terakhir.

Lantas bagaimana agar dalam proses menukar produk kita dengan produk yang kita butuhkan tersebut tidak terjadi in-efficiency yang begitu nyata ?, jawabannya ya tidak menggunakan uang yang rentan terhadap in-efficiency tersebut (baca inflasi).

Cuma masalahnya adalah menyimpan kambing tidak semudah menyimpan uang, menjual kambing juga tidak semudah membeli barang dengan uang. Apa solusinya ?, itulah dibutuhkan pasar sehingga barang atau komoditi apapun dapat dipertukarkan dengan cepat dan mudah.

Pasar juga membutuhkan satuan nilai (unit of account) agar satu barang-mudah ditukar dengan barang lain dengan nilai yang sesuai untuk masing-masing barang. Unit of account seharusnya juga standard dan bernilai relatif tetap terhadap barang lain. Kalau 1 unit of account 10 tahun lalu cukup untuk membeli kambing, sekarang juga harus cukup.

Apakah ini bisa terjadi bila unit of account-nya Rupiah, Dollar dlsb ?. Statistik menunjukkan tidak, karena harga kambing melonjak sampai sekitar 5 kali selama 10 tahun terakhir saja bila dibeli dengan Rupiah maupun Dollar. Yang terbukti stabil selama 1400 tahun lebih adalah emas atau Dinar – maka Dinar itulah sesungguhnya unit of account atau timbangan yang adil itu.

Bagaimana menyikapi Dinar yang nilainya terlalu besar untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti telur , sayur, beras dlsb. ?. Timbangannya tetap timbangan yang adil, tetapi nilainya bisa saja dipecah menjadi unit yang sangat kecil misalnya 1 ¢¢ ( dibaca 1 sen-sen) atau 1/10,000 Dinar.

Bagaimana mencetak koin dengan satuan 1/10,000 Dinar atau 1 ¢¢ atau koin emas seberat 0.000425 gram itu ? Jawabannya ya tidak harus dicetak !. Berbagai teknologi yang ada di jaman ini bisa dengan mudah menggantikan fungsi koin 1 ¢¢ tersebut. Tinggal emasnya dititipkan di sebuah institusi yang terpercaya (Trusted Third Party), penggantinya bisa kupon, digital record dlsb.

Dalam sejarah Islam, institusi yang menerima titipan emas tersebut disebut al-Sharf – dan ‘kupon’ yang diberikan untuk dapat ditukar kembali dengan emas – bahkan di negeri yang jauh – disebut al-Suftajah.

Melalui keberadaan al-Sharf dan produknya al-suftajah tersebutlah dahulu negeri-negeri Islam yang sangat luas wilayahnya-pun memiliki system medium of exchange yang efisien dan tidak tergerus oleh inflasi. Medium of exchange ini berdasarkan komoditi, karena inilah medium of exchange yang disebut dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh hampir seluruh perawi itu.

“(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai”. (HR. Muslim)

Sayangnya negeri yang nampaknya paling memahami kekuatan komoditi sebagai store of value (penyimpan nilai), unit of account (satuan nilai) dan sekaligus juga medium of exchange (alat tukar) itu kini bukan negeri muslim – tetapi malah negeri China.

Chinalah sekarang negeri yang paling agresif mengumpulkan berbagai komoditi baik oleh pemerintah atau swasta/rakyatnya, baik itu emas, perak, tembaga sampai komoditi-komoditi yang sangat khusus – dibutuhkan dalam perlombaan teknologi jaman ini tetapi tidak banyak yang bisa memproduksinya.

Bahkan di negeri-negeri lain nama komoditi tersebut belum dikenal. Kalau saya sebut neodymium, europium, dan cerium misalnya – pasti belum banyak yang mengetahui benda apa itu.

Itulah kekuatan China di bidang komoditi, karena hanya Chinalah yang menguasai rare earth elements ini. Neodymium diperlukan untuk memproduksi magnet permanent dan teknologi laser, Europium diperlukan untuk teknologi fiber optic dan LED lights, penerangan hemat energy kedepan. Cerium dibutuhkan untuk fluid-cracking catalyst yang bisa meningkatkan hasil dan mengurangi energy yang dibutuhkan dalam industri perminyakan.

Untuk komoditi pangan, China pula yang telah memperkenalkan dioscorea flour – yang tidak lain sebenarnya adalah tepung gembili yang kita-pun sesungguhnya bisa memproduskinya dalam skala besar – bila kita ada awareness ke sana.

Bagaimana China bisa unggul dalam komoditi-komoditi tersebut di atas ?, karena mereka tahu bahwa komoditi-lah uang yang sesungguhnya itu. Sementara negeri-negeri lain mengira bahwa uang itu adalah Rupiah, Dollar dlsb. yang nilainya mudah sekali terdistorsi turun.

Umat ini sesungguhnya telah diberitahu oleh Rasul-nya bahwa jual beli itu dengan komoditi sebagaimana hadits shahih di atas, tetapi ketika petunjuk itu diabaikan – maka penguasaan ekonomi dunia inipun tidak ditangan umat ini. Penguasaan ekonomi itu ditangan yang menerapkan petunjuk tersebut ! Wa Allahu A’lam.

Pada musim dingin di awal tahun 1999 saya naik kereta sekitar satu jam perjalanan dari Zurich ke Basel, sebuah kota kecil yang dingin di Swiss. Meskipun dia adalah kota ke 3 terbesar di Swiss – jumlah penduduknya hanya kurang dari 170,000 orang – tidak lebih dari penduduk satu kecamatan dimana saya tinggal di Depok. Kota kecil yang dingin itu, bisa jadi akan memanaskan keuangan dunia awal tahun 2013 nanti. Apa yang terjadi di sana ?

Di kota kecil Basel ini ada sekelompak orang yang sangat exclusive, sangat rahasia dan sangat perkasa di dunia keuangan. Markas mereka konon di design memiliki perlindungan yang cukup menghadapi perang nuklir sekalipun. Mereka adalah bank sentral-nya bank sentral dunia. Apa yang mereka katakan menjadi kerangka kerjanya bank-bank sentral dunia.

Mereka sangat irit ‘bicara’ , mereka baru ‘bicara’ tiga kali sejak pembentukannya 38 tahun lalu (1974). Tahun 1988 mereka ‘bicara’ tentang Basel I, tahun 2004 mereka ‘bicara’ lagi tentang Basel II dan di tahun 2012 ini mereka ‘bicara’ tengantang Basel III. ‘Pembicaraan’ mereka yang irit inipun cukup membuat perbankan dunia gonjang-ganjing untuk menyesuaikan dengan ‘pembicaraan mereka’.

Karena saya bukan orang bank, saya tidak terlalu tertarik untuk mendalami apa yang mereka ‘bicarakan’ kecuali terhadap satu hal yaitu emas. Pada Basel I dan Basel II mereka sengaja mendiskreditkan emas sebagai asset tingkat III – bukan asset yang sesungguhnya. Kalau dijadikan cadangan hanya dinilai separuh dari harga pasarnya. Saat itu yang dianggap asset tingkat I  atau uang yang sesungguhnya adalah government bond, mortgage backed securities,  cash dan sejenisnya.

Tetapi banyak sekali hal terjadi dalam beberapa tahun terkhir, asset yang semula mereka anggap tingkat I seperti mortgage  - kini banyak yang malah menjadi asset yang sangat beracun (toxic assets). Bahkan banyak pula government bond di negara-negara Eropa yang hancur mendekati nilai sampah (junk). Lantas kemana mereka akan berpaling ?

Kemana lagi kalau bukan emas ?, asset yang mereka coba discredit-kan selama hampir empat dasawarsa terakhir ini ternyata malah berhasil membuktikan dirinya sebagai asset yang tetap perkasa di segala cuaca, mampu melalui krisis demi krisis tanpa kehilangan nilainya yang sesungguhnya.


Maka mereka-pun harus mengakui keperkasaan emas ini dalam pembicaraan mereka terakhir yang disebut Basel III. Basel III yang rencananya mulai diimplementasikan awal 2013 nanti, menempatkan emas pada posisi yang seharusnya yaitu asset tingkat I.

Dengan pengakuan ini, maka sebenarnya secara diam-diam emas telah kembali ke system keuangan dunia, emas menjadi asset yang sesungguhnya dan dapat digunakan sebagai cadangan dengan 100 % nilai pasar.


Apa ini dampaknya ?, bayangkan bila bank-bank sentral dunia mulai berburu emas kembali karena pilihan cadangan mereka yang kini head to head antara bond, mortgage, emas dlsb. Ketika emas dilihat sebagaimana seharusnya, bersaing secara bebas dengan asset-asset yang lainnya – maka dengan mudah emas ini akan menjadi asset yang setidaknya pasti tidak kalah menarik dibandingkan dengan berbagai asset lainnya seperti bond, mortgage dan bahkan dibandingkan dengan cash sekalipun.

Dibuka dengan ‘pembicaraan’ di Basel III ini, dunia toh akhirnya akan mengakui kembali bahwa emas itulah uang yang sesungguhnya. Uang yang mampu mempertahankan nilai ketika yang lain menjadi racun (toxic assets) atau menjadi sampah (junk). Uang yang tahan segala cuaca !.

Maka dari kota kecil yang dingin, sekelompok orang-orang yang dingin dan irit bicara tersebut di atas dengan suka ataupun tidak suka harus mengakui bahwa akses masyarakat pada nilai assets yang sesungguhnya itu tidak bisa mereka setir.  Pengakuan mereka  ini-pun bisa jadi akan ‘memanaskan’ system keuangan dunia dan bisa menjadi pemicu bull market berikutnya untuk kenaikan harga emas di tahun-tahun mendatang. Wa Allahu A’lam.

Cuban-free-illiteracy

Kuba, negeri kecil di Karibia, punya cerita sukses di bidang pendidikan. Predikat ini tentu sangat membanggakan. Banyak lembaga internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), memuji kesuksesan tersebut. Banyak negara di dunia juga belajar dari kesuksesan pendidikan Kuba.

Pendidikan dasar universal, yang juga diadopsi oleh PBB pada tahun 2000, sudah dipraktekkan dengan baik oleh Kuba. Catatan PBB menyebutkan, 100% orang Kuba berusia 15-24 (laki-laki dan perempuan) sudah melek huruf. Selain itu, 96,2% anak-anak usia sekolah dasar sudah terdaftar. Dan, pada tahun 2004, 92,6% anak-anak itu berhasil menyelesaikan pendidikan dasar. Bahkan, dalam peringkat UNESCO, Kuba berada di urutan ke-10 dari 125 negara dalam hal melek huruf.

Fidel Castro, yang berkuasa di Kuba selama empat dekade, faham betul dengan nasehat bapak pembebasan Kuba Jose Marti: pendidikan adalah satu-satunya cara untuk pembebasan. Bagi Castro, rakyat tidak akan bisa melihat jalan pembebasan jikalau dirinya masih dibelenggu oleh buta-huruf dan kebodohan.

Gambaran Kuba sebelum revolusi sangat memprihatinkan. Sebanyak 50% anak-anak di Kuba tidak pernah menyentuh bangku sekolah. 72% anak-anak berusia 13-19 tahun tidak bisa melanjutkan sekolah ke sekolah menengah (setingkat SMP). Dan satu juta orang rakyat Kuba buta-huruf.

Berbicara di forum PBB, tahun 1960, Fidel Castro menjanjikan, “tahun depan rakyat kami mengusulkan meluncurkan perang habis-habisan terhadap buta-huruf, dengan tujuan ambisius mengajari setiap orang buta-huruf untuk membaca dan menulis.”

Sembilan bulan kemudian, tepatnya tahun 1961, lebih dari satu juta orang Kuba dimobilisasi untuk ke seantero negeri guna membebaskan rakyat dari buta-huruf. Saat itu, 707.000 rakyat belajar membaca dan menulis. Alhasil, dalam waktu sangat singkat, buta-huruf berkurang dari 21% menjadi 3,9%.

Seorang Sutradara film, Catherine Murphy, berhasil mendokumentasikan perjuangan pemberantasan buta-huruf Kuba itu dalam film “Maestra”. Ia memotret antusiasme remaja-remaja putri mengabdikan hidupnya bagi pembebasan sebangsanya dari buta-huruf dan kebodohan. Mereka, yang sebagian besar meninggalkan keluarganya, pergi ke desa-desa mengajari kaum tani bagaimana membaca dan menulis.

Inilah awal dari program Kuba yang disebut  “Yo sí Puedo”, (Yes, I can). Program ini menggunakan metode pedagogis-kritis. Di masanya, pada tahun 1961, para pengajar atau instruktur buta-huruf tinggal di tengah-tengah rakyat. Mereka tinggal dan tidur di rumah-rumah petani. Siang hari, mereka turut bekerja di sawah atau ladang. Dan, pada sore hari, mereka mulai membuka kelas untuk belajar.

Di mana-mana, di ladang-ladang, di pabrik-pabrik, dan di mana saja, berkumandang slogan: setiap orang Kuba adalah guru, dan setiap rumah adalah sekolah. Seluruh rakyat Kuba termobilisasi untuk membebaskan negerinya dari buta-huruf.

Program “Yo sí Puedo”, (Yes, I can) sangat sukses. Program ini kini diadopsi oleh lebih 30 negara di dunia, seperti di Meksiko, Argentina, Nikaragua, Venezuela, Haiti, Brazil, Uruguay, Dominika, Mozambique, Guinea Bissau.  Di Australia dan Selandia baru, program ini juga diadopsi untuk memberantas buta-huruf di kalangan Aborigin. Saudara-saudara kita di Timor Leste juga mengadopsi program ini untuk memberantas buta-huruf.

Pada tahun 1961, pemerintahan revolusioner Kuba juga menasionalisasi semua sekolah dan universitas swasta. Lalu, Kuba juga mulai menggratiskan seluruh pendidikan untuk seluruh rakyatnya. Che Guevara, legenda Revolusi Kuba, bermimpi mengubah Kuba menjadi semacam “sekolah besar”.

Pemerintah Kuba tak pernah pelit dalam urusan pendidikan. Sekalipun pendapatan negeri ini sangat terbatas, tetapi Kuba konsisten menggunakan anggaran negaranya untuk mencerdaskan kehidupan rakyatnya.

Lavinia Gasperini, yang menulis laporan mengenai pendidikan Kuba di PBB, pada tahun 2000, mengatakan, keberhasilan pendidikan di Kuba menunjukkan bahwa pendidikan bermutu bukan sekedar permasalahan pendapatan nasional, tetapi bagaimana pendapatan itu dimobilisasi.

Lavinia Gasperini mencatat beberapa keunggulan pendidikan di Kuba: pendidikan gratis dan universal; tingkat melek huruf yang nyaris sempurna; representasi perempuan proporsional di semua tingkatan, termasuk pendidikan tinggi; kualitas yang tinggi dan merata di semua jenjang dan seluruh negeri; memberi landasan yang kuat dan ilmiah bagi pengembangan pengetahuan, khususnya di bidang kimia dan kedokteran.

Orang-orang tak habis fikir, Kuba, negeri miskin yang hanya punya pendapatan per-kapita $2.800 (ppp) itu, bisa menyaingi standar pendidikan di negara maju, seperti AS ($37.800), Kanada ($29.700), dan Inggris ($27.700).

Sudah begitu, seluruh lembaga pendidikan di Kuba adalah pendidikan umum (negeri). Kuba konsisten mengerahkan 6,7 persen dari GNP-nya untuk pendidikan. Bahkan, ketika Kuba berhadapan dengan masa sulit, yakni ketika Uni-Soviet kolaps di tahun 1990-an, negara ini justru memilih memotong anggaran militernya untuk pendidikan.

Pada tahun 1959, sebelum meletusnya revolusi Kuba, jumlah Universitas cuma tiga buah. Itupun hanya menampung 15 ribu orang. Sekarang ini, jumlah Universitas di Kuba suda mencapai ratusan. 11% ilmuwan Amerika Latin mendapat gelar PhD-nya di Kuba.

Sejak tahun 2000 lalu, Kuba mencanangkan “Universitas Untuk Semua Orang”, yang menargetkan pembukaan ruang klas universitas di setiap provinsi dan kotamadya. Alumnus Universitas di Kuba bebas “utang”. Ini berbeda sekali dengan alumnus Universitas di negeri-negeri maju, seperti AS, yang sekarang ini terperangkap dalam “debt student loan”.

Kuba mengajarkan kepada kita, bahwa rintangan sebesar apapun, termasuk soal anggaran, tidaklah cukup menjadi alasan untuk mencegah sebuah bangsa memajukan dan mencerdaskan rakyatnya. Sekalipun berpuluh-puluh tahun mengalami serangan permanen dari imperialisme AS, bahkan ekonominya terus dilumpuhkan lewat sabotase dan embargo, Kuba berhasil membebaskan rakyatnya dari kebodohan.

Anna Yulianti- pemerhati masalah sosial, perempuan dan Hak Azasi Manusia. Tinggal di Jakarta.

Kawan-Kawan-Revolusi
Tetap Merdeka!
Kedaulatan Negara dan Bangsa Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945 akan kami pertahankan dengan soenggoeh-soenggoeh, penoeh tanggoeng djawab bersama, bersatoe, ikhlas berkorban dengan tekad “Merdeka atau Mati!!!”
Sekali merdeka tetap merdeka!
Soerabaja, 9 November 1945, pukul 18:46

ikadikobar.blogspot.com - Demikian isi sumpah yang diucapkan oleh arek-arek Surabaya di markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawa Timur Jl. Pregolan, Surabaya. Sumpah ini sebagai ‘jawaban’ atas ultimatum Mayor Jenderal E. C. Mansergh, agar rakyat kota Surabaya menyerah kepada Sekutu. Mereka yang mengucapkan dan menandatangani sumpah ini adalah wakil-wakil TKR Jawa Timur, Pemuda Republik Indonesia (PRI), Barisan Berani Mati (BBM), Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), serta kesatuan-kesatuan laskar lainnya. Para pemuda dari kampung-kampung sekitar Jl. Pregolan, seperti kampung Tegalsari, Pelemahan, Kampung Malang, Kedung Doro, Kedung Klinter, Kaliasin, dan Keputran, turut ambil bagian di dalamnya.

Mereka mengucapkan sumpah itu penuh khidmat, dan dalam situasi tegang dan haru, ketika satu divisi pasukan Inggris (kurang lebih 24 ribu serdadu) telah merapat di pelabuhan Tanjung Perak, dan siap menyerbu masuk kota Surabaya dengan kekuatan penuh. Mereka tak tahu, dan tak mau tahu, bagaimana nasib mereka besok hari. Yang ada hanya tekad “Merdeka atau Mati!”. Malam itu juga para pemuda bersenjata mengerahkan tenaga untuk membentuk benteng-benteng pertahanan dalam segala keterbatasan.

Tanggal 10 November 1945, sesuai ultimatumnya, mulai pukul 06.00, kota Surabaya dihujani tembakan meriam dari laut, dimulai dari bagian utara ke selatan kota. Meriam dan artileri berat dari kapal-kapal perang memuntahkan bom-bomnya tanpa ampun. Korban mulai berjatuhan, baik dari kalangan rakyat sipil maupun pemuda bersenjata. Markas Polisi Tentara Keamanan Rakyat (PTKR), yang letaknya saat ini dijadikan lokasi Tugu Pahlawan, hancur lebur pada hari itu juga. Tank-tank dan pasukan infantri Inggris segera menyusul turun ke daratan. Tapi gerak maju mereka masih berhasil dibendung arek-arek Surabaya di Jl. Gresik, Kabelan, Kalimas Timur, Nyamplungan, dan Pegirikan. Pertempuran terus berlangsung sampai malam hari, dan dilanjutkan lagi keesokan harinya, esok sesudahnya, dan seterusnya, sampai tiga minggu lamanya.

Baru pada tanggal 2 Desember 1945, kekuatan massa rakyat bersenjata melakukan langkah mundur strategis ke luar kota Surabaya, ke sekitar Mojokerto dan Sidoarjo. Di kemudian hari, seorang tentara Inggris, Mayor R.B. Houston, menulis: “Orang-orang Indonesia hanya bisa didesak ke luar dari Surabaya setelah gempuran dahsyat tembakan meriam dan pemboman oleh angkatan luat dan pertempuran sengit selama 21 hari.”
Pertempuran ini melibatkan sekitar 140 ribu pemuda bersenjata, terbagi dalam sejumlah kesatuan, diantaranya 8 bataliyon TKR, 4 bataliyon TKR Laut, 2 bataliyon Polisi Istimewa dan Polisi Istimewa Khusus, 1 batalion TKR Pelajar, 15 bataliyon Pemuda Republik Indonesia (PRI), 1 batalion BPRI, 1 batalion Hizbullah, dan ratusan kompi tak bernama dari para “pemuda kampung” yang jumlahnya tiga kali lebih besar dari total 32 bataliyon yang ‘bernama’atau ‘beridentitas’ tersebut di atas.

Mereka bertempur dengan semangat, keberanian, keteguhan hati, kerelaan berkorban tanpa nama dan tanpa wajah (nameless dan faceless), menghadapi pasukan Inggris yang dilengkapi persenjataan modern, pesawat tempur, tank, panser, dan peralatan komunikasi yang jauh lebih canggih, serta pengalaman tempur yang lebih banyak. Satu-satunya alat komunikasi yang digunakan oleh pemuda Indonesia adalah radio, dalam hal ini Radio Pemberontrak Republik Indonesia yang saat itu dipimpin oleh Bung Tomo (Sutomo). Namun radio ini sama sekali bukan digunakan untuk mengorganisasikan pertempuran, melainkan untuk mengobarkan semangat juang, dan menyerukan mobilisasi bantuan (logistik maupun pasukan) dari daerah-derah luar Surabaya. Sementara rakyat tidak bersenjata, terutama kaum perempuan, membantu para pemuda secara gotong royong, mendirikan dapur umum, menyediakan makanan di depan rumah, menyediakan pakaian, bantuan medis, dan sebagainya.

Agustus ke November
Pertempuran Surabaya merupakan puncak dari rentetan kejadian sejak bulan Agustus ketika kemerdekaan Indonesia diprokalmasikan oleh Sukarno-Hatta mewakili bangsa Indonesia. Apa yang terjadi pada tenggang waktu tersebut tersebut menjelaskan sebuah revolusi yang sebenarnya; selain terjadi transformasi kekuasaan, sebagaimana diamanatkan dalam teks proklamasi yang sangat singkat itu, juga terjadi transformasi kesadaran dan kejiwaan yang melanda hampir seluruh rakyat.
Dari Agustus sampai November 1945, rakyat Surabaya, lebih khusus para pemudanya, telah melalui suatu proses, kejadian demi kejadian, yang meneguhkan penolakan mereka atas kembalinya kaum penjajah.

Aksi penurunan bendera Belanda di Hotel Yamato Jl. Tunjungan (sekarang Hotel Majapahit) adalah puncak dari permulaan, sejak mereka mendengar proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 malam hari. Provokasi atau tindakan arogan pengibaran bendara oleh Ploegman, seorang Belanda anti-pribumi yang ditunjuk sebagai walikota oleh NICA, telah memicu perlawanan yang semakin besar. Sejak saat itu, 19 September 1945, timbul kesadaran yang semakin meluas, bahwa penjajah Belanda akan kembali, dan kehadiran pasukan Inggris dengan selubung RAPWI (Rehabilitation of Prisoners of War and Internees) tidak dapat dipercaya.

Tanggal 21 September 1945, para pemuda yang terhimpun dalam Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang dipimpinn Soemarsono, mengadakan Rapat Raksasa di lapangan Tambaksari. Menurut catatan wartawan saat itu, sekitar seratus lima puluh ribu orang berkumpul dalam semangat gegap gempita. Ini jumlah yang sangat besar berbanding jumlah penduduk Surabaya ketika itu yang sebanyak 520 ribu. Mereka semua menyatakan tekad untuk mempertahankan kemerdekaan dengan slogan “Merdeka atau Mati!”. Dampak dari rapat raksasa ini luar biasa.

Di Jakarta, Rapat Raksasa di lapangan Ikada, 19 September 1945, juga berhasil memobilisasi ratusan ribu massa rakyat. Namun, karena khawatir terjadinya pertumpahan darah, Bung Karno menyerukan massa rakyat untuk pulang dengan tenang. Berbeda halnya di Surabaya, rapat raksasa di Tambaksari, yang telah didahului dengan insiden pengibaran bendara, juga sebelumnya sejumlah insiden bentrokan dengan tentara Jepang, telah mencuat jadi perjuangan fisik yang berkelanjutan. Larangan rapat raksasa oleh Jepang tidak digubris. Bahkan kertas-kertas pengumuman dari penguasa Jepang dirobek-robek dengan amarah oleh rakyat, dan digantikan dengan menempel bendera merah-putih atau slogan-slogan pro Republik.

Perebutan senjata dari tentara Jepang dilakukan lewat perjuangan fisik dan negosiasi “bawah tanah”. Markas-marks pasukan Jepang dikepung oleh pemuda dan rakyat, hingga memaksa mereka menyerahkan senjatanya. Di beberapa tempat pengepungan ini memakan korban yang tidak sedikit, baik dari pihak rakyat pejuang maupun tentara Jepang. Sementara negosiasi “bawah tanah” dilakukan oleh para aktivis pergerakan dengan petinggi militer Jepang menghasilkan sejumlah kesepakatan yang menguntungkan pihak Republik.

Pada tanggal 1 Oktober 1945, dengan jatuhnya Markas Besar Kampetei, kekuatan tentara Jepang dapat dikatakan telah lumpuh. Hampir seluruh senjata sudah jatuh ke tangan rakyat Surabaya. Tanggal 5 Oktober, saat pemerintah RI mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), praktis kekuatan bersenjata yang riil hanya berada di tangan massa rakyat Surabaya. Mereka adalah pemuda-pemuda kampung, tukang becak, buruh, pedagang kecil, pelajar, bahkan kriminal yang baru dilepas dari penjara Kalisosok, dan rakyat biasa yang terpanggil untuk turut berjuang.

Masuknya tentara Inggris ke Surabaya, tanggal 27 Oktober 1945, semakin memanaskan situasi yang ada. Terlebih setelah tentara Inggris menduduki pos-pos di luar kesepakatan dan melakukan sejumlah provokasi penembakan terhadap rakyat. Sekitar dua puluh pos pasukan Inggris dibangun secara terpisah di kota Surabaya. Pelanggaran dan provokasi ini mendapatkan ganjarannya. Rakyat Surabaya melakukan perlawanan hebat. Pengepungan dan pertempuran terjadi selama tiga hari, dari tanggal 28 sampai 30 Oktober. Pada hari berikutnya, Brigadir Jenderal Mallaby terbunuh ketika menjalankan tugasnya sebagai “Biro Kontak” antara pasukan Inggris dan Indonesia.

Tewasnya Brigjen Mallaby itu lah yang dijadikan dalih oleh Inggris untuk mengultimatum rakyat Surabaya. Mereka menuduh pemerintah RI gagal mengendalikan keadaan, membiarkan terjadinya perampokan dan tindakan kriminal. Juga menuduh pemerintah RI menghalang-halangi tugas RAPWI. Dalih. Sekali lagi hanya dalih, karena maksud politik yang sesungguhnya dari Inggris adalah mengembalikan kekuasaan Belanda. Mayjen E. C. Mansergh, yang menggantikan Mallaby, bahkan masih menggunakan nama Hindia-Belanda (bukan Indonesia) ketika mengirimkan surat ancaman kepada Gubernur Suryo (yang tidak diakuinya sebagai Gubernur).

Refleksi kekinian
Sulit membayangkan daya juang atau semangat kepahlawanan 67 tahun lalu di Surabaya itu hadir di zaman sekarang. Lalu apa saja yang bisa kita lakukan untuk kemajuan dan kedaulatan bangsa ini?

Resolusi Jihad Harus Disampaikan ke Generasi Muda

Oleh: Tim dakwatuna.com


 ikadikobar.blogspot.com – Ketua Dewan Pembina Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba), Marwan Jafar, menyatakan bahwa peringatan Hari Pahlawan dan resolusi jihad sangat penting untuk mengungkap fakta sejarah di balik peristiwa 10 November 1945 di Surabaya.
Sebab, Marwan menegaskan, selama ini telah terjadi distorsi sejarah, dan untuk itu resolusi jihad yang menjadi cikal bakal peristiwa 10 November 1945 harus disampaikan ke generasi muda. “Agar mereka bisa mengetahui fakta sejarah yang sebenarnya dan juga agar bisa digunakan sebagai teladan anak cucu kita di masa depan,” kata Marwan dalam siaran pers, Senin (12/11).
Dijelaskan Marwan, berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dilepaskan dari perjuangan dahsyat dan peran besar para ulama dan kaum santri.
Namun, kata dia, sejarah tidak pernah berkata jujur tentang peran laskar santri yang terhimpun dalam Hizbullah maupun laskar kiai yang tergabung dalam Sabilillah, dalam berperang melawan bangsa penjajah.
“Peran kaum santri sangat besar dalam memerjuangkan kemerdekaan negeri ini. Namun sangat disayangkan kenapa sejarah peran kaum santri dalam melawan penjajah tidak banyak diketahui generasi muda bangsa karena sekolah tidak pernah mengajarkannya secara utuh,” ujar Ketua Fraksi PKB di DPR itu.
Berdasarkan sejarah, Laskar Hizbullah berada di bawah komando spiritual KH Hasyim Asy”ari dan secara militer dipimpin oleh KH Zainul Arifin. Adapun laskar Sabilillah dipimpin oleh KH Masykur. Konon, pemuda pesantren dan anggota Ansor NU (ANU) adalah pemasok paling besar dalam keanggotaan Hizbullah. Peran kiai dalam perang kemerdekaan ternyata tidak hanya dalam laskar Hizbullah-Sabilillah saja, tetapi banyak diantara mereka yang menjadi anggota tentara PETA (Pembela Tanah Air). Menurut hasil penelitian Agus Sunyoto, dari enam puluh bataliyon tentara PETA, hampir separuh komandannya adalah para kiai.
Pada peringatan Hari Pahlawan pada tahun ini Gemasaba menyerukan pelurusan sejarah resolusi jihad sebagai wujud penghargaan atas jasa para pahlawan negeri ini.
Ketua Umum DPN Gemasaba, Ghozali Munir, mengatakan. bangsa ini masih belum bisa menghargai jasa para pahlawannya. “Karena terbukti fakta sejarah “resolusi jihad” tidak pernah disampaikan secara utuh dalam buku-buku pelajaran di sekolah dan buku sejarah,” ujarnya.
Peringatan Hari Pahlawan tahun ini, Gemasaba mengundang Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siradj untuk memberikan kuliah umum tentang fakta sejarah resolusi jihad yang menjadi cikal bakal dari peristiwa 10 November 1945 di hadapan 1000 undangan dari berbagai kampus se-Jabodetabek di Wisma Syahida kampus pasca sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ghozali menyayangkan bahwa sejarah yang diajarkan kepada anak-anak di sekolah, tidak mengenalkan peran “Resolusi Jihad” yang dikomandoi oleh KH. Hasyim Asy”ari yang berujung kepada meletusnya peristiwa 10 November 1945.
“Jadi tanpa resolusi jihad tidak akan pernah ada peristiwa dahsyat 10 November 1945 di surabaya” jelas Ghozali.
Perlu diketahui, Hizbullah dan Sabilillah adalah laskar rakyat paling kuat yang pernah hidup di bumi Indonesia. Meskipun dalam sejarah, keberadaan laskar tersebut disisihkan. Buktinya, perjuangan mereka tidak ditemukan dalam museum-museum di Indonesia tetapi malah terdapat di museum negara Belanda.
“Gemasaba PKB mendesak pemerintah agar fakta sejarah resolusi jihad segera dimasukkan dalam kurikulum mata pelajaran di semua sekolah dan perguruan tinggi agar tidak terjadi penyembunyian dan penghianatan fakta sejarah para pahlawan dan syuhada yang telah gugur membela kemerdakaan negeri ini,” pungkasnya. (boy/jpnn)

Topik:

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/24118/resolusi-jihad-harus-disampaikan-ke-generasi-muda/#ixzz2CA5Biw5l

Hukum Sarang Burung Walet


Hukum Sarang Burung Walet
Sarang burung walet.
 
ikadikobar.blogspot.com - Pernahkan mencicipi sup sarang burung walet? Rasanya nikmat dan menyehatkan.

Tidak heran kalau sup jenis ini termasuk makanan kelas elite. Selain sebagai makanan bernilai gizi tinggi, kini sarang burung walet diolah menjadi ramuan obat-obatan serta kecantikan.

Jika dicermati, proses pembuatan sarang burung walet ini sangat unik. Sarang tersebut dibuat dari saliva atau air liur si burung sendiri. Saat terkena udara, air liur yang mengental menjadi kering lalu membentuk sarang.

Sarang burung yang sudah jadi ini dibudidayakan karena di pasaran harganya cukup mahal. Harga per kilogram bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Ada dua jenis sarang burung walet, yakni melalui proses alami di mana burung spesies Coarillacaliafuciphaga ini membuat sarang di gua-gua. Orang sengaja berburu mencari sarang burung walet sampai ke gua-gua.

Tapi, kini ada yang sengaja membudidayakan dengan cara membuat bangunan agar burung walet bersarang di atap. Ketika sarang burung sudah ‘matang’, pemilik bangunan tinggal memanen.

Dari sisi Islam, bagaimana sebenarnya hukum makan sarang burung walet? Bukankah proses pembuatannya menjijikkan karena terbuat dari air liur burung itu sendiri.

Belum lama ini LPPOM MUI membahas tentang hukum sarang burung walet. Di sisi lain, ada perusahaan juga yang minta dibuatkan sertifikasi halal dari sarang burung walet.

Menurut Ir Muti Arintawati, MSi, Wakil Direktur LPPOM MUI, hasil kajian LPPOM MUI pada prinsipnya hukum sarang burung walet dibolehkan. Karena, sarang burung tersebut dihasilkan dari bagian dalam perut burung sehingga tidak ada masalah. “Jadi, telah disepakati kalau sarang burung walet hukumnya halal,” kata Muti.

Namun, yang menjadi perhatian LPPOM MUI, bagaimana proses pembersihan dari sarang burung walet tersebut. Karena tidak menutup kemungkinan, kata Muti, di sarang tersebut tercampur dengan sesuatu yang najis, seperti kotoran burung itu sendiri, mungkin juga lingkungan yang membawa kotoran ke dalam sarang. Pengaruh luar ini yang bisa membuat sarang burung walet menjadi tidak halal.

Oleh karena itu, proses pencucian sarang burung walet harus diperhatikan dengan serius. Jangan sampai ada kotoran yang masih melekat di sarang burung. Karena, kalau sarang burung masih bercampur dengan kotoran menjadi najis, tidak halal untuk dimakan. Sebaliknya, pencucian yang benar-benar bersih halal hukumnya.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa bahan dari sarang burung walet adalah halal. Namun, bisa menjadi haram jika sarang burung tersebut tercampur dengan kotoran.*)

*) Republika.

Kategori : Umum
ikadikobar.blogspot.com - Di awal Orde Baru tahun 1966, konon Indonesia berada di puncak keterpurukannya dengan pendapatan per kapita hanya US$ 200. Selama 32 tahun kemudian dengan tingkat pertumbuhan rata-rata di sekitar 5 % pendapatan per kapita itu tahun 1997 menjadi US$ 900. Lima belas tahun kemudian tahun 2012 sekarang ini pendapatan per kapita kita berada di kisaran US$ 3,250. Benarkah kita telah mengalami peningkatan kemakmuran yang luar biasa ?

Bila Dollar yang menjadi ukurannya sebagaimana dunia mengukur tingkat kemakmurannya, maka betul seolah kita telah mengalami lompatan kemakmuran yang luar biasa – lebih dari 16 kalinya selama 46 tahun ini. Atau kemakmuran penduduk negeri ini berlipat menjadi dua kalinya setiap 11.5 tahun – WOW !

Peningkatan kemakmuran yang luar biasa semacam ini memang terjadi di ekonomi kapitalisme, tetapi umumnya hanya berlaku pada sekelompok kecil masyarakat yang memiliki akses-akses sumber daya ekonomi seperti modal, pasar, ilmu pengetahuan, resources dlsb. Bagi sebagian besar penduduk yang memiliki keterbatasan akses, maka kemakmuran itu sulit menyertainya.

Pemerintah-pemerintah di dunia yang fokus pada pertumbuhan atau peningkatan GDP per capita dalam Dollar, akan tertipu dalam pencapaiannya – karena meskipun dalam Dollar peningkatan pendapatan itu nampak sangat significant – tetapi tidak dalam daya beli yang sesungguhnya, yang sebaliknyalah yang terjadi.

Saya coba konversikan pendapatan-pendapatan tersebut kedalam Dinar atau kambing - karena sepanjang jaman 1 Dinar setara dengan harga 1 ekor kambing yang baik, hasilnya nampak dalam grafik dibawah :


 
Tahun 1966 ketika pendapatan per kapita kita masih di angka US$ 200 , itu setara dengan 42 ekor kambing saat itu. Ketika pendapatan per kapita kita mencapai US$ 900 dalam 32 tahun kemudian tahun 1997, itu setara dengan 20 ekor kambing. Tahun ini, pendapatan per kapita kita meningkat menjadi di kisaran US$ 3,250 , tetapi ini hanya setara sekitar 14 ekor kambing kelas baik atau setara sekitar 14 Dinar saja !

Jadi kemakmuran yang dihitung dengan angka Dollar itu hanya semu semata karena tidak mencerminkan daya beli yang sesungguhnya. Tetapi mengapa seluruh dunia, orang menggunakan angka Dollar untuk melihat tingkat kemakmurannya ?

Pasti bukan kebetulan kalau uang satu Dollar itu bergambar mata satu seperti pada gambar dibawah.


Bukan kebetulan pula kalau umat ini diingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits shahihnya untuk mewaspadai si mata satu ini sebagai berikut : “Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu hal mengenai dajjal ? suatu yang belum pernah dikabarkan oleh seorang nabipun kepada kaumnya : Sesungguhnya dajjal itu buta sebelah matanya, ia datang dengan sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dikatakannya surga berarti itu adalah neraka. Dan sungguh aku memperingatkannya atas kalian sebagaimana Nabi Nuh mengingatkannya atas kaumnya” (HR. Muslim)

Yang disampaikan oleh dunia bahwa kemakmuran itu telah menghampiri kita, karena daya beli kita sudah US$ 8.9 per hari – jauh dari standar kemiskinan dunia yang US$ 2/hari – itu seperti kabar surga tetapi sesungguhnya neraka sebagaimana diungkap dalam hadits tersebut diatas. Neraka karena daya beli riil kita terhadap kambing saja ternyata turun tinggal 1/3-nya (dari 42 ke 14) dari 1966 hingga 2012 ini.

Menariknya dalam hadits tersebut disebutkan bahwa peringatan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tentang dajjal ini  adalah seperti peringatan Nabi Nuh ‘Alaihi Salam terhadap kaumnya. Kita tahu bahwa kaum Nabi Nuh ‘Alaihi Salam yang tidak mengindahkan peringatan nabinya ditenggelamkan dalam banjir sampai musnah.

Demikian pula dengan peringatan tentang dajjal ini, bila kita tidak mengindahkan peringatan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – kita harus mewaspadai konsekwensinya. Umat ini bisa ditenggelamkan dalam kemiskinan yang sangat yang membawa kemusnahan.

Bila daya beli terhadap kambing rata-rata penduduk ini turun tinggal 1/3-nya dalam 46 tahun terakhir, tidak takutkah kita dengan apa yang terjadi dalam setengah abad kedepan ketika daya beli umat ini tinggal sekitar 4.5 ekor kambing meskipun dalam Dollar kita akan nampak sangat makmur di atas US$ 50,000,- per kapita ?.

Alhamdulillah kita dikarunia dua mata untuk melihat secara sempurna, tidak bias. Bahkan kita dikarunia mata hati untuk melihat apa yang tidak bisa dilihat dengan mata fisik kita. Saya sungguh berharap para pemegang otoritas negeri ini, para pemimpin, para pengambil keputusan, para pembuat undang-undang, para penegak hukum - semuanya juga menggunakannya.

Agar kita terbebas dari bias penglihatan, melihat neraka seolah surga atau sebaliknya melihat surga padahal neraka – sebagimana yang diungkapkan oleh hadits tersebut di atas. Agar kita dan anak cucu kita juga tidak musnah tenggelam – sebagaimana ditenggelamkannya umat nabi Nuh ‘Alaihi Salam yang tidak mengindahkan peringatan nabinya.

Bahkan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu begitu ceto ke welo- welo (amat sangat jelas) tentang siapa dajjal itu : “…bahwa ia (dajjal) itu adalah Yahudi…” (HR Muslim). Dan kita kini tahu bahwa system Yahudi telah merasuki hampir keseluruhan aspek kehidupan kita, tentang pengelolaan uang/modal melalui berbagai bank dan lembaga keuangannya, tentang pasarnya, tentang eksploitasi sumber daya alamnya, tentang pemikirannya, budayanya, peradabannya dlsb.dlsb.

Lantas bagaimana kita bisa terlepas diri dari system dajjal yang bila kita tidak hiraukan akan menenggelamkan kita sebagimana umat nabi Nuh ‘Alaihi Salam ditenggelamkan oleh banjir ?. Lagi-lagi petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam itu ceto ke welo-welo : “Siapa yang menghafal sepuluh ayat dari awal surat Al Kahfi, maka dia akan terpelihara dari kejahatan dajjal” (HR Muslim).

Petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut disampaikan kepada para sahabat beliau. Melalui sejarah kita tahu kebiasaan para sahabat, yaitu setiap menerima Al-Qur’an dari Nabi, 10 ayat demi 10 ayat dihafalkan dan diamalkan, kemudian 10 ayat berikutnya dst.

Artinya adalah untuk bisa benar-benar terbebas dari fitnah dajjal sebagaimana petunjuk dalam hadits tersebut, kita juga tidak boleh berhenti pada sekedar menghafalkannya. Kita harus bisa sampai pada tataran semaksimal mungkin memahami kemudian juga mengamalkannya.

Apa yang bisa kita pahami dan amalkan dari 10 ayat awal dari surat Al-Kahfi ini ?, di dalamnya terdapat kisah para pemuda yang berusaha mengikuti petunjuk yang lurus, menjaga aqidahnya, dan membentengi diri , masuk gua untuk bisa terlepas dari pengaruh yang sangat buruk dan kejahatan penguasa dunia saat itu.

Maka hanya dengan cara inilah generasi muda dari anak cucu kita harus kita siapkan untuk melepaskan diri dari system dajjal itu, kita harus mampu membangun benteng yang kuat agar system pendidikan kita, ekonomi kita, uang kita, pengelolaan sumber daya kita, pasar kita, ilmu pengetahuan kita dlsb. semuanya mampu untuk berlepas diri dari system-nya penguasa dunia saat ini yang begitu jelasnya – bahwa mereka adalah si mata satu sebagaimana mereka deklarasikan dalam satu (an) mata uang mereka !. Wa Allahu A’lam. *)
*) geraidinar.com

ikadikobar.blogspot.com - Konon umat ini punya dana abadi, namanya Dana Abadi Umat (DAU). Dana ini utamanya dikumpulkan dari seluruh jamaah haji Indonesia, jadi bila Anda sudah berhaji – Andapun telah berkontribusi di dalamnya. Sayangnya yang sering kita dengar dari DAU ini bukan manfaatnya tetapi malah kasusnya. Mungkinkah kita bisa membangun ‘dana’ atau ‘investasi’ yang benar-benar abadi ? jawabannya sangat mungkin ! berikut adalah landasan teori dan implementasinya.

Adanya bentuk ‘investasi’ yang abadi itu disebutkan di Al-Qur’an dalam ayat berikut : “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS 18 :46).

Ulama tafsir At-Tabari dan juga Ibnu Katsir menjelaskan Al-Baaqiyaatushshaaliqaat atau amal shaleh yang kekal itu adalah shalat wajib lima waktu, dzikir kepada Allah dengan tasbih, tahmid dan takbir, dan juga seluruh amal kebajikan lainnya.

Selain shalat , dzikir dan doa yang tidak boleh ditinggalkan, umat dijaman ini perlu banyak sekali beramal nyata dalam mengatasi berbagai persoalan yang ada di tengah umat. Persoalan kwalitas pendidikan yang rendah, penguasaan ekonomi yang lemah, kekuatan politik yang termarginalkan, ketinggalan ilmu dan teknologi, peradaban yang mengekor umat lain dlsb, perlu amal shaleh yang konkrit dan  berkelanjutan atau sustainable.

Tapi bagaimana bentuknya ?, kalau umat disuruh waqaf dalam jumlah besar agar cukup untuk membuat pasar yang luas dan terbuka untuk membangun kekuatan ekonomi umat – mestinya ini bisa, tetapi kurang insentif yang dekat (di dunia) sehingga tidak banyak terjadi di jaman kini.

Demikian pula untuk bersatu menggalang kekuatan politik, mendanai penelitian dan pengembangan teknologi agar kita unggul, membangun sekolah-sekolah unggulan dalam jumlah banyak sehingga bisa mengalahkan sekolah unggulan umat lain. Umat punya dana, tetapi mengapa tidak terjadi ?. Jawabannya sama , yaitu kurang insentif yang dekat.

Lantas apa solusinya ?, solusinya ada di ayat tersebut di atas dan juga di ayat berikut :

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS 28 :77)

Proyek-proyek keumatan yang besar insyaallah akan lebih mudah digerakkan bila didalamnya juga memperhatikan ‘…bagianmu dari kenikmatan duniawi…’ sebagaimana dalam ayat tersebut di atas.

Tetapi agar hal ini tidak ditafsirkan seperti terjun berpolitik untuk membangun kekayaan pribadi dengan mengatas namakan rakyat, tidak membangun sekolah Islam unggulan kemudian biaya pendaftaran dan SPP dibuat selangit sehingga hanya yang kaya yang mampu mendaftar, dan  sejenisnya – perlu contoh-contoh lain yang lebih bisa diterima dan doable !.

Misalnya bagaimana kita bisa membangun sekolah unggulan yang murah, syukur-syukur bisa gratis dalam jumlah yang banyak. Ini kita perlukan karena di negeri yang mayoritas muslim ini, jumlah sekolah unggulannya masih belum sepadan dengan apa yang dimiliki umat lain - relatif terhadap jumlah penduduknya.

Bila sekolah ini didanai khusus dengan dana infaq atau waqaf,  kondisinya adalah seperti sekarang – tidak banyak yang bisa dibangun karena umat belum menaruh infaq dan waqaf sekolahan sebagai prioritasnya. Bila didanai oleh orang tua murid dalam bentuk biaya pendaftaran dan SPP yang mahal, maka hanya yang kaya yang bisa bersekolah di sekolah unggulan. Lantas apa pilihannya ?

Sekolah unggulan tersebut bisa dibangun dengan menempel proyek-proyek investasi yang didanai oleh umat secara sukarela. Sebagai contoh masyarakat muslim professional yang bekerja di Jakarta dan selama ini waktunya habis pulang pergi kantor dan kurang bisa berinteraksi dengan keluarganya secara optimal, mereka bisa membeli atau membangun bersama apartemen di pusat kota yang tidak jauh dari tempat kerjanya.

Bila apartemen tersebut dibiayai oleh investasi umat muslim, maka secara bersama-sama mereka bisa ‘menginfaqkan’ misalnya 10% s/d 20% ruangan apartemen untuk masjid, sekolah, perpustakaan dlsb. ‘Infaq’ 10% s/d 20% ini bernilai besar tetapi tidak akan terasa bila dimasukkan dalam harga apartemen yang bersangkutan.

Masjid, sekolah dan perpustakaan unggulan di apartmen tersebut kemudian bisa dipakai oleh umum – bukan hanya yang tinggal di apartemen. Masyarakat umum yang ikut menyekolahkan anak di apartemen tersebut tidak perlu lagi membayar biaya gedung yang mahal, karena biaya gedungnya telah dibayar oleh bagian dari umat ini yang mampu membeli apartemen.

Dengan cara ini umat akan memiliki masjid yang bagus, sekolah yang unggul, perpustakaan yang lengkap semuanya di pusat kota – pusat aktivitas mereka. Sekarang kita kan nggak punya masjid yang bagus di Jalan Thamrin dan Sudirman Jakarta ?, nggak punya sekolah Islam unggulan di sekitar tempat kerja Anda di pusat kota ?. Di Depok saja yang dahulu direncanakan menjadi kota santri, tidak ada masjid di jalan utamanya (Margonda) padahal mal-mal dan apartemen terus bertumbuhan !.

Keberadaan masjid-masjid yang ngumpet di sela-sela perkampungan di belakang gedung-gedung pencakar langit, mushola yang diletakkan di tempat parkir dari perkantoran mewah dan hotel, segelintir sekolah unggulan yang hanya bisa hadir di pinggiran kota – seperti yang kita lihat sekarang ini, semua karena kita belum mendaya gunakan ‘investasi’ dana umat yang bejibun jumlahnya secara tepat sasaran.

Melalui pendekatan yang sama dengan pembangunan apartemen berbonus masjid, sekolah unggulan dan perpustakaan tersebut – umat bisa rame-rame mendanai berbagai projek keumatan lainnya seperti pasar, rumah sakit, lembagai riset dan pengembangan teknologi dlsb dengan sumber dana yang berlimpah.

Teorikah ini ?, insyaAllah bener-bener bisa dijalankan. Eksperimen skala kecil sudah kami coba lakukan, memang belum besar karena belum banyak umat yang terlibat. Madrasah Al-Qur’an bisa kami tempelkan dalam project Jonggol Farm sehingga semua siswanya tidak perlu membayar satu sen-pun. Khuttab Al-Fatih bisa menggunakan ruangan-ruangan dari project Bazaar Madinah sehingga biaya pendaftaran siswa hanya sekitar 1/10 dari sekolan Islam unggulan terdekat – karena siswa kita tidak perlu membayar uang gedung dlsb.

Dengan pendekatan yang sama pula, Anda bisa terlibat dalam pembangunan berbagai project keumatan lainnya – manakala project-project tersebut dapat ditempelkan pada project lain yang feasible. Pasar Islam bisa menempel pada project perumahan, pesantren unggulan bisa menempel pada project perkebunan, rumah sakit bisa menempel pada sejumlah project perumahan yang berkongsi membangunnya bersama dlsb.

Andakah yang memiliki project-project keunggulan umat ini ? siapa tahu bisa kita integrasikan dengan puluhan ribu umat yang membaca situs ini. Project Anda tiba-tiba memiliki daya jual tersendiri karena memperhatikan kebutuhan umat akan ‘investasi’ yang abadi. InsyaAllah.

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.