Latest Post

Kisah yg diceritakan oleh Ustad OEMAR MITHA,  saat hadir pada acara DN-3 di Gedung LPMP Jakarta.


*KISAH SULTAN MURAD ( SULTAN TURKI UTSMANI ) MENEMUKAN MAYAT SEORANG WALI*

Di dalam buku hariannya
Sultan Turki Murad IV mengisahkan, bahwa suatu malam dia merasakan kegalauan yang sangat,
ia ingin tahu apa penyebabnya.
Maka ia memanggil kepala pengawalnya dan memberitahu
apa yang dirasakannya.

Sultan berkata kepada kepala pengawal,
_"Mari kita keluar sejenak."_

Di antara kebiasaan sang Sultan adalah melakukan blusukan
di malam hari dengan cara  menyamar.

Mereka pun pergi,
hingga tibalah mereka
di sebuah lorong yang sempit.

Tiba-tiba,
mereka menemukan seorang
laki-laki tergeletak di atas tanah.
Sang Sultan menggerak-gerakkan lelaki itu,
ternyata ia telah meninggal.

Namun orang-orang yang lalu lalang di sekitarnya tak sedikitpun mempedulikannya.

Sultan pun memanggil mereka,
mereka tak menyadari
kalau orang tersebut adalah Sultan.

Mereka bertanya,
_"Apa yang kau inginkan...?_

Sultan menjawab,
_"Mengapa orang ini meninggal
tapi tidak ada satu pun di antara kalian yang mau mengangkat jenazahnya?_

_Siapa dia?_

_Di mana keluarganya?"_

Mereka berkata,
_"Orang ini Zindiq,
suka menenggak minuman keras dan berzinah.!"_

Sultan menimpali,
_"Tapi . .
bukankah ia termasuk umat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam?_
_Ayo angkat jenazahnya,
kita bawa ke rumahnya"_

Mereka pun membawa jenazah laki-laki itu ke rumahnya.

Melihat suaminya meninggal,
sang istripun pun menangis.
Orang-orang yang membawa jenazahnya dan langsung pergi tinggallah sang Sultan
dan kepala pengawalnya.

Dalam tangisnya sang istri berucap pada jenazah suaminya,
_"Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah..._
_Aku bersaksi bahwa
engkau termasuk orang
yang sholeh."_

Mendengar ucapan itu Sultan Murad kaget..
_"Bagaimana mungkin dia termasuk wali Allah sementara orang-orang membicarakan
tentang dia begini dan begitu,
sampai-sampai mereka tidak peduli dengan kematiannya.?"_

Sang istri menjawab,
_"Sudah kuduga pasti akan begini..."_

_"Setiap malam suamiku
keluar rumah pergi ke toko-toko minuman keras,
dia membeli minuman keras
dari para penjual sejauh yang ia mampu._
_Kemudian minuman-minuman
itu di bawa ke rumah
lalu ditumpahkannya
ke dalam toilet,
sambil berkata: "Aku telah meringankan dosa kaum muslimin."_

_"Dia juga selalu pergi menemui para pelacur,
memberi mereka uang dan berkata: "Malam ini kalian sudah dalam bayaranku,
jadi tutup pintu rumahmu sampai pagi."_

_"Kemudian ia pulang ke rumah,
dan berkata kepadaku: "Alhamdulillah,
malam ini aku telah meringankan dosa para pelacur itu
dan pemuda-pemuda Islam."_

_"Orang-orang pun hanya menyaksikan bahwa ia selalu membeli khamar dan menemui pelacur,
lalu mereka menuduhnya
dengan berbagai tuduhan
dan menjadikannya buah bibir."_

Suatu kali aku pernah berkata kepada suamiku,
_"Kalau kamu mati nanti,
tidak akan ada kaum muslimin yang mau memandikan jenazahmu, mensholatimu dan menguburkan jenazahmu"_

Ia hanya tertawa,
dan berkata,
_"Jangan takut,
bila aku mati,
aku akan dishalati
oleh Sultannya kaum muslimin, para Ulama dan para Wali."_

Mendengar itu semua, 
Sultan Murad pun menangis,
dan berkata,
_"Benar! 
Demi Allah,
akulah Sultan Murad,
 dan besok pagi kita
akan memandikannya,
menshalatkannya
dan menguburkannya."_

Demikianlah,
akhirnya prosesi penyelenggaraan jenazah laki-laki itu dihadiri
oleh Sultan,
para Ulama,
para Wali Allah
dan seluruh masyarakat.

*******

(Kisah ini diceritakan kembali oleh Syaikh Al Musnid Hamid Akram Al Bukhary dari _Mudzakkiraat Sultan Murad IV_)

*******

Hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini:

Jangan suka menilai orang lain
dari sisi lahiriahnya saja.
Atau menilainya berdasarkan ucapan orang lain.
Terlalu banyak yang tidak kita ketahui tentang seseorang.
Apalagi soal yang tersimpan di tepian paling jauh di dalam hatinya.

Kedepankan prasangka baik terhadap saudaramu.
Boleh jadi orang yang selama ini kita anggap sebagai calon penduduk neraka,
ternyata penghuni Firdaus
yang masih melangkah di bumi...

Jadi,
berhentilah berprasangka
dan menggunjing seseorang
sekalipun orang itu sangat kita kenal.


Ikadikobar.org, Syekh Aaq Syamsuddin adalah seorang ulama yang sangat terkenal pada masa pemerintahan Sultan Murad II. Ia sangat dikenal kepandaiannya dalam berbagai ilmu pengetahuan, serta ketegasannya dalam mendidik anak didiknya sehingga semua yang berguru kepadanya takut dan patuh terhadapnya. Muhammad Al Fatih sendiri sangat takut kepada sang guru karena pernah dicambuk amat keras.

Syekh Aaq Syamsuddin mendidik Muhammad Al Fatih berbagai ilmu pengetahuan. Karena kecerdasan Muhammad Al Fatih, sang guru tidak terlalu susah mengajarkan Al Qur'an kepadanya. Ya, pertama kali, Muhammad Al Fatih diajari Al Qur'an. Dalam waktu yang amat singkat, ia berhasil menghafalkan Al Qur'an dalam usia yang cukup muda, 8 tahun.

http://



ikadikobar.org, Pada masa kecilnya, Muhammad Al-Fatih sangat bandel dan tidak mau tunduk terhadap apa yang diajarkan kepadanya. Ayahnya, Sultan Murad II, sangat prihatin dengan sifat putranya tersebut. Karena itu, Ia mencarikan guru yang bisa mendidik Muhammad Al Fatih. Namun, semua guru yang telah mengajarinya gagal dalam membinanya. 



Sang Ayahpun kembali mencarikan guru. Muhammad Al Fatih lalu diserahkan kepada seorang ulama untuk dibina dan diberikan pendidikan. Ulama itu bernama Maula Ahmad bin Ismail Al-Kurani. Sultan Murad II memberikan cambuk kepada ulama tersebut agar Ia dapat memberikan hukuman cambuk jika Muhammad Al Fatih tidak mau mengikuti ajaran sang Guru.



Saat pertama kali mengajari Muhammad Al Fatih, Al-Kurani membawa cambuk itu. Ia berkata kepada Muhammad Al Fatih, "Ayahmu memberikan tugas untuk mendidikmu, dan Ia berpesan kepadaku untuk memukulmu jika Engkau melanggar apa yang kuperintahkan". 



Namun, bukannya takut! Muhammad Al Fatih justru menertawai Sang Guru. Sontak Syeikh Al-Kurani memukulnya amat keras. Sejak kejadian itu, Muhammad Al Fatih sangat takut kepada sang Guru dan mengikuti semua yang diajarkan kepadanya.*

* Masa Kecil Sultan Muhammad Al Fatih 


Kamis, Mei 30, 2019

Pesan Habib Ali Ridho di akhir ramadhan 'Jangan sampai terbalik, awal Ramadhan penuh, akhir Ramadhan tinggal 1 shaf, sisanya di pasar. Seharusnya sepuluh malam terakhir ini yg kita makmurkan. Seperti di kota Tarim Hadramaut, awal Ramadhan sudah terlihat makmur. Disana ada 360 masjid. Dan sholat tarawihnya gak serentak, dimana kita lewat disitu selalu makmur. Krn ada yg tarawih mulai jam 8,10, 12, 1 malam dll.'

Selanjutnya apa saja yg bisa kita kerjakan dgn 10 malam akhir Ramadhan ini?

Habib Ali Rido menjelaskan, "seperti yg dilakukan Rasulullah, "adalah nabi Saw. Kalau sudah datang 10 malam akhir Ramadhan, beliau mengikat sarungnya yaitu menjauhi istri-istrinya untuk mendekat diri kepada Allah SWT.
Kalau di malam sebelumnya terkadang nabi bangun, terkadang tidur. Tapi kalau sudah 10 malam akhir Ramadhan, beliau hidupkan sepanjang malam Ramadhan.

Nabi tidak hanya mementingkan dirinya sendiri, nabi juga mengajak keluarganya untuk ibadah kepada Allah SWT. Kalau mau masuk surga jangan sendirian, bawalah keluarga nya dan bawa teman-teman nya ke dalam surga.

Selain itu dalam hadis lain, nabi mandi di 10 malam akhir antara isya dan magrib. Dan ini dianjurkan oleh para fuqoha, antara magrib dan isya. Sebagaimana yg dilakukan Rasulullah antara dua adzan yaitu antara adzan magrib dan adzan isya.

Namun yg perlu diperhatikan, Krn mandinya mandi Sunnah, maka niatkan aku mandi Sunnah untuk malam ini di bulan suci ramadhan. Krn kalau hanya sekedar mandi, maka kita tidak akan mendapatkan pahala Sunnah.

Kemudian beliau menyambung puasanya, beliau menjadikan makan malamnya sebagai makan sahurnya.

Selanjutnya adalah Baginda Nabi Saw beri'tikaf di 10 malam akhir Ramadhan,
Rasulullah bersabda, barang siapa beri'tikaf sekedar dua kali perasan onta maka seakan2 pahalanya memerdekakan budak.

Apalagi I'tikaf di bulan ramadhan, Rasulullah bersabda barang siapa I'tikaf di 10 akhir Ramadhan maka dia mendapat pahala 2 kali haji, dan 2 kali pahala umrah. Krn pahalanya sgt besar.

I'TIKAF tidak harus dalam keadaan puasa, namun boleh juga tidak puasa. Akan tetapi sekalipun tidak disyaratkan, namun dalam madzhab imam Syafi'i Sunnah hukumnya ketika I'tikaf puasa. Krn madzhab lainnya mewajibkan I'tikaf sambil puasa.
Di dalam madzhab imam Syafi'i tidak harus seharian penuh, cukup dia berdiam dalam masjid dan melebihi kadar tuma'ninah dalam sholat.


Dalam peristiwa Isro mi'raj, di langit ke lima. Nabi melihat Umur ummat nabi sebelumnya ada yg umurnya 1000 tahun, 3000 thn, ada juga yg 700 th dipenuhi jihad kepada Allah ta'ala..
Lalu rasul melaporkan  hal ini kepada Allah sehingga diterima Allah dan Allah memberikan kepada kita malam Lailatul Qadar.
1 malamnya senilai dengan 83 thn 4 bulan.

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.