Latest Post


ummu.khalidalfarisiRegrann from @dr.ferihana

Rumah tangga itu adalah kebersamaan
Bergandeng tangan bersama
Ringan sama dijinjing berat sama dipikul

Maka,

Terhadap Suaminya
Janganlah seorang istri selalu berkata "mana hakku mana kewajibanmu"

Jangan pula senantiasa berprinsip,
Ini hartaku adalah milikku, dan hartamu wahai Suami adalah juga milikku
Hartaku hartaku, hartamu hartaku

Sungguh,

Tak ada lelaki yang sempurna
Biarlah dia miskin, tapi dia setia dan menyayangi kita

Itu jauh lebih membahagiakan dan mendamaikan

Karena di luar sana banyak lelaki kaya yang tak setia dan aniaya
Dan betapa sengsaranya wanita yang menjadi istrinya, wal iyaadzu billah

Maka jika Suami kita miskin dan kita ditaqdirkan kaya
Adalah keutaman jika kita bershadaqah kepada Suami kita
Insya Allah harta kita akan diberkahi Nya

Ingatlah keutaman suri tauladan kita Bunda Khadijah radhiyallahu 'anhaa

Beliau memberikan hartanya kepada suaminya, yaitu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam, sebagaimana hal ini disampaikan oleh Rasulullah

وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِى النَّاسُ

Ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku (HR. Ahmad)

Dan,

Bukankah Rasulullah menyuruh kita menyelamatkan diri kita dari neraka jahanam dengan banyak shadaqah ?

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ، فَإِنِّي أُرِيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

Wahai sekalian kaum wanita, bersedekahlah. Karena diperlihatkan kepadaku mayoritas penduduk neraka adalah kalian (HR. Al-Bukhari no. 304)

Dan, mari kita baca apa sabda Rasulullah pada Zainab Ats Tsaqafiyah yang memberi harta untuk Suaminya

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَهُمَا أَجْرَانِ أَجْرُ الْقَرَابَةِ وَأَجْرُ الصَّدَقَةِ

Kedua wanita itu mendapatkan dua pahala yaitu pahala membantu kerabat dan pahala sedekah (HR. Bukhari no. 1466 dan Muslim no. 1000)

Jadi,

Mengapa mesti risau jika Suami kita kekurangan harta
Justru saat suami miskin inilah ladang pahala bagi seorang istri

Mari semangat bershadaqah
Baarakallahu fiikum akhawatiy

dr. Ferihana Ummu Sulaym
Mudarrisah di Madrasah Uwais Al Qorniy



Pernahkah merasakan jam 10 perut sudah keroncongan gara-gara belum sarapan?

Pasti pernah, atau malah sering.

Kalau saya telat makan, biasanya kepalanya jadi pening. Obatnya gampang, makan nasi anget yang pulen, meski lauk seadanya. Biasanya pusingnya ilang.

Anehnya ini tidak terjadi ketika sedang berpuasa, meskipun gak sempat sahur atau sahurnya hanya sekedar minum segelas air putih.

Kok bisa?

Itulah kekuatan niat. Niat puasa membuat kita lupa akan derita lapar. Otak pun sudah diset kalau nanti makannya menunggu adzan Maghrib. Jadi meski perut sedikit lapar, otak akan mengingatkan.

Bagi orang berpuasa mendengar adzan Maghrib itu seperti mendapatkan kenikmatan tiada tara. Meski suara adzannya tak semerdu denting harpa.



"Ayah, nanti kalau aku nikah, acaranya nikahan & makan-makan aja." kata Qawwam (9 tahun) menjelang tidur malam hari.
"Oh gitu wam. Tapi kalo calon mertuamu gak mau bagaimana ? Kalo minta tambahan acara-acara lain." Tanyaku balik
"Ya udah, gak usah aja."
"Gak usah nikah maksudnya ?" Tanyaku
" Hrrghg ayaaaah ! Gak usah nikah Ama aku, aku cari yang lain aja !" Katanya pasti
"Ohhhh... Oh ya wam, rasul itu kasi petunjuk perempuan seperti apa yang perlu kau nikahin."
"Apa kata rasul yah ?"
"Ada empat wam. Karena cantiknya, hartanya, keturunannya & imannya"
"Dan sebaiknya kita pilih karena imannya"
"Dan tahu gak wam, ayah dapat empat2nya. Bunda cantik, kan namanya Ayu wam. Keturunan baik-baik, kan Mbah kung AKTIVIS Muhammadiyah. Hartanya juga lumayan wam, kan dokter. Terus, insya allah bunda juga beriman wam."
"Kalau kau wam, pilihan apanya ?
"Hartanya yah, biar aku kaya" jawab Qawwam sambil memainkan mata & alisnya.
"Bukan imannya wam, seperti kata rasul ?"
"Kan bisa didakwahi yaaaaahhh, biar beriman."  Katanya tegas namun sedikit berbisik
"Terus kalo gak mau juga bagaimana ?"

"AAYAAAAAHHH..... KU KENTUTIN lho ayah kalo nanya-nanya ini terus ! Bosen aku ! " Katanya sambil mencubit lenganku & matanya melotot ke arahku yang sedang tertawa terbahak-bahak

Pesona Bangil , 11 September 2017
Rizqi Tajuddin
#BabahAca



"Ayah, nanti kalau aku nikah, acaranya nikahan & makan-makan aja." kata Qawwam (9 tahun) menjelang tidur malam hari.
"Oh gitu wam. Tapi kalo calon mertuamu gak mau bagaimana ? Kalo minta tambahan acara-acara lain." Tanyaku balik
"Ya udah, gak usah aja."
"Gak usah nikah maksudnya ?" Tanyaku
" Hrrghg ayaaaah ! Gak usah nikah Ama aku, aku cari yang lain aja !" Katanya pasti
"Ohhhh... Oh ya wam, rasul itu kasi petunjuk perempuan seperti apa yang perlu kau nikahin."
"Apa kata rasul yah ?"
"Ada empat wam. Karena cantiknya, hartanya, keturunannya & imannya"
"Dan sebaiknya kita pilih karena imannya"
"Dan tahu gak wam, ayah dapat empat2nya. Bunda cantik, kan namanya Ayu wam. Keturunan baik-baik, kan Mbah kung AKTIVIS Muhammadiyah. Hartanya juga lumayan wam, kan dokter. Terus, insya allah bunda juga beriman wam."
"Kalau kau wam, pilihan apanya ?
"Hartanya yah, biar aku kaya" jawab Qawwam sambil memainkan mata & alisnya.
"Bukan imannya wam, seperti kata rasul ?"
"Kan bisa didakwahi yaaaaahhh, biar beriman."  Katanya tegas namun sedikit berbisik
"Terus kalo gak mau juga bagaimana ?"

"AAYAAAAAHHH..... KU KENTUTIN lho ayah kalo nanya-nanya ini terus ! Bosen aku ! " Katanya sambil mencubit lenganku & matanya melotot ke arahku yang sedang tertawa terbahak-bahak

Pesona Bangil , 11 September 2017
Rizqi Tajuddin
#BabahAca




*UMURMU..40,50 TAHUN..?*

Firman Allah SWT : *"...Bukankah Kami telah memberimu umur sehingga kamu sempat mengingat bagi sesiapa yang mau mengingat?"* _(Fathir: 37)_
*"Allah tidak lagi memberi alasan bagi siapa yang telah dipanjangkan6 umurnya hingga 50 tahun"* _(HR.Bukhari)_

Al-Khattabi berkata : *"Maknanya, orang yg Allah panjangkan umurnya hingga 40,50,60 tahun, tidak diterima lagi keuzuran/alasan. Karena usia 40,50,60 tahun merupakan usia yang dekat dgn kematian,* maka inilah kesempatan *untuk memperbanyak taubat, beribadah dgn khusyuk,* dan
 *bersiap-siap bertemu Allah."* _ (Tafsir alQurthubi)_

*Fudhail bin Iyadh berkata* kepada seseorang yang telah mencapai umur 40, 50, 60 tahun, Maka nasihat Fudhail kepadanya : *"Berarti  kamu berjalan menuju Tuhanmu, sekarang dan hampir sampai... Lakukan yang terbaik pada sisa usia senja-mu, lalu akan diampuni dosa-dosamu yang lalu. Tapi jika engkau masih berbuat dosa di usia senjamu, kamu pasti dihukum akibat dosa masa lalu dan masa kini sekaligus..!"*

Maka para alim ulama memberi nasihat cara menjalani *umur yang sudah mencapai 40,50,60 tahun* :

*JANGAN banyak BERGURAU dan terjebak dalam hal-hal yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.*

*JANGAN berlebih-lebihan, BERHIAS,  BERSOLEK, dan BERPAKAIAN.*

*JANGANLAH BERLEBIH-LEBIHAN makan, minum, dan berbelanja barang yg kurang diperlukan utk mendukung amal shalih.*

*JANGAN  BERKAWAN dengan orang yang tidak menambah iman, ilmu, dan amal.*

*JANGAN banyak berjalan dan MELANCONG ke sana sini tanpa MANFAATNYA yg dapat mendekatkan diri pada kehidupan akhirat.*

*JANGAN gelisah, berkeluh kesah, dan kesal dengan kehidupan sehari-hari. Selalu penuhi diri dg rasa sabar dan bersyukur.*

*PERBANYAK doa mengharap keridha-an Allah agar Husnul Khatimah dan dijauhkan dari Su'ul Khatimah.*

*TAMBAHKAN ilmu agama, perbanyak mengingat kematian, dan bersiap menghadapinya.*

*Siapkan WASIAT dan lakukan PEMBAGIAN harta segera*

*Kerap menjalin SILATURAHIM dan merekatkan hubungan yang renggang sebelumnya.*

*MINTA MAAF dan berbuat baik terhadap pihak yang pernah dizalimi.*

*TINGKATKAN amal SOLEH terutama amal JARIYAH yang dapat terus memberi pahala dan syafa'at setelah kita mati.*

*MAAFkan kesalahan orang kepada kita walau seberat apapun kesalahan itu.*

*Bereskan segala HUTANG yang ada dan jangan buat HUTANG BARU walaupun untuk menolong orang lain.*

*Berhentilah dari semua MAKSIAT!!!*

*MATA, berhentilah memandang yg tidak halal bagimu*

*TANGAN, berhentilah dari meraih yg bukan hak mu*

*MULUT, berhentilah makan yg tidak baik dan yg tidak halal bagimu, berhentilah dari GHIBAH, FITNAH, dan berhentilah menyakiti hati orang lain*

*TELINGA, berhentilah mendengar hal-hal haram dan tak bermanfaat*

*Berbaik sangka lah kepada Allah atas segala sesuatu yg terjadi dan menimpa*

*Penuhi terus hati dan lisan kita dg istighfar & taubat utk diri sendiri, orang tua, dan semua orang beriman, di setiap saat dan setiap waktu.*

*Semoga bermanfaat bagi kita semua, walaupun Anda belum 50 tahun. karena...*
*KEMATIAN TIDAK MENGENAL UMUR.*


KH. Abdullah Gymnastiar
https://www.facebook.com/KH.Abdullah.Gymnastiar/posts/1605637172803183

[ PANTJA-SILA dan AL MAQASHID ]

Oleh : @salimafillah


"Seorang kawan ahli bahasa", demikian konon dikatakan Ir. Soekarno dalam pidatonya di hadapan Sidang BPUPKI 1 Juni 1945, "Menyarankan agar kelima pokok hal ini disebut Pancasila."

Pidato Bung Besar, rahimahullah, kala itu memang  menjawab pertanyaan Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Sang Ketua, yakni, jika nanti negara kita berdiri, di atas dasar apakah ia akan tegak?

Kawan ahli bahasa itu tentu saja adalah Mr. M. Yamin. Tokoh dahsyat yang mengemukakan gagasan kesatuan Indonesia-nya dengan membesar-jayakan Majapahit hingga tokoh Gajah Mada-pun wajah ilustrasinya meminjam potret beliau.

Sesederhana itukah lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945?

Tentu saja tidak.

Pancasila rumusan Bung Karno meletakkan kebangsaan sebagai sila pertama dan ketuhanan di sila terakhir. Lengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang berkebudayaan

Sehari sebelumnya, pada 31 Mei, Mr. Soepomo mengajukan rancangan lain:

1. Persatuan
2. Kekeluargaan
3. Keseimbangan lahir dan batin
4. Musyawarah
5. Keadilan rakyat

Adapun gagasan Mr. M. Yamin pada 29 Mei berisi:

1. Peri kebangsaan
2. Peri kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri kerakyatan
5. Kesejahteraan rakyat

Kesemua rumusan ini berbeda dengan yang akan ditetapkan sebagai Dasar Negara pada 18 Agustus 1945. Untuk diketahui, selain Ir. Soekarno, Panitia Sembilan Perumus Dasar Negara sebagai amanat PPKI yang menghasilkan Piagam Djakarta beranggotakan pula Drs. Moh. Hatta, KHA. Wahid Hasyim, Prof. KH Abdul Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, Abikusno Tjokrosujoso, Ahmad Subardjo, dan Mr. Muh. Yamin, dan A.A. Maramis. Dari kentalnya komposisi 'Ulama dan Zu'ama ini, tak heran bahwa yang disahkan kemudian -sebelum insiden dihapusnya 7 kata- adalah:

1. Ketoehanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari'at Islam bagi pemeloek2-nja*
2. Kemanoesiaan jang adil dan beradab
3. Persatoean Indonesia
4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat, kebidjaksanaan dalam permoesjarawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seloeroeh Rakjat Indonesia.

Banyak beredar selebaran maya yang menghubungkan kelima sila tersebut dengan ayat-ayat yang dipilih dari Al Quran. Sebagai seorang muslim, saya menyatakan hormat kepada yang menyatakan demikian. Saya akan menyatakan hormat pula jika ummat lain punya dalil dari kitab suci mereka tentang sila-sila Pancasila. Dan ini amat mungkin sekali mengingat luasnya kandungan kitab suci berbagai agama. Tinggal dicari dan dicocokkan.

Yang saya hendak sampaikan justru hipotesis beberapa pewaris sejarah Masyumi yang diungkap oleh Dr. Adiwarman Karim dalam sebuah artikel pendek tentang Ekonomi Syari'ah-Ekonomi Pancasila, bahwa Para 'Ulama Pendiri Bangsa itu kemungkinan telah menyusun Pancasila sesuai Maqashid Asy Syari'ah Adh Dharuriyah yang rumusannya dirintis Imam Al Ghazali kemudian disempurnakan oleh Imam Asy Syathibi dalam Al Muwafaqat.

Benar, idenya buah pikir bersama dan mungkin juga mengambil sebagian dari Bung Karno, Yamin, maupun Soepomo. Tapi susunannya, mari perhatikan Dharuriyat Al Khams, atau 5 dari tujuan pokok diturunkannya Syari'at itu:

1. Hifzhud Diin (Menjaga Agama)-> Ketuhanan
2. Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa Manusia)-> Kemanusiaan
3. Hifzhun Nasl (Menjaga Keturunan, Kelangsungan)-> Persatuan
4. Hifzhul 'Aql (Menjaga Akal)-> Hikmat Kebijaksanaan
5. Hifzhul Maal (Menjaga Harta dan Milik)-> Keadilan Sosial

Rahimahumullaahu Ajma'in. Semoga Allah merahmati para perumus agung dasar negara ini. Selalu diperlukan sikap adil pada Pancasila. Anti samasekali kepadanya berarti mengingkari sejarah perjuangan para 'ulama. Menerimanya secara sekuler dengan memisahkannya dari nilai-nilai Islam yang menjiwainya juga tak tepat. Selamat berpancasila.

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.