Latest Post





 Di dalam kitabnya, Al-Kamil fi At-Tarikh, Ibnu Atsir menceritakan percakapan Ibnu Samak dengan Harun ar-Rasyid, khalifah Bani Abbas. Suatu ketika, Harun ar-Rasyid merasa haus sekali. Untuk menghilangkan dahaga tersebut, dia memerintahkan Ibnu Samak untuk mengambilkan air minum. Setelah mengambil air minum, Ibnu Samak berkata, “Pelan-pelan. Wahai Amirul Mukminin, demi kedekatanmu dengan Rasulullah, berapakah engkau akan membayar air ini?”

Kemudian Harun menjawab, akan membelinya dengan separuh kerajaannya. Ibnu Samak berkata, “Kalau begitu, minumlah.” Selesai meminumnya, Ibnu Samak bertanya lagi jika air ini ditahan dan tidak bisa keluar dari tubuh, berapa Harun akan membelinya? Kemudian dijawab bahwa ia akan membeli dengan semua kerajaannya.

Di akhir pembicaraan, Ibnu Samak berkata kepada Harun ar-Rasyid, “Sesungguhnya sebuah kerajaan tidak dapat menyamai kenikmatan air minum dan keluarnya air kencing. Bahkan, ia lebih besar dari kerajaanmu.”

Memang demikian seharusnya kita menyadari bahwa nikmat-nikmat Allah takkan pernah habis dan takkan kuasa dihitung manusia. Karena Allah tidak menghendaki kecuali agar manusia bersyukur kepada-Nya.
——————————————————————————————————————————————————
“Di hari kiamat nanti, akan didatangkan orang yang hidupnya paling bahagia di dunia, lalu Allah swt berfirman, “Celupkan ia sekali celup ke dalam neraka!” Begitu selesai, Allah berfirman, “Hai anak Adam, pernahkah engkau mengecap kenikmatan? Pernahkah engkau merasa senang? Pernahkah engkau merasa bahagia?” Ia menjawab, “Sama sekali belum, demi kemuliaan-Mu!” Lalu Allah berfirman, “Masukkan kembali ia ke neraka.” Setelah itu, didatangkan orang yang hidupnya paling sengsara ketika di dunia, lalu Allah swt berfirman, “Celupkan ia sekali celup ke dalam surga.” Begitu selesai, ia dipanggil, Allah berfirman kepadanya, “Hai anak Adam, pernahkah engkau melihat sesuatu yang tidak engkau sukai?” Ia menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, hamba belum pernah melihat hal yang tidak hamba sukai.” (Hadits Qudsi)




Ikadikobar.org - Suatu hari, seorang lelaki pergi menemui Ibahim bin Adham, (seseorang penyembuh penyakit hati, ulama yang tidak hanya kaya akan ilmu, namun juga sangat wara' dan zuhud terhadap dunia sehingga diberi gelar, Sulthân al-Awliyâ’). Lelaki itu berkata, "Aku adalah orang yang berdosa, sebutkanlah kepadaku apa yang dapat membuatku berhenti melakukan dosa!."

Ibrahim berkata kepadanya, "Jika engkau mampu melakukan lima perkara, maka engkau tidak akan tergolong pelaku maksiat."

Lelaki itu bersungguh-sungguh mendengarkan nasihat Ibrahim, Ia berkata, "Sebutkanlah apa yang ingin engkau katakan wahai Ibrahim."

Ibrahim bin Adham berkata, "Pertama, jika engkau akan melakukan perbuatan maksiat kepada Allah, maka janganlah engkau makan rezeki dari-Nya." Lelaki itu merasa heran, Ia bertanya, "Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu wahai Ibrahim, sedangkan semua rezeki itu datang dari Allah?!"

Ibrahim berkata, "Jika engkau mengetahui itu, apakah layak bagimu memakan rezeki-Nya, kemudian engkau melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya?! Lelaki itu menjawab, "Tidak wahai Ibrahim. Sebutkanlah yang kedua!"


Ibrahim bin Adham berkata, "Jika engkau akan melakukan perbuatan maksiat, maka janganlah engkau tinggal di negeri milik Allah." Lelaki itu lebih heran daripada keheranannya yang pertama. Ia berkata, "Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu wahai Ibrahim, sedangkan semua negeri ini milik Allah." Ibrahim bin Adham berkata, "Jika engkau mengetahui itu, apakah layak bagimu tinggal di negeri milik Allah sedangkan engkau berbuat maksiat kepadanya?!" Lelaki itu menjawab, "Tidak wahai Ibrahim, sebutkanlah yang ketiga."

Ibrahim berkata, "Jika engkau akan melakukan perbuatan maksiat, maka carilah tempat dimana engkau tidak dilihat oleh Allah, maka lakukanlah perbuatan maksiat di tempat itu." Lelaki itu berkata, "Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu wahai Ibrahim, Dia mengetahui semua tentang semua rahasia, Dia mengetahui yang dinyatakan dan yang disembunyikan, mendengar hentakan kaki semut di atas batu hitam pekat di tengah malam yang gelap gulita,"  Ibrahim bin Adham berkata, "Jika engkau mengetahui hal itu, apakah pantas engkau melakukan maksiat kepada Allah?!." Lelaki itu menjawab, "Tidak. Wahai Ibrahim sebutkan yang keempat."

Ibrahim bin Adham berkata, "Apabila malaikat maut datang kepadamu untuk mencabut nyawamu, maka katakanlah kepadanya, "Tundalah hingga masa tertentu''' Lelaki itu berkata, "Bagaimana mungkin engkau mengatakan itu wahai Ibrahim, sedangkan Allah telah berfirman, "Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (Al-a'raf: 34). Ibrahim bin Adham berkata kepadanya, "Jika engkau telah mengetahui hal itu, lantas bagaimana mungkin engkau masih mengharapkan keselamatan?!" Lelaki itu menjawab, "Ya, sebutkan yang kelima wahai Ibrahim."


Ibrahim bin Adham berkata, "Jika malaikat Zabaniah (para malaikat neraka jahanam) datang kepadamu untuk memasukkanmu ke dalam neraka Jahanam, maka janganlah engkau pergi bersama mereka." Hampir saja lelaki itu tidak mendengarkan syarat yang kelima, ia berkata sambil menangis, "Cukuplah wahai Ibrahim, aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya." Kemudian, lelaki itu pun rajin beribadah hingga ia meninggal dunia. 

dikutip dari kitab Semua Ada Saatnya, karangan Syaikh Mahmud Al - Mishri, yang diterjemakan Ust. Adul Somad, Lc., MA

Habiburrahman EL Shirazy Pengarang Bumi Cinta

Doktor Anastasia Palazzo dalam Novel Bumi Cinta karangan Habiburrahman El Shirazy dalam Dialog di Stolovaya menanyakan tentang Cara shalat orang Islam kepada Muhammad Ayyas dengan petikan dialognya sebagai berikut :

"Maaf kalau pertanyaanku ini akan mengganggumu." 

"Semoga tidak."

"Maaf, ini sedikit tentang Islam. Kau orang Islam kan?"

"Iya. Aku orang Islam. Kau tadi lihat sendiri aku shalat seperti orang Islam mana pun di seluruh dunia"

"Iya ini tentang cara shalat kalian. Cara kalian menyembah sesembahan kalian. Begini, katanya Islam melarang manusia menyembah berhala seperti yang aku baca di internet, tetapi mengapa ketika shalat, mereka menurutku justru melakukan satu kebodohan dengan menyembah batu persegi empat yang mereka sebut ka'bah. Tidak tanggung-tanggung, mereka menyembah batu persegi empat itu lima kali sehari. Kau bisa menjelaskan sesuatu kepadaku!? Dan, maaf, jika perkataanku ini menyinggungmu!"


Ayyas agak kaget mendengar pertanyaan Doktor Anastasia Palazzo itu. Ia berusaha tetap tenang, meskipun dari pertanyaan itu ada tuduhan bahwa dirinya melakukan kebodohan ketika shalat. Doktor muda yang cemerlang itu berpandangan orang-orang Islam menyembah batu. Ayyas berbaik sangka, Doktor Anastasia berpandangan seperti itu hanya karena ketidaktahuannya akan ajaran islam yang sesungguhnya. Dan dengan adanya pertanyaan yang keluar dari mulut Doktor Anastasia ia jadi tahu kira-kira seperti apa orang-orang yang bukan Muslim. Bisa jadi yang punya pendapat seperti Doktor Anastasia sangat banyak di muka bumi ini, yang berarti banyak sekali orang yang salah melihat Islam.

Setelah menarik nafas Ayyas menjawab,

"Ka'bah, sesungguhnya hanyalah kiblat, yaitu arah di mana kaum Muslim menghadapkan wajahnya ketika shalat. Jadi ketika shalat seorang Muslim samasekali tidak menyembah ka'bah yang tak lain adalah batu persegi empat. Sekali lagi tidak!, Yang disembah seorang Muslim hanyalah Allah, Tuhan seru sekalian alam. Yang diikrarkan seorang Muslim pertama kali masuk Islam adalah aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali hanya Allah.

"Anda bisa bertanya kepada Muslim yang masih anak-anak sekalipun. Silahkan tanyakan kepada mereka, menyembah apa mereka ketika Shalat? Menyembah ka'bah atau menyembah Allah.  Bisa dipastikan, leher saya ini jadi taruhannya, mereka akan menjawab bahwa ka'bah hanyalah arah di mana harus menghadap ketika shalat, tak lebih. Yang mereka sembah adalah Allah. Mereka rukuk dan sujud hanya kepada Allah semata. 

"Perlu Doktor Anastasia ketahui, di dalam Islam tata cara ibadah semuanya diatur secara sempurna. Yang mengatur tata cara ibadah itu adalah Allah. Rasulullah hanyalah utusan Allah yang menjelaskan tata cara ibadah itu. Tidak ada campur tangan manusia dalam hal aturan dan tata cara ibadah kepada Allah. Termasuk ke arah mana wajah ini harus dihadapkan ketika iabadah. Allah sendirilah yang menentukan ke mana wajah hamba-Nya menghadap ketika beribadah kepada-Nya. Dia dalam Al-Quran, surat Al-Baqarah ayat 144, Allah berfirman : "Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram dan di mana kamu berada palingkanlah mukamu ke arahnya."

Rembug Nasional Api Islam Untuk Peradaban Indonesia Masa Depan

Jakarta - Rembug Nasional dengan tema Api Islam Untuk Peradaban Indonesia Masa Depan yang diselenggarakan di Hotel Sahid Jakarta pada hari Rabu, 27 Februari 2019 dengan peserta meliputi akademisi, tokoh agama, lintas agama, dan Pengurus Pusat Ormas- Ormas besar di Indonesia seperti Muhammadiyah, Persis, NU, Serikat Islam, dll.

Dalam sambutannya, Ketua Gerakan Suluh Islam Prof. Dr. Mahfud MD menyampaikan bahwa gerakan suluh kebangsaan telah dilakukan di universitas, berbagai stasiun, dll

Prof. Mahfud MD menyampaikan  bahwa Istilah api islam disampaikan pertama kali oleh bung Karno. Islam akan maju jika apinya dihidupkan dengan semangat untuk membangun Islam. Kita tidak boleh lagi dijajah. Kemudian dengan semangat api islam meliputi Persatuan yg juga dimiliki ormas islam lainnya dengan menerima perbedaan, dan bersatu dalam persamaan untuk membangun negara. Maka terbentuklah negara kesatuan Republik Indonesia.

Dahulu Bung Karno juga mengatakan saat ini ada Islam sontoloyo, menggunakan Islam untuk sendiri, tapi setelah berkuasa meninggalkan nilai Islam.

Dalam seminar itu, Hamdan Zoelva yang merupakan sekarang ketua Sarekat Islam, ormas yg paling besar saat Indonesia Merdeka menyampaikan bahwa Islam jalan tengah, yaitu terbuka untuk perbedaan, tapi tidak menganggap orang lain itu salah. Gerakan ini berfaham gerakan Indonesia berfaham dan berdasar Pancasila. seminar juga diisi dari Pengurus Pusat Muhammadiyah, NU, Persis.


Pangkalan Bun - BPS Kobar lakukan Pelatihan Tugas Survei Angkatan Kerja Nasional pada hari Rabu-Jumat 2018 di Hotel Alibaba. Dalam sambutannya pada acara pembukaan Pelatihan, Ketua BPS Kobar meminta peserta agar dapat mengikuti pelatihan dengan seksama dan memahami definisi dan hal-hal baru dalam sakernas Agustus ini. Ketua BPS Kobar OO SUHARTO menambahkan bahwa kita perlu taat waktu, dan disiplin dalam pelatihan, maupun pencacahan.
Kegiatan pelatihan ini menurut kepala BPS Kobar berguna untuk mengumpulkan data ketenagakerjaan. Kegiatan pembukaan pelatihan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan diakhiri dengan doa.


Mendapatkan haid ketika iktikaf di 10 malam terakhir pastinya 'sesuatu'.

Ada rasa sedih itu manusiawi sebagaimana aisyah menangis saat mendapatkan haid di haji wada'

Akan tetapi haid bukan alasan untuk tidak mendapatkan keberkahan Ramadhan karena ibadah ramadhan banyak jenisnya, sementara yang terlarang untuk perempuan haid hanya sholat dan puasa.

Maka tetaplah berupaya menjaga kesinambungan amal di hari-hari kemaren seperti berzikir, sedekah, memberi makan orang berpuasa, berlama-lama bersama Al Qur'an dengan berbagai macam bentuk interaksinya.

Dan di sini, karena akhwat shalat taraweh dan qiyamul lail di tenda halaman masjid, maka yang haid masih bisa tetap merasakan ruh shalatnya dengan cara menyimak bacaan imam. Minimal 3 juz di setiap malamnya.

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.