Latest Post

Rasululullah Saw. pernah bersabda tentang ibadah tahajud. “Barang siapa menjaga tahajud dengan sungguh-sungguh, Allah memberinya sembilan kemuliaan: lima di dunia dan empat di akhirat.”

9 Kemuliaan Beribadah Tahajud
Di dunia:
(a) Allah menjauhkannya dari bencana;
(b) tanda kesalehan memancar di wajahnya;
(c) akan dicintai hamba Allah yang saleh dan disegani manusia;
(d) bicaranya menjadi hikmah;
(e) mudah paham agama Allah.

Di akhirat:
(a) bangkit dengan wajah penuh cahaya;
(b) diberi kemudahan saat hisab;
(c) seperti kilat menyambar melewati shirath;
(d) menerima catatan amal dari sebelah kanan. Subhanallah.

Beberapa waktu untuk melaksanakaan sholat tahajud.
Abu Hurairah pernah bercerita di dalam hadits; dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah pernah bersabda bahwa, “Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika masih tersisa sepertiga malam yang terakhir. Allah berfirman: 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Siapa yang memohon kepada-Ku, Aku akan memberinya. Dan siapa yang memohon ampunan kepada-Ku, Aku akan mengampuninya.'”

Yuk bangun untuk tahajjud...

Indonesia dan Korea Selatan merdeka pada hari yang berdekatan. Kalau Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, Korea Selatan merdeka pada tanggal 15 Agustus 1945. [Tepatnya Korea. Korea kemudian pecah tiga tahun kemudian. 15 Agustus 1948 lahirlah negara Korea Selatan]

Walaupun Indonesia merdeka terlebih dahulu, Korea Selatan yang dahulu lebih miskin dari Indonesia, sekarang menempati papan atas Negara Maju.

Orang Korea tidak merayakan 15 Agustus-an seperti kita di Indonesia. Mereka hanya mengibarkan bendera, sudah. Tidak ada umbul-umbul, spanduk, lomba-lomba, apalagi peringatan yang meriah.



[Catatan: Perayaan HUT ke-70 RI di Istana Habiskan Rp11,5 Miliar]

Apakah tanpa semua itu mereka tidak cinta negaranya? Jawabannya, pasti tidak.

Orang Korea, tidak ada yang tidak cinta negaranya. Jika di Indonesia di tiap kantor dipasang foto presiden dan wakil presiden, di Korea mereka hanya memasang bendera negaranya. Bagi mereka, "Siapapun presidennya, negaraku tetap Korea".

Setelah kemerdekaan Korea dari Jepang, mereka masih harus melewati fase perang saudara hingga akhirnya pecah menjadi Korea Utara dan Korea Selatan. Saat itu, orang Korea teramat miskin, hingga makan nasi (yang merupakan kebutuhan pokok) saja susah.

Sehingga setiap bertemu, satu sama lain mereka akan bertanya “밥을 먹었어요?” (“Sudah makan nasi?”), jika belum maka akan diajak makan. Begitu pula dengan kerja keras, sudah tidak diragukan lagi hasil nyata dari kerja keras Korea Selatan saat ini.

Pesan dari Presiden Korea saat itu:

“Let’s work harder and harder. Let’s work much harder not to make our sons and daughters sold to foreign countries.”

(Mari kita bekerja lebih keras dan lebih keras. Mari kita bekerja lebih keras untuk tidak membuat anak-anak kita dijual ke luar negeri)

Dan kemudian ditutup oleh quote ini:

“Now, we promise that we will hand over a good country to our sons and daughters, we will give you the country worthy to be proud as well.”

("Sekarang, kita berjanji bahwa kita akan menyerahkan sebuah negara yang baik untuk putra dan putri kita, kita akan memberikan negara yang layak untuk dibanggakan.")

Bisakah kita?!

Ikadikobar- Riyadh. Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, Jumat (27/3/2015) kemarin, menerima surat dari perdana menteri Swedia, Stefan Löfven. Surat berisi permintaan maaf atas krisis yang terjadi pada hubungan antara kedua negara beberapa pekan ini.

Löfven menekankan bahwa pihaknya menyesalkan sikap dan pernyataan pemerintahnya disalah tafsiri sebagai sebuah penghinaan kepada kerajaan Arab Saudi atau Islam.

Löfven mengungkapkan keinginan besarnya untuk tetap memelihata hubungan baik antara Swedia dan Saudi. Bahkan Löfven mengapresiasi peran Saudi yang besar dalam memelihara Islam dan hal-hal yang disucikannya.

Krisis yang terjadi dalam hubungan kedua negara, menurutnya, sangat disesalkan. Saat ini Swedia sangat berharap kembalinya duta besar Saudi ke Stockholm, dan memulai lagi kerja sama kedua negara dengan penuh saling menghormati.

Selain dari perdana menteri, Raja Salman juga menerima surat dari raja Swedia, Carl XVI Gustaf, yang menekankan telah adanya hubungan harmonis antara kedua negara.

Hubungan Stockholm dengan Riyadh telah terpuruk sejak menteri luar negeri, Margot Wallstroem, berpidato di parlemen pada Februari lalu. Wallstroem menyebut Arab Saudi diktator karena melanggar hak-hak perempuan dan mencambuk blogger. (msa/dakwatuna/SkyNews)



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/03/28/66518/akhiri-krisis-hubungan-kedua-negara-swedia-meminta-maaf-arab-saudi/#ixzz3iEHeIOmd
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook


Bicara soal tumbuh bersama, maka ingatlah:
- Ingin maju? Majukan orang lain.
- Ingin kaya? Kayakan orang lain.
- Ingin cerdas? Cerdaskan orang lain.
- Ingin mulia? Muliakan orang lain.
- Ingin doa dikabulkan oleh-Nya? Doakan orang lain.
- Ingin diberi uang oleh-Nya? Berikan uang kepada orang lain.



Melalui berbagai ayat dan hadist, hati kita berkali-kali digedor dan diingatkan bahwa:
- Sebenarnya, seluruh manusia adalah satu umat.
- Membunuh satu manusia berarti membunuh seluruh manusia.
- Menyelamatkan satu manusia berarti menyelamatkan seluruh manusia.
- Menghina ayah orang lain, berarti menghina ayah kita sendiri.
- Menyantuni ibu orang lain, maka fadilahnya akan sampai kepada ibu kita.
- Mendoakan seseorang, berarti mendoakan diri kita sendiri.

Kadang, kita suka bicara yang muluk-muluk. Sebut saja, ingin memakmurkan Indonesia atau ingin memajukan umat. Yah, boleh-boleh saja. Namun hendaknya kita mulai dari yang terkeciiiiil. Dari mana? Dari rumah kita, dari kantor kita. Maksudnya, dari orang-orang bekerja dengan kita. Misal, asisten rumah (PRT), babysitter, office boy, dan supir. Dream boleh besar. Action mulai dari yang terkecil. Dan dari situlah kasih-sayang hendaknya diulurkan. Right?



Ditulis oleh Ippho Santosa.

Beruntunglah bagi hamba-hamba Allah yang beriman, yakni mereka yang mempercayai akan janji-janji Allah. Dan bahwasannya Allah Maha Menepati janji-janjiNya, serta tiada sedikitkan yang terzalimi dengan janji-janji Allah itu melainkan semuanya akan ditepati. Maha benar Allah lagi Maha Bijaksana.

Termaktub dalam Al-Qur'an di antaranya ada beberapa janji Allah kepada orang-orang beriman, yakni sebagai berikut :

1. Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) untuk kalian. (QS. Ibrahim: 7)

2. Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada kalian. (QS. Al-Baqarah: 152)

3. Berdoalah kepadaku pasti Aku kabulkan untuk kalian. (QS. Ghafir: 60)

4. Tidaklah Allah mengazab mereka, selama mereka memohon ampun (beristighfar kepada Allah). (QS. Al-Anfal: 33)

Nikmat terbesar atas bersemayamnya iman di dalam dada manusia adalah keyakinan akan sesuatu yang berasal dari sumber yang hakiki;
keyakinan bahwa Allah itu benar,
janji Allah itu adalah benar,
dan kalam Allah itu adalah benar,
hari pembalasan itu adalah benar,
dikembalikannya kita semua kepada Allah itu adalah benar,
serta surga dan neraka adalah benar;
meyakini janji Allah itu adalah sebuah kebenaran.

Ketika hati telah meyakini sebuah kebenaran yang hakiki, maka lisan dan akal akan mengakui kebenaran tersebut, kemudian jasmani akan antusias untuk menentukan pilihan sikap, maka alhasil akan terwujud amal shalih yang tampak pada pribadi-pribadi yang beriman kepada janji Allah.

Oleh :
Erik Mardiansyah


“Bukankah engkau mengaku sebagai utusan Allah..?” Ketus Aisyah radhiallahu anha kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam penuh cemburu, suatu saat dalam sebuah perjalanan.

Pasalnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta agar barang-barang yang sedikit di onta Aisyah ditukar dengan barang-barang yang banyak di onta Shafiah (Isteri Rasullah saw lainnya). Karena onta Aisyah gagah sedangkan onta Shafiah lambat.

Demikian Al-Haitsami meriwayatkannya dalam kitabnya, Majma Az-Zawaid (dengan sanad dha’if-red).

Ada pelajaran berharga dari cuplikan ‘pernak pernik’ rumah tanggal Rasulullah saw di atas.Yaitu bahwa pasangan suami isteri memiliki pola komunikasi yang khas. Kekhasan yang apabila dikelola dengan bijak dapat menjadi kehangatan hidup berumah tangga.

Ucapan Aisyah radhiallahu anha di atas, jika dilihat dari sudut pandang aqidah, jelas sangat bermasalah, karena dapat dipahami meragukan kerasulan Nabi saw. Namun, tidak demikian halnya jika dilihat dari kekhasan pola komunikasi suami isteri. Yang tampak justeru emosi cinta yang terungkap secara verbal dan refleks melampaui batas-batas pemahaman normatif.

Karenanya, menyikapi hal tersebut, Rasulullah saw hanya tersenyum, bahkan ketika Abu Bakar hendak menegurnya, beliau memintanya untuk membiarkannya, sambil berkata, ‘Sesungguhnya, sifat cemburunya membuat dia tidak dapat melihat dasar lembah dari ketinggian.’

Di antara bentuk komunikasi suami isteri yang sehat adalah manakala komunikasinya telah bersifat lepas, tidak ‘anggah ungguh’, serta tidak terbelenggu oleh simbol dan kedudukan yang ada pada masing-masing pasangan. Tentu saja, setelah hak dan kewajibannya telah dipahami masing-masing.

Pola komunikasi seperti ini, hanya dapat terwujud jika masing-masing pasangan memainkan perannya secara total dalam kehidupan rumah tangga. Namun hal tersebut bukan sesuatu yang dapat terwujud karena pandai berakting ala bintang film yang justeru banyak gagal dalam kehidupan rumah tangga sesungguhnya, tapi yang dibutuhkan adalah ketulusan cinta dan perasaan saling memiliki.

Maka, seorang isteri, walaupun misalnya dia memiliki jabatan terhormat, namun di rumah, jika komunikasi khas tersebut sudah terbentuk, sang suami bisa dengan santainya berkata, ‘Ma, buatkan teh untuk papa dong…’. Atau, seorang jenderal yang diluar begitu ditakuti bawahannya, di rumah, boleh jadi sang isteri dengan enteng mengomelinya karena pulang kemalaman. Karena…. ‘Tidak ada jenderal di depan isteri…..’

Bisa juga seorang ustaz yang diluar begitu dihormati jamaahnya, di rumah, isterinya dengan enteng memarahinya gegara dia meletakkan baju sembarangan.

Tapi saya ga berani bilang ‘Tidak ada ustaz di depan isteri..’

Jika banyak bujangan atau gadis yang sedang ‘mencari-cari’ mengangankan calon pendampingnya dengan sederet status dan simbol kehidupan. Maka, ketika sudah berkeluarga, justeru itulah yang sering menjadi kendala dalam membangun komunikasi hangat antar suami isteri. Tidak jarang kehangatan komunikasi itu terganggu, karena status dan simbol-simbol tersebut masih mendominasi atmosfer komunikasi di antara mereka.

Bayangkan jika suami seorang jenderal, lalu komunikasinya persis seperti seorang prajurit…. “Ma, perintah! siapkan teh manis!” Lalu sang isteri menjawab, “Siap! Laksanakan!” dengan muka tegang dan kaku…

Justeru ketika sudah berkeluarga, yang paling diinginkan suami adalah seorang isteri yang bertindak sebagai ‘isteri’, bukan sebagai dokter, guru, lulusan universitas ternama, anak orang kaya, dll. Begitu pula yang diinginkan isteri dari suaminya.

Suatu saat, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seseorang yang ingin mengadukan kepada sang Khalifah tentang sikap isterinya yang suka mengomelinya. Namun setibanya di dekat rumah sang Khalifah, dia mengurungkan niatnya. Apa pasal? Rupanya dari dalam rumah Khalifah, dia mendengar sang isteri sedang memarahi Khalifah. ‘Kalau khalifah saja dimarahi isterinya, apalagi saya…’ pikirnya.. (riwayat maudhu’ atau palsu-red)

Terkadang, omelan dan marah yang masih dalam bingkai cinta itu justeru menghangatkan dan ‘ngangeni’.. Jika dari ‘omelan’ bisa berbuah kehangatan dalam rumah tangga, apalagi canda tawanya…..

Ya Rabb, kumpulkan kami di surgaMu sebagaimana kami Engkau kumpulkan di duniaMu.


http://www.hasanalbanna.com/tidak-ada-jenderal-di-depan-istri/

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.