Latest Post



Pernahkah merasakan jam 10 perut sudah keroncongan gara-gara belum sarapan?

Pasti pernah, atau malah sering.

Kalau saya telat makan, biasanya kepalanya jadi pening. Obatnya gampang, makan nasi anget yang pulen, meski lauk seadanya. Biasanya pusingnya ilang.

Anehnya ini tidak terjadi ketika sedang berpuasa, meskipun gak sempat sahur atau sahurnya hanya sekedar minum segelas air putih.

Kok bisa?

Itulah kekuatan niat. Niat puasa membuat kita lupa akan derita lapar. Otak pun sudah diset kalau nanti makannya menunggu adzan Maghrib. Jadi meski perut sedikit lapar, otak akan mengingatkan.

Bagi orang berpuasa mendengar adzan Maghrib itu seperti mendapatkan kenikmatan tiada tara. Meski suara adzannya tak semerdu denting harpa.



"Ayah, nanti kalau aku nikah, acaranya nikahan & makan-makan aja." kata Qawwam (9 tahun) menjelang tidur malam hari.
"Oh gitu wam. Tapi kalo calon mertuamu gak mau bagaimana ? Kalo minta tambahan acara-acara lain." Tanyaku balik
"Ya udah, gak usah aja."
"Gak usah nikah maksudnya ?" Tanyaku
" Hrrghg ayaaaah ! Gak usah nikah Ama aku, aku cari yang lain aja !" Katanya pasti
"Ohhhh... Oh ya wam, rasul itu kasi petunjuk perempuan seperti apa yang perlu kau nikahin."
"Apa kata rasul yah ?"
"Ada empat wam. Karena cantiknya, hartanya, keturunannya & imannya"
"Dan sebaiknya kita pilih karena imannya"
"Dan tahu gak wam, ayah dapat empat2nya. Bunda cantik, kan namanya Ayu wam. Keturunan baik-baik, kan Mbah kung AKTIVIS Muhammadiyah. Hartanya juga lumayan wam, kan dokter. Terus, insya allah bunda juga beriman wam."
"Kalau kau wam, pilihan apanya ?
"Hartanya yah, biar aku kaya" jawab Qawwam sambil memainkan mata & alisnya.
"Bukan imannya wam, seperti kata rasul ?"
"Kan bisa didakwahi yaaaaahhh, biar beriman."  Katanya tegas namun sedikit berbisik
"Terus kalo gak mau juga bagaimana ?"

"AAYAAAAAHHH..... KU KENTUTIN lho ayah kalo nanya-nanya ini terus ! Bosen aku ! " Katanya sambil mencubit lenganku & matanya melotot ke arahku yang sedang tertawa terbahak-bahak

Pesona Bangil , 11 September 2017
Rizqi Tajuddin
#BabahAca



"Ayah, nanti kalau aku nikah, acaranya nikahan & makan-makan aja." kata Qawwam (9 tahun) menjelang tidur malam hari.
"Oh gitu wam. Tapi kalo calon mertuamu gak mau bagaimana ? Kalo minta tambahan acara-acara lain." Tanyaku balik
"Ya udah, gak usah aja."
"Gak usah nikah maksudnya ?" Tanyaku
" Hrrghg ayaaaah ! Gak usah nikah Ama aku, aku cari yang lain aja !" Katanya pasti
"Ohhhh... Oh ya wam, rasul itu kasi petunjuk perempuan seperti apa yang perlu kau nikahin."
"Apa kata rasul yah ?"
"Ada empat wam. Karena cantiknya, hartanya, keturunannya & imannya"
"Dan sebaiknya kita pilih karena imannya"
"Dan tahu gak wam, ayah dapat empat2nya. Bunda cantik, kan namanya Ayu wam. Keturunan baik-baik, kan Mbah kung AKTIVIS Muhammadiyah. Hartanya juga lumayan wam, kan dokter. Terus, insya allah bunda juga beriman wam."
"Kalau kau wam, pilihan apanya ?
"Hartanya yah, biar aku kaya" jawab Qawwam sambil memainkan mata & alisnya.
"Bukan imannya wam, seperti kata rasul ?"
"Kan bisa didakwahi yaaaaahhh, biar beriman."  Katanya tegas namun sedikit berbisik
"Terus kalo gak mau juga bagaimana ?"

"AAYAAAAAHHH..... KU KENTUTIN lho ayah kalo nanya-nanya ini terus ! Bosen aku ! " Katanya sambil mencubit lenganku & matanya melotot ke arahku yang sedang tertawa terbahak-bahak

Pesona Bangil , 11 September 2017
Rizqi Tajuddin
#BabahAca




*UMURMU..40,50 TAHUN..?*

Firman Allah SWT : *"...Bukankah Kami telah memberimu umur sehingga kamu sempat mengingat bagi sesiapa yang mau mengingat?"* _(Fathir: 37)_
*"Allah tidak lagi memberi alasan bagi siapa yang telah dipanjangkan6 umurnya hingga 50 tahun"* _(HR.Bukhari)_

Al-Khattabi berkata : *"Maknanya, orang yg Allah panjangkan umurnya hingga 40,50,60 tahun, tidak diterima lagi keuzuran/alasan. Karena usia 40,50,60 tahun merupakan usia yang dekat dgn kematian,* maka inilah kesempatan *untuk memperbanyak taubat, beribadah dgn khusyuk,* dan
 *bersiap-siap bertemu Allah."* _ (Tafsir alQurthubi)_

*Fudhail bin Iyadh berkata* kepada seseorang yang telah mencapai umur 40, 50, 60 tahun, Maka nasihat Fudhail kepadanya : *"Berarti  kamu berjalan menuju Tuhanmu, sekarang dan hampir sampai... Lakukan yang terbaik pada sisa usia senja-mu, lalu akan diampuni dosa-dosamu yang lalu. Tapi jika engkau masih berbuat dosa di usia senjamu, kamu pasti dihukum akibat dosa masa lalu dan masa kini sekaligus..!"*

Maka para alim ulama memberi nasihat cara menjalani *umur yang sudah mencapai 40,50,60 tahun* :

*JANGAN banyak BERGURAU dan terjebak dalam hal-hal yang tidak ada manfaatnya untuk akhirat.*

*JANGAN berlebih-lebihan, BERHIAS,  BERSOLEK, dan BERPAKAIAN.*

*JANGANLAH BERLEBIH-LEBIHAN makan, minum, dan berbelanja barang yg kurang diperlukan utk mendukung amal shalih.*

*JANGAN  BERKAWAN dengan orang yang tidak menambah iman, ilmu, dan amal.*

*JANGAN banyak berjalan dan MELANCONG ke sana sini tanpa MANFAATNYA yg dapat mendekatkan diri pada kehidupan akhirat.*

*JANGAN gelisah, berkeluh kesah, dan kesal dengan kehidupan sehari-hari. Selalu penuhi diri dg rasa sabar dan bersyukur.*

*PERBANYAK doa mengharap keridha-an Allah agar Husnul Khatimah dan dijauhkan dari Su'ul Khatimah.*

*TAMBAHKAN ilmu agama, perbanyak mengingat kematian, dan bersiap menghadapinya.*

*Siapkan WASIAT dan lakukan PEMBAGIAN harta segera*

*Kerap menjalin SILATURAHIM dan merekatkan hubungan yang renggang sebelumnya.*

*MINTA MAAF dan berbuat baik terhadap pihak yang pernah dizalimi.*

*TINGKATKAN amal SOLEH terutama amal JARIYAH yang dapat terus memberi pahala dan syafa'at setelah kita mati.*

*MAAFkan kesalahan orang kepada kita walau seberat apapun kesalahan itu.*

*Bereskan segala HUTANG yang ada dan jangan buat HUTANG BARU walaupun untuk menolong orang lain.*

*Berhentilah dari semua MAKSIAT!!!*

*MATA, berhentilah memandang yg tidak halal bagimu*

*TANGAN, berhentilah dari meraih yg bukan hak mu*

*MULUT, berhentilah makan yg tidak baik dan yg tidak halal bagimu, berhentilah dari GHIBAH, FITNAH, dan berhentilah menyakiti hati orang lain*

*TELINGA, berhentilah mendengar hal-hal haram dan tak bermanfaat*

*Berbaik sangka lah kepada Allah atas segala sesuatu yg terjadi dan menimpa*

*Penuhi terus hati dan lisan kita dg istighfar & taubat utk diri sendiri, orang tua, dan semua orang beriman, di setiap saat dan setiap waktu.*

*Semoga bermanfaat bagi kita semua, walaupun Anda belum 50 tahun. karena...*
*KEMATIAN TIDAK MENGENAL UMUR.*


KH. Abdullah Gymnastiar
https://www.facebook.com/KH.Abdullah.Gymnastiar/posts/1605637172803183

[ PANTJA-SILA dan AL MAQASHID ]

Oleh : @salimafillah


"Seorang kawan ahli bahasa", demikian konon dikatakan Ir. Soekarno dalam pidatonya di hadapan Sidang BPUPKI 1 Juni 1945, "Menyarankan agar kelima pokok hal ini disebut Pancasila."

Pidato Bung Besar, rahimahullah, kala itu memang  menjawab pertanyaan Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Sang Ketua, yakni, jika nanti negara kita berdiri, di atas dasar apakah ia akan tegak?

Kawan ahli bahasa itu tentu saja adalah Mr. M. Yamin. Tokoh dahsyat yang mengemukakan gagasan kesatuan Indonesia-nya dengan membesar-jayakan Majapahit hingga tokoh Gajah Mada-pun wajah ilustrasinya meminjam potret beliau.

Sesederhana itukah lahirnya Pancasila pada 1 Juni 1945?

Tentu saja tidak.

Pancasila rumusan Bung Karno meletakkan kebangsaan sebagai sila pertama dan ketuhanan di sila terakhir. Lengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau peri kemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial
5. Ketuhanan yang berkebudayaan

Sehari sebelumnya, pada 31 Mei, Mr. Soepomo mengajukan rancangan lain:

1. Persatuan
2. Kekeluargaan
3. Keseimbangan lahir dan batin
4. Musyawarah
5. Keadilan rakyat

Adapun gagasan Mr. M. Yamin pada 29 Mei berisi:

1. Peri kebangsaan
2. Peri kemanusiaan
3. Peri Ketuhanan
4. Peri kerakyatan
5. Kesejahteraan rakyat

Kesemua rumusan ini berbeda dengan yang akan ditetapkan sebagai Dasar Negara pada 18 Agustus 1945. Untuk diketahui, selain Ir. Soekarno, Panitia Sembilan Perumus Dasar Negara sebagai amanat PPKI yang menghasilkan Piagam Djakarta beranggotakan pula Drs. Moh. Hatta, KHA. Wahid Hasyim, Prof. KH Abdul Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, Abikusno Tjokrosujoso, Ahmad Subardjo, dan Mr. Muh. Yamin, dan A.A. Maramis. Dari kentalnya komposisi 'Ulama dan Zu'ama ini, tak heran bahwa yang disahkan kemudian -sebelum insiden dihapusnya 7 kata- adalah:

1. Ketoehanan, dengan kewadjiban mendjalankan sjari'at Islam bagi pemeloek2-nja*
2. Kemanoesiaan jang adil dan beradab
3. Persatoean Indonesia
4. Kerakjatan jang dipimpin oleh hikmat, kebidjaksanaan dalam permoesjarawaratan/perwakilan
5. Keadilan sosial bagi seloeroeh Rakjat Indonesia.

Banyak beredar selebaran maya yang menghubungkan kelima sila tersebut dengan ayat-ayat yang dipilih dari Al Quran. Sebagai seorang muslim, saya menyatakan hormat kepada yang menyatakan demikian. Saya akan menyatakan hormat pula jika ummat lain punya dalil dari kitab suci mereka tentang sila-sila Pancasila. Dan ini amat mungkin sekali mengingat luasnya kandungan kitab suci berbagai agama. Tinggal dicari dan dicocokkan.

Yang saya hendak sampaikan justru hipotesis beberapa pewaris sejarah Masyumi yang diungkap oleh Dr. Adiwarman Karim dalam sebuah artikel pendek tentang Ekonomi Syari'ah-Ekonomi Pancasila, bahwa Para 'Ulama Pendiri Bangsa itu kemungkinan telah menyusun Pancasila sesuai Maqashid Asy Syari'ah Adh Dharuriyah yang rumusannya dirintis Imam Al Ghazali kemudian disempurnakan oleh Imam Asy Syathibi dalam Al Muwafaqat.

Benar, idenya buah pikir bersama dan mungkin juga mengambil sebagian dari Bung Karno, Yamin, maupun Soepomo. Tapi susunannya, mari perhatikan Dharuriyat Al Khams, atau 5 dari tujuan pokok diturunkannya Syari'at itu:

1. Hifzhud Diin (Menjaga Agama)-> Ketuhanan
2. Hifzhun Nafs (Menjaga Jiwa Manusia)-> Kemanusiaan
3. Hifzhun Nasl (Menjaga Keturunan, Kelangsungan)-> Persatuan
4. Hifzhul 'Aql (Menjaga Akal)-> Hikmat Kebijaksanaan
5. Hifzhul Maal (Menjaga Harta dan Milik)-> Keadilan Sosial

Rahimahumullaahu Ajma'in. Semoga Allah merahmati para perumus agung dasar negara ini. Selalu diperlukan sikap adil pada Pancasila. Anti samasekali kepadanya berarti mengingkari sejarah perjuangan para 'ulama. Menerimanya secara sekuler dengan memisahkannya dari nilai-nilai Islam yang menjiwainya juga tak tepat. Selamat berpancasila.

Minggu, Mei 28, 2017 1


Siapakah beliau?
*(kisah nyata tahun 2014)*

Diantara mereka tidak tampak oleh pandangan manusia. Tersembunyi bak mutiara putih di dasar lautan.

Bismillah...

Seperti biasa setiap malam rabu ada kajian kitab Umdatul Ahkam bersama Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin al Abbad di salah satu masjid yang terletak distrik Urwah, Madinah Al-Munawwarah.
Seusai kajian kami diundang makan malam oleh salah seorang jamaah yang juga ikut hadir di majlis Syaikh Abdurrazaq malam itu. Kami pun beranjak pergi ke kediaman beliau yang tak begitu jauh dari masjid.

Sesampainya kami di rumah beliau, kami disambut ramah oleh tuan rumah. Beliau dan putra-putra beliau berdiri di dekat pintu masuk untuk menyambut para tamu undangan dengan penuh keakraban.

Rumah itu cukup mewah, semua lantai tertutup permadani yang empuk. Kursi-kursi tamu berjejer rapi dan tampak istimewa, seperti di aula seminar.
Wangi bukhur (wewangian ruangan khas Arab) yang semerbak menambah kenyamanan di ruangan itu.

Tak lama kemudian datanglah putra-putra beliau membawa teko berisi gahwah (kopi khas Arab ) dan cangkir2 kecil untuk disuguhkan kepada para tamu. Kurma sukkari kesukaanku juga tidak absen dari menu malam itu.

Anak beliau yang satunya membagikan setumpuk kitab untuk dihadiahkan kepada para tamu.

Padahal bila mengupah pembantu sebenarnya beliau mampu. Namun sang ayah benar-benar ingin menanamkan kepada putera2 beliau sikap tawadhu' dan bagaimana memuliakan tamu.

Saya melihat beliau duduk di samping pintu masuk di atas kursi lipat kecil sederhana yang biasa dipakai kakek2 sepuh yang tak mampu lagi berdiri untuk sholat.

Baju beliau juga sederhana, sekilas memang nampak tak begitu istimewa. Namun ada satu hal yang membuatku kagum dengan Sang Ayah ini (semoga Allah memberi keberkahan kepada beliau), yaitu kesederhanaan serta ketawadhuan beliau yang luar biasa...!!

Tahukah Anda siapa beliau.. ?

Beliau adalah Syaikh Yusuf Abu Muhammad yang pernah diceritakan oleh Ust Musa At-Tamimi beberapa minggu lalu di status fb beliau. Seorang miliyader Saudi, sang pemilik pabrik emas dan perak, hotel-hotel bintang lima di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi serta pabrik Roti di kota Riyadh.

Lelaki bersahaja yang telah medermakan banyak hartanya untuk membangun masjid-masjid serta madrasah-madrasah di Arab Saudi maupun di luar Arab Saudi.

Taukah Anda berapa penghasilan beliau. ?!

*LIMA BELAS (15) milyar per hari..*
*Ingat per hari..!!*

Tak hanya sekali dua kali beliau mengundang para thullab ilmi serta kaum muslimin pada umumnya untuk makan malam di rumah beliau,, akan tetapi SETIAP MALAM.

Khusus untuk malam Rabu dan Jumat beliau menyembelih beberapa unta dan beberapa ekor kambing untuk di hidangkan kepada para tamu, adapun untuk malam biasanya beliau hanya menyembelih beberapa ekor kambing saja. Hal ini semata-semata utk memuliakan tamu...

Coba bayangkan berapa biaya yang beliau keluarkan utk hidangan se istimewa itu... Apalagi setiap malam..!

Tak cukup berhenti disitu kekaguman saya... Kekayaan yang beliau miliki ternyata tidak membuat beliau lalai dari menuntut ilmu..

Tak jarang setiap habis maghrib beliau terlihat duduk bersimpuh, menghinakan diri dengan kitab Shahih Muslim di pangkuan beliau untuk mendengarkan ilmu dari Ulama hadits Madinah; Syaikh Abdulmuhsin Al-Abbad hafidzohullah di masjid Nabawi.

Semoga Allah memberkahi beliau sekeluarga.. Saya juga mendapatkan kabar dari kawan-kawan di Madinah, bahwa beliau merupakan murid daripada Syaikh Abdulaziz bin Baz Rahimahullah.
....

Saya berharap, semoga kisah sederhana ini menjadi inspirasi utk kita semua..

Setidaknya bila belum mampu berbuat seperti beliau, setelah membaca kisah ini lahirlah tekad dan niat yang kuat untuk bisa berbuat seperti beliau.. Sehingga mendapat pahala yang sama karena niat.

( enak bangett...cuma modal tekad kuat dan niat yang jujur, kita mendapatkan pahala seperti beliau.. Siapa yang nggak mau coba..?)

Rasulullah pernah bersabda:

إنَّمَا الدُّنْيَا لأرْبَعَةِ نَفَرٍ: عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالًا وَعِلمًا، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَيَعْلَمُ للهِ فِيهِ حَقًّا، فَهذا بأفضَلِ المَنَازِلِ. وَعَبْدٍ رَزَقهُ اللهُ عِلْمًا، وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ، يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلتُ بِعَمَلِ فُلانٍ، فَهُوَ بنيَّتِهِ، فأجْرُهُمَا سَوَاءٌ. وَعَبْدٍ رَزَقَهُ الله مَالًا، وَلَمَ يَرْزُقْهُ عِلْمًا، فَهُوَ يَخبطُ في مَالِهِ بغَيرِ عِلْمٍ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ، وَلاَ يَعْلَمُ للهِ فِيهِ حَقًّا، فَهذَا بأَخْبَثِ المَنَازِلِ. وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالًا وَلاَ عِلْمًا، فَهُوَ يَقُولُ: لَوْ أنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بعَمَلِ فُلاَنٍ، فَهُوَ بنِيَّتِهِ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Sesungguhnya dunia ini untuk empat orang:

1. Seorang hamba yang Allah anugerahi harta dan ilmu lalu ia pun mentaati Rabbnya pada (*penggunaan) harta dan ilmunya, menyambung silaturahim, dan mengetahui bahwa pada ilmu dan hartanya tersebut ada hak Allah, maka orang ini berada pada kedudukan yang paling utama.

2. Kemudian seorang hamba yang Allah anugerahi ilmu akan tetapi tidak Allah anugerahi harta, maka ia pun mempunyai niat yang benar, ia berkata,

“Seandainya aku memiliki harta sungguh aku akan beramal sebagaimana amalan fulan",
Maka ia dengan niatnya pahala keduanya sama.

3. Dan seorang hamba yang Allah anugerahi harta akan tetapi tidak Allah anugerahi ilmu maka ia pun ngawur menggunakan hartanya tanpa ilmu. Ia tidak mentaati Rabbnya pada hartanya, tidak pula menyambung silaturahim, tidak mengetahui bahwasanya pada hartanya itu ada hak Allah.

Maka orang ini berada pada tingkatan paling buruk.

4. Lalu seorang hamba yang tidak Allah anugerahi harta maupun ilmu maka iapun berkata,

“Seandainya aku memiliki harta tentu aku akan menggunakan hartaku sebagaimana perbuatan si fulan.." maka ia dengan niatnya dosa keduanya sama.” (HR At-Thirmidzi no 2325)

Memori : Madinah, 23 Rajab 1435 (2014)
- Ahmad Anshori -

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.