Latest Post



by: IHSAN BAIHAQI IBNU BUKHARI

Apa yang saya tulis ini seperti mengerikan. Tapi kalau dilihat komprehensif sebetulnya adalah bentuk kelembutan penuh kasih sayang dengan bingkai ketegasan. Jika ada adik kakak kerabat sudah dewasa masih tidak bisa ngapa-ngapain. Nganggur.... Karena lemah kemauan. "Usir!" Suruh hijrah. Sebab di rumah ortunya, dimarahin tiap hari, tapi tetap kemauannya bakal lemah karena merasa masih dilindungi: dikasi makan, dikasi tempat tidur dll. 


Holy Quran 4:100 ------------------ ۞ وَمَن يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. 


Di Jerman sejak 18 tahun rata-rata anak minta kebebasan tapi sebagian besar silahkan check mereka sudah mandiri tidak tinggal dengan orangtua. Di Indonesia tak sedikit anak usia kuliah apalagi SMA, belagu, protes gak mau dikasi batasan oleh orangtua. Tapi sekolah, kuliah, makan, tidur masih dari orangtua. 

Minta kebebasan tapi tidak disertai kemandirian. "Apa tidak lebih parah dengan dia di biarkan diluar sana dengan kondisi dia ketergantungan dengan narkobanya?" "Apa tidak khawatir nanti dia jadi terlalu bebas abah, takutnya malah bertambah dari narkoba terus ke free sex, misal untuk nambah-nambah uang dia jadi jual diri misalnya?". Konsep ini harus dibenerin! Dia harus makan kan? Dia harus hidup kan? Dia mungkin akan melenceng dulu. Tapi dia harus terima kenyataan! Dia kan harus survive. 


Fitrah manusia pada kebaikan. Di rumah sendiri rusak... Dan makin rusak kok.. Pilih: di rumah rusak.. Perubahannya lama karena gak dikasi batasan. Bebas tapi terus dikasi subsidi. Diluar: rusak... Tapi dia harus "kerja". Mungkn kerjanya dengan yang haram. Tapi dia akan sampe pada titik jenuh kok. 

Usir kemana abah? Ini dia nih orangtua yang lemah. Masih cenderung protektif. Klo sudah mau bebas anaknya tanpa mau dikasi batas. Ya biarin dia pergi kemanapun. Gak usah bingung. Tidur di masjid, trotoar, diskotik! Biar dia merasakan "perjuangan" hidup. Tersedah anak. Kekhawatiran orangtua begitu "klo di luar tambah rusak bagaimana?" Itu yang justru membuat orangtua akhirnya tidak berani tegas sama anak. Sebelum melepas pergi ucapkan "jika mau kembali sewaktu-waktu ke rumah ini, kami ayah ibu siap menerima kamu kapanpun! Karena kami sayang kamu. Tapi itu berarti kamu siap untuk menerima batasan dan tanggung jawab. Jika tidak bersedia berarti tidak bisa tinggal di rumah ini." 

Makannya di kelas belajar saya kan gak bisa sepotong-seotong. Ada modul kebebasan. Ada modul soal ketegasan. Terlalu banyak aturan memang masalah. Karena itu yang benar adalah SEMUA BEBAS TAPI ADA BATAS. Batasan itu artinya awalnya bebas. Bukan diatur a - z. 



Anak-anak bermasalah penyebabnya salah 1 diantara 2 hal kalo di rumah: terlalu bebas atau terlalu dikekang. Dua-duanya masalah. 

Yang seimbang: BEBAS dengan BATAS! 

SEMUA PERBUATAN BOLEH sepanjang BATAS TIDAK BERLEBIHAN. Apa itu berlebihan?
1. Membahayakan diri sendiri 
2. Merugikan orang lain 
3. Melanggar hukum negara dan agama 

Ingin anak shalih? Yuk Jadi Orangtua Shalih. Mendidik Generasi Meraih Ridlo Ilahi. 




Gaung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta membahana bukan hanya di penjuru tanah air  melainkan juga di seantero dunia. Lalu bagaimanakah keadaan Indonesia yang sebenarnya paska proklamasi. Benarkah segala bentuk penjajahan sudah dihapuskan dari bumi pertiwi ini.

Rupanya bangsa penjajah dan sekutunya tidak serta merta hengkang dari Indonesia. Malahan mereka ingin membonceng sekutu untuk kembali menjajah Indonesia. Hal itu seperti yang terjadi di Surabaya pada bulan November 945. Bulan November 1945 merupakan bulan bersejarah selain proklamasi 17 Agustus 1945. Tanggal 10 November 1945 merupakan peristiwa heroik dimana rakyat dan pemuda (arek-arek) Surabaya dengan persenjataan seadanya berani melawan Inggris dan sekutunya sampai titik darah penghabisan.


Keberanian Gubernur Suryo dalam melawan sekutu (Inggris) Pertempuran sengit tak terhindarkan dan terjadi di hampir seluruh kawasan di Surabaya. Tak terhitung korban nyawa melayang akibat pertempuran yang dahsyat itu. Surabaya menjadi lautan api. Hari dimana terjadi peristiwa heroik yang membukakan mata dunia ini untuk kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan 10 November. 


 Sehari sebelum meletusnya peristiwa pertempuran Surabaya, pada tanggal 9 November 1945 jam 23.00 Gubernur Suryo melakukan pidato di Radio Nirom. Isi pidato Gubernur Suryo adalah sikap tegasnya untuk menolak ultimatum Inggris agar rakyat Surabaya menyerah tanpa syarat. Bunyi pidato pernyataan Gubernur Suryo di Radio Nirom, di Jalan Embong Malang Surabaya Bung Karno saat itu menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Gubernur Suryo di Surabaya. 



"Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu". Begitu kutipan pidato Gubernur Suryo yang fenomenal itu. Hingga kini pekik semangat itu masih bisa traveler saksikan terpahat pada sebuah monumen di Jalan Taman Apsari Surabaya.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 10 September 1948 Gubernur Suryo mengalami nasib malang tatkala beberapa orang tak dikenal merenggut nyawanya. Tragedi yang memilukan itu diduga kuat berhubungan dengan peristiwa PKI Madiun. Beliau dimakamkan di kota kelahirannya di Magetan, Jawa Timur.

 http://m.kompasiana.com/






PADA tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia merdeka setelah penjajah Jepang tidak berdaya. Pada tanggal 29 September 1945 tentara sekutu (Inggris) yang bertugas sebagai Polisi Keamanan mendarat di berbagai kota besar di Jawa dan Sumatra, di antaranya adalah di kota Surabaya. Mereka bermaksud untuk melucuti persenjataan tentara Jepang. Ternyata, Belanda membonceng tentara Inggris dan melakukan tindakan-tindakan anarkis.

Tentu rakyat Indonesia yang telah merdeka tidak ingin kedaulatannya dikoyak-koyak kembali oleh Belanda. Maka meletuslah perang dahsyat yang terkenal dengan “Perang 10 November”. Namun rakyat Surabaya tidak dapat berbuat banyak, bahkan telah mundur ke luar kota Surabaya. Selain itu, mereka juga menunggu kiai dari Cirebon. Karena menurut Hadlratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, perlawanan akan dimualai nanti kalau sudah datang ulama dari Cirebon. Dan ulama yang dimaksud adalah KH. Abbas Abdul Jamil, dari Buntet Cirebon.

Bagaimana perjalanan Kiai Abbas ke Surabaya? Berikut ini penuturan Abdul Wachid, satu-satunya pengawal Kiai Abbas yang memberikan kesaksian secara tertulis melalui H. Samsu pada tahun 1998.

Pada hari itu, kalau tidak salah, tanggal 6 November 1945 saya dengan tiga orang yaitu Usman, Abdullah dan Sya’rani mendapat tugas dari Detasemen Hizbullah Resimen XII/SGD untuk mengawal Kiai Abbas ke front Surabaya.

Pada jam 06.30 rombongan kami, dengan diiringi pasukan Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat meninggalkan Markas Detasemen menuju stasiun Prujakan Cirebon. Rombongan kami, selain tiga pengawal serta Kiai Abbas, juga ikut Kiai H. Achmad Tamin dari Losari sebagai pendamping Kiai Abbas. Selanjutnya kami naik Kereta Api.

Pada waktu itu, Kiai Abbas mengenakan jas buka abu-abu, kain sarung plekat bersorban dan beralas kaki trumpah (sandal japit kulit). Kiai Abbas menyerahkan sebuah kantong pada saya. Setelah saya raba-raba, ternyata isinya bakyak. Saya sempat heran bahkan tertawa sendiri, untuk apa bakyak ini? Bukankah Kiai sudah memakai trumpah? Atau senjata perang? Masa senjata kok bakyak?

Pada sekitar jam 17.00, kereta api yang kami tumpangi telah masuk di stasiun Rembang Jawa Tengah. Ternyata sudah banyak orang yang menunggu. Lalu kami diantar ke Pondok Pesantren Kiai Bisri di Rembang.

Pada malam harinya, ba’da shalat Isya’, para ulama yang jumlahnya diperkirakan lebih dari 15 orang, mengadakan musyawarah untuk menentukan komando/pemimpin pertempuran di Surabaya. Hasil musyawarah memutuskan bahwa komado pertempuran dipercayakan kepada Kiai Abbas.

Ba’da shalat Subuh, Pondok Pesantren Rembang sudah ramai. Para santri sudah siap berangkat ke Surabaya, dan banyak pula yang berseragam Hizbullah. Di halaman Masjid sudah ada dua mobil sedan kuno yang berkapasitas empat orang penumpang. Kiai Abbas memanggil saya dan rekan-rekan pengawal dari Cirebon. Beliau meminta bingkisan (bakyak) yang dititipkannya pada saya. Beliau juga menyuruh kepada kami, pengawal dari Cirebon, untuk tidak ke mana-mana sampai beliau kembali dari Surabaya.

Setelah itu, Kiai Abbas naik salah satu mobil dengan Kiai Bisri di jok belakang, sementara H. Achmad Tamin duduk di depan dengan sopir. Sedang sedan yang satunya lagi berpenumpang empat orang kiai yang saya sendiri tidak tahu namanya. Dengan diiringi pekik takbir “ALLAHU AKBAR!!!”, dan pekik MERDEKA !!! yang saling bersahutan, rombongan kiai itu perlahan-lahan bergerak meninggalkan Pondok Pesantren Rembang.

Sudah hampir sepekan kami berada di Pondok pesantren Rembang. Tiada kabar berita apa-apa. Ini membuat kami gelisah. Ingin rasanya menyusul ke Surabaya kalau saja tidak ada pesan dari Kiai untuk tidak boleh ke mana-mana.

Baru pada tanggal 13 November 1945, ada beberapa laskar Hizbullah (santri Pondok Pesantren Rembang) yang datang. Kedatangannya disambut oleh santri-santri termasuk kami dan langsung dibrondong pertanyaan-pertanyaan tentang situasi peperangan Kota Surabaya.

Menurut cerita santri Rembang yang baru datang tersebut, begitu rombongan para kiai datang, langsung disambut dengan gemuruh takbir dan pekik merdeka. Lalu para kiai tersebut masuk ke Masjid dan melakukan shalat sunnah. kemudian Kiai dari Cirebon (Kiai Abbas-red) memerintahkan kepada pendamping beliau (Kiai H. Achmad Tamin-red) untuk berdoa di tepi kolam Masjid. Dan kepada Kiai Bisri dari Rembang beliau (Kiai Abbas-red) memohon agar memerintahkan para laskar / pemuda-pemuda yang akan berjuang untuk mengambil air wudlu dan meminum air yang telah diberi doa. Segera saja para laskar / pemuda-pemuda itu berebutan, bahkan ada yang merasa kurang dengan hanya berwudlu dan menerjunkan diri masuk ke dalam kolam.

Kemudian, bagaikan lebah keluar dari sarangnya, pemuda-pemuda dari segala lapisan Badan Perjuangan AREK-AREK SUROBOYO menyerbu Pasukan Sekutu dengan diiringi takbir dan pekik merdeka yang bergemuruh di seluruh penjuru Kota Surabaya yang didisambut dengan rentetan tembakan gencar dari serdadu Belanda. Korban dari kedua belah pihakpun tak terelakkan berjatuhan, terutama dari pihak kita yang hanya bersenjata bambu runcing, pentungan, atau golok seadanya yang disongsong dengan semburan peluru dari berbagai senjata otomatis modern. Sungguh tragis dan mengerikan.

“Kami dengan para kiai berada di tempat yang agak tinggi, jadi jelas sekali dapat melihat keadaan di bawah sana”, jelas santri Rembang yang ternyata pengawal Kiai Bisri Rembang. Saat itu, lanjut cerita santri Rembang, Kiai Cirebon (Kiai Abbas-Red) mengenakan alas kaki bakyak berdiri tegak di halaman masjid. Kemudian beliau membaca doa dengan menengadahkan kedua tangannya ke langit. Kiranya doa beliau terkabulkan. Saya melihat dengan mata kepala sendiri keajaiban yang luiar biasa. Beribu-ribu alu (penumbuk padi) dan lesung (tempat padi saat ditumbuk) dari rumah-rumah rakyat berhamburan terbang menerjang serdadu – serdadu Belanda. Suaranya bergemuruh bagaikan air bah sehingga Belanda kewalahan dan merekapun mundur ke kapal induk mereka.

Tidak lama kemudian, pihak sekutu mengirim pesawat Bomber Hercules. Akan tetapi pesawat itu tiba-tiba meledak di udara sebelum bereaksi. Kemudian beberapa pesawat sekutu berturut-turut datang lagi yang maksudnya akan menjatuhkan bom-bom untuk menghancurkan Kota Surabaya, namun beberapa pesawat itupun mengalami nasib yang sama, meledak di udara sebelum bereaksi. “Disitulah kehebatan Kiai Cirebon (Kiai Abbas-Red) yang dapat saya saksikan sendiri”, tandas santri Rembang meyakinkan para santri.

Keesokan harinya, lanjut cerita santri Rembang, pihak musuhpun datang lagi berbondong-bondong berupa kompi tank-tank / mobil baja dan truk-truk menyerang kubu-kubu pertahanan tentara / laskar kita yang didiringi oleh dentuman kanon dan mortir serta rentetan tembakan tembakan 12,7 dari pesawat udara yang cukup banyak jumlahnya sehingga tentara dan laskar kita banyak yang gugur dan terpaksa mundur di pinggir kota Surabaya.

Menjelang malam hari tiba, pertempuran baru agak mereda. Hanya beberapa tembakan kecil saja yang masih terdengar di sana sini.

Kemudian kami diperintah pulang oleh Pak Kiai (Kiai Bisri-red) untuk menyampaikan berita keadaan di front Surabaya kepada keluarga dan warga Pondok Pesantren bahwa pak kiai dan para alim ulama lainnya dalam keadaan selamat sehat wal afiat, dan dianjurkan kepada semua warga pondok dan masyarakat Rembang untuk berdoa memohon kepada Allah SWT atas perlindungan, keselamatan dan kemenangan bagi para pejuang kita yang dalam pertempuran melawan dan mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia.

Tiga hari kemudian, menjelang pagi, Kiai Abbas dengan pendampingnya Kiai H. Achmad Tamin dan Kiai Bisri Rembang serta beberapa kiai lainnya datang. Kami tidak banyak memperoleh informasi dari beliau-beliau tentang kejadian Surabaya. Setelah subuh, kami para pengawal dari Cirebon diperintahkan berkemas-kemas untuk pulang kembali ke Cirebon.

Dengan menumpang Kereta Api jam 06.00, kami bertolak meninggalkan Rembang dan tiba di Cirebon dengan selamat pada jam 17.30. sepanjang perjalanan dari Rembang ke Cirebon, tidak banyak yang kami bicarakan, karena Kiai Abbas dalam kelelahan dan kantuk yang amat sangat karena selama di Surabaya beliau kurang istirahat dan kurang tidur.

Demikianlah yang bisa saya sampaikan. Dan mohon maaf atas segala kelupaan.

Sumber: FP Mendukung KH. Abbas Abdul Jamil Sebagai Pahlawan Nasional.


Headline Koran 8 Nov 1945: 60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berjihad Fi Sabilillah


INI adalah HEADLINE MEDIA MAINSTREAM 8 NOVEMBER 1945, menyambut Pertempuran besar 10 November 1945.

60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berjihad Fi Sabilillah
Perang didjalan Allah oentoek menentang tiap-tiap pendjadjahan

Thomas Stamfford Raffles dalam ‘History of Java’ telah mengingatkan bila Ulama sudah bekerjasama dengan Penguasa Pribumi, jangan harap kaki penjajah akan dapat tegak dengan aman di Nusantara Indonesia.

Dr. Douwwes Dekker (Setyabudi Danudirdja) menyatakan bahwa:

“Apabila Tidak ada semangat Islam di Indonesia, sudah lama kebangsaan yang sebenarnya lenyap dari Indonesia” (dalam Aboebakar Atjeh, Riwayat Hidup A. Wahid Hasjim. Djakarta, 1957. Hal 729)

Jadi jangan heran mengapa Perjuangan kemerdekaan sangat kental dengan Spirit Jihad Fii Sabilillah, karena memang para Ulama dan santrilah yang terdepan menggemakan Prinsip ‘Hidup Mulia atau Mati Syahid’.

Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama 22 Oktober 1945 berkembang menjadi Resolusi Jihad Partai Politik Islam Masyumi 7 November 1945 pengaruhnya membangkitkan semangat "60 Miljoen Kaoem Moeslimin Indonesia Siap Berdjihad Fi Sabilillah." Perang di djalan ALLAH oentoek menentang tiap tiap Pendjadjahan. 
(HeadLine Harian "KEDAULATAN RAKJAT", 08 November 1945)

Kehadiran Kyai-kyai sepuh semisal Chodroetoes Sjeich KH. Hasyim Asy’ari dari pesantren Tebu Ireng Jombang, KH. Asjhari dan Kyai Toenggoel Woeloeng dari Jogjakarta, KH. Abbas dari pesantren Buntet Cirebon, dan Kyai Moestofa Kamil dari Partai Syarikat Islam Garut mampu membangkitkan perlawanan santri untuk maju terus pantang mundur, juga kisah legendaris 'Bambu Runcing' Kyai Soebhi Parakan-Magelang.

Mati di medan perang melawan penjajah Barat adalah mati yang indah, lebih baik gugur sebagai syuhada daripada hidup terjajah. Bunga-bunga bangsa berguguran, bau wangi surga semerbak di tanah jihad Surabaya.

Tanggal 10 November 1945 Surabaya berubah menjadi lautan api dan darah. Dilanjutkan dengan peristiwa pertempuran di Sasak Kapuk Bekasi dipimpin Kyai Haji Noer Ali dan Laskar Pencak Silat pimpinan Haji Ama Poeradiredja. Maupun peran Kyai Cibaduyut memimpin penyerbuan yang tak terduga ke gudang senjata dan gudang seragam tentara sekutu di Bandung.

Begitu juga kerjasama para ulama dan santri serta Tentara keamanan Rakyat-TKR dalam Perang Sabil di Sumatera, lewat kepahlawanan pemuda Aceh terhadap sekutu dipimpin Residen Teuku Nyak Arief dan Tengku Daud Beurueh.

Bercermin pada ungkapan Raffles sang pendiri "Singapura" juga pernyataan Dr Douwwes Dekker atas realitas kekinian. Kira-kira Dimana posisi para Ulama dan Penguasa Indonesia saat ini ?

*Sumber:https://www.facebook.com/photo.php?fbid=933755296704374&set=a.354750624604847.84249.100002097365740&type=3


Sebagian dari Anda mungkin telah mengetahui sarang burung walet. Terbentuk dari air liur burung walet yang mengering, khasiat sarang burung walet (Collocalia fuciphaga) cukup terkenal di dunia. Sejumlah penelitian juga menemukan, sarang burung walet mengandung 200 glikonutrien yang memiliki fungsi utama meregenerasi sel tubuh.


Pemerhati gaya hidup dr. Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt mengatakan, sarang burung walet telah dikenal sejak tahun 1589, ketika Jendral Cheng Ho berlayar ke Asia Tenggara dan membawa makanan ini dari Indonesia sebagai hadiah kepada Kaisar Dinasti Ming. Beberapa peneliti bahkan menyatakan, sarang burung walet telah dikonsumsi sejak 1.000 tahun lalu saat kekaisaran Dinasti Tang (618-907 SM).

"Sarang burung walet sering dikaitkan dengan manfaat kesehatannya yang dapat meregenerasi sel dan melawan penyakit. Di dalamnya mengandung asam amino dan mengandung hormon testoteron dan estrogen," kata Grace di acara `Brand's Jakarta Health Week`, Sabtu (23/5/2015).

Selain itu, kata Grace, sarang burung walet (edible bird nest) dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan paru-paru serta menjaga kesehatan kulit. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa sarang burung walet mampu membantu menetralkan infuenza, menyembuhkan luka, membuat tulang lebih kuat, dan sangat baik bagi kekebalan tubuh.

"Sarang burung walet ini bisa membantu produksi Epidermal Growth Factor (EGF) yang bisa mencerahkan kulit. Jadi bermanfaat sekali bagi Anda yang ingin menunda penuaan," katanya.

Meski demikian, Grace menambahkan, sarang burung walet sejauh ini masih disebut sebagai suplemen dan bukan obat sehingga belum ada literatur yang jelas berapa banyak kita harus mengonsumsinya.



By Fiki Ariyanti

Liputan6.com

Menginjakkan kaki di Kota Batam, satu hal yang terlintas dalam benak adalah barang-barang bermerek supermurah, mulai dari produk tas, barang elektronik, sampai pakaian bermerek. Ketika menyusuri lebih dalam salah satu kota terbesar di Kepulauan Riau ini, Anda akan menemukan sebuah toko yang menjual sarang burung walet siap santap dengan harga fantastis.

Batam terkenal dengan kuliner hidangan lautnya, termasuk sup yang tidak lazim karena terbuat dari bahan baku sarang burung walet. Tempat yang menyediakan kuliner berkhasiat ini terletak di kompleks restoran Bengkong Laut-Golden Prawn, Batam, Kepulauan Riau.

Ternyata inilah sisi lain dari kota yang berbatasan dengan Singapura itu. Restoran ini menjual sup sarang burung walet. Mengonsumsi sarang burung walet‎ dipercaya memiliki khasiat dan manfaat, di antaranya untuk kesehatan reproduksi, membuat bayi yang lahir mempunyai kulit halus dan mulus, memulihkan kesehatan usai operasi, membantu pengobatan kanker, hingga mempercepat regenerasi sel atau awet muda.

BACA JUGA

Sarang Walet Palembang Bakal Diekspor ke China

Ekspor Sarang Walet ke China, RI Bisa Raup Untung Rp 7 Triliun

Manfaat Sarang Burung Walet untuk Kulit dan Paru-Paru

"Mengonsumsi sup sarang burung walet cukup dua minggu sekali. Itu karena manfaatnya bagus sekali untuk paru-paru, baik dikonsumsi ibu hamil dan bikin awet muda," kata Yenny, salah satu penjaga toko dan restoran Bird's Nest Shop di Batam, Kamis (5/11/2015).

Wanita keturunan Tionghoa ini mengatakan, sarang burung walet kering siap saji dimasak dengan ‎cara disteam sehingga menjadi sup. Paling nikmat dihidangkan selagi panas dengan tambahan gula batu. "Yang makan sup ada orang Batam, juga Singapura. Jauh-jauh datang dari Singapura untuk mengonsumsi sup sarang burung walet," ia menambahkan.

Untuk bisa mencicipi satu porsi sup (mangkuk kecil), restoran ini menjual dengan harga Rp 125 ribu‎. Diakui Yenny, harga tersebut sebanding dengan kesehatan tubuh yang akan dirasakan penikmatnya.

Selain menyajikan sup, Yenny juga menjual sarang burung walet kering siap santap, baik untuk obat atau untuk konsumsi sehari-hari. Ada dua jenis sarang burung walet yang ditawarkan, yakni yang berasal dari gua atau alam dan sarang burung walet hasil ternak atau budidaya.

"Sarang burung walet yang dari gua warna kecokelatan, kami jual sampai Rp 38 juta per kilogram (kg). Sementara yang asalnya dari ternak, dihargai Rp 14-16 juta per kg. Itu warnanya putih," kata dia.

Yenny mengaku mendapatkan sarang burung walet dari pengepul dari Batam, Riau, dan Medan. Sarang burung walet yang dibelinya masih terdapat bulu-bulu halus sehingga Yenny dan karyawan lain harus membersihkannya supaya dijual dengan harga tinggi.

"Biasanya ramai pembeli kalau lagi hari libur, orang Singapura dan Batam membelinya. Mereka beli tidak langsung sekilo, tapi sedikit-sedikit biasanya 100 gram karena harganya mahal," tutup Yenny tanpa berani menyebut omzet penjualan sarang burung walet. (Fik/Gdn)*

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.