Latest Post


Pada suatu hari, seorang pemuda berkunjung kepada seorang ulama muda. Lantas pemuda itu meminta nasehat. Nasehatnya simple tapi benar juga!


"Wahai saudaraku... Beramallah di bumi Allah, dan jangan banyak mengharap dibalas di bumi! Karena bumi Allah bukanlah tempat balasan amal. Jika dunia adalah tempat membalas amal, maka yang paling kaya dan banyak kaya adalah ulama dan imam masjid. Gimana tidak kaya, kalau habis sholat sunnah.. Assalamu 'alaikum warohmatullah.... Duar!! Langsung datang malaikat ngasih beras satu karung.


Lalu sholat lagi...


Assalamu'alaikum warohmatullah... Duar datang malaikat bawa emas satu karung. Dunia ini tidak demikian, karena dunia bukanlah tempat membalas amal. Maka perbanyak amal ikhlaskan karena Allah. Soal doamu, permintaanmu, hajatmu diijabah oleh Allah. Maka bersyukurlah dwngan terus berubudiyah karena Allah.


Demikianlah pemuda tadi mendapatkan kata2 hikmah dari ulama muda.







Oleh : Pipit Era Martina

“Berapa honornya?”

Entah berapa kali suara itu bernyanyi di telingaku, dan entah berapa suara dengan irama berbeda yang mengarah ke sudut wajahku.

“Yang ini enggak ada honor, honornya Allah SWT yang kasih.”

“Oh gak dapat honor to, lantas ngapain kamu mau nulis? Capek-capek begadang sampe malam?”

“Ya seneng aja, rasanya bahagia ketika tahu tulisan yang kita sebarkan bermanfaat bagi pembaca, bahkan banyak yang tergugah. Bukankah itu honor yang besar?” Jawabku dengan semangat yang kian menggebu-gebu.

“Ahh, itu mah bukan honor namanya, yang namanya honor itu berbentuk materi.”

“Materi itu bonus dari Allah, nah kalau pahala itu honor yang luar biasa, tak dapat hilang ataupun tertukar.”

“Memang jodoh tertukar. Haha.”

Gelak tawanya sedikit mengiris hati, kenapa harus hal itu yang dipertanyakan, bukankah manfaat dan pahala itu lebih berharga dibanding dengan honor yang berupa materi? Kenapa harus honor yang menjadi pertanyaan empuk?

Ahh, sudahlah yang terpenting bagaimana niat kita saja dalam melakukan kebaikan, toh Allah tidak pernah tidur. Harta dan tahta sudah ada ketentuannya, bagaimana cara kita menjemput itu berbeda-beda dan tanpa disadari.

Menyebarkan dakwah dan pengetahuan atau apapun yang bermanfaat tidak harus di hitung dengan jumlah materi bukan? Tapi lihatlah seberapa banyak orang yang mencintai tulisan kita, berapa banyak manusia yang menyebarkan tulisan kita, berapa pasang mata yang meneteskan buliran bening karena terketuk pintu hatinya. Di situlah letak honor yang sangat besar. Di mana jemari kita sanggup merangkai kata indah yang mampu menembus lorong hati manusia lain.

Soal honor atau harta dunia itu urusan Allah. Allah SWT sudah mengatur semuanya serapih mungkin, jika memang selama kita menulis tidak akan menghasilkan materi, mungkin Allah akan tunjukkan dan berikan harta melalui jalan yang lain dan jika selamanya kamu tidak akan mendapatkan sepeserpun harta dari jerih payahmu menulis, ya jangan dijadikan sebuah keluhan, kagalauan atau sampai temui puncak kejenuhan. Tapi teruslah merangkai kata, teruslah menebar ilmu, walau hanya seujung jar. Percayalah, sedikit apapun itu, ilmu yang kau sebarkan dan berpengaruh positife bagi pembacanya maka itu adalah tabunganmu di akhirat nanti. Catatan yang memenuhi buku amalmu.

“Lebih baik kamu kerjakan saja hal yang lain, yang menghasilkan.”

Kembali, suara-suara sedemikian rupa menari di pendengaranku.

“Buat apa bela-belain duduk di depan layar sampe sakit punggung cuma untuk nulis yang tidak menghasilkan.”

Aku mau jawab apa? Beruntutan pertanyaan mereka seolah mengejarku, mengejek bahkan menjatuhkan kesukaanku.

“Entahlah, aku hanya merasa bahagia ketika tahu tulisanku banyak di share orang hingga berjumlah ribuan, menurutku itu sudah lebih menggembirakan dibanding dengan honor yang kau bicarakan.”

“Ehh, kamu itu terlalu bodoh ya, tulisan kamu yang di share sama orang itu cuma dibaca doang, belum tentu mereka memahami apalagi mengamalkan. Orang kamu yang nulis saja tidak seindah tulisanmu.”

Astaghfirullah, memang benar apa yang dikatakannya, perilakuku tak seindah tulisanku, namun mengapa harus keluar kata-kata buruk itu di saat kita sedang mencoba belajar sembari berbagi?

“Kau tahu, meski tulisanku tidak menggerakkan hati banyak orang, namun setidaknya niat baikku untuk berbagi dan mengajak mereka memperbaiki diri sudah tercatat baik dalam buku catatan amalku.”

“Alahh sok tahu kamu ini, lama-lama ngomong sama kamu bikin pusing kepala, kamu itu sudah termakan omongan teman-teman mu yang bisanya cuma nulis-nulis tanpa mikir besok punya uang apa enggak.”

“Terserah dirimu saja, yang terpenting bagiku adalah belajar memperbaiki diri dan terus berusaha berbagi, semoga niat baikku cukup untuk sedikit menutupi dosaku yang kian berlumut.”

“Terserah kamu saja. Pusing aku,” ucapnya sembari melambaikan tangan dan pergi.

Teman-teman sekalian, ketahuilah. Rezeki itu bukan hanya berupa materi, kesehatanpun itu berupa materi, dan menurut saya tulisan yang dibaca banyak orang bahkan sampai di share ribuan kali itu suatu rezeky yang amat luar biasa, bahagia yang tak terkira.
Berhentilah membicarakan atau menanyakan honor kepada mereka yang hobby menulis dakwah atau pengetahuan lainnya melalui media. Tidak semua penulis dihargai dengan materi, mungkin kalian melihat penulis novel ternama seperti bunda Asma Nadia, Ghalil Gibran dan yang lainnya, mereka bergelimang harta saat ini, tapi apa kalian tahu bagaimana awal perjuangan mereka yang menulis tanpa mendapat sepeserpun materi bahkan pujian sekalipun. Mereka juga sama, hinaanlah yang membuat mereka jaya, bukan pujian ataupun harta, tetapi keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur dan Allah selalu dekat dengan umat-Nya dan juga selalu senantiasa mendengar do’a-do’a makhluk-Nya.

Keep fighting dan keep Istiqamah untuk teman seperjuangan yang senantiasa menebarkan kebaikan di manapun.

Senin, 14 Rabiulakhir / 25 Januari 2016

Ini bagus untk d baca org tua , guru maupun pihak sekolah d manapun itu

SEKOLAH 'KNOWING' x SEKOLAH 'BEING'

Satu hari sy kedatangan seorang tamu dr Eropa. Sy menawarkan kepadanya melihat2 objek wisata kota Jakarta.

Pada saat kami ingin menyeberang jalan, teman sy ini selalu berusaha utk mencari zebra cross. Berbeda dgn sy dan org Jakarta yg lain, dgn mudah menyeberang dimana saja sesukanya.

Teman sy tetap tdk terpengaruh oleh situasi. Dia terus mencari zebra cross setiap kali akan menyeberang. Padahal di Indonesia tidak setiap jalan dilengkapi dgn zebra cross.

Yg lbh memalukan, meskipun sdh ada zebra cross tetap saja para pengemudi tancap gas, tidak mau mengurangi kecepatan guna memberi kesempatan pada para penyeberang. Teman sy geleng2 kepala mengetahui perilaku masyarakat kita.

Akhirnya sy coba menanyakan pandangan teman sy ini mengenai fenomena menyeberang jalan tadi.

Sy bertanya mengapa orang2 di negara kami menyeberang tidak pada tempatnya, meskipun mereka tahu bahwa zebra cross itu adalah utk menyeberang jalan. Sementara dia selalu konsisten mencari zebra cross meskipun tidak semua jalan di negara kami dilengkapi dgn zebra cross.

Pelan2 dia menjawab pertanyaan saya, "It's all happened because of The Education System."

Wah, bukan main kagetnya sy mendengar jawaban teman sy. Apa hubungan menyeberang jalan sembarangan dgn sistem pendidikan?

Dia melanjutkan penjelasannya,
"Di dunia ini ada 2 jenis sistem pendidikan, yang pertama adalah sistem pendidikan yg hanya menjadikan anak2 kita menjadi mahluk 'Knowing' atau sekedar tahu saja, sedangkan yg kedua sistem pendidikan yg mencetak anak2 menjadi mahluk 'Being'.

Apa maksudnya?

Maksudnya, sekolah hanya bisa mengajarkan banyak hal utk diketahui para siswa. Sekolah tidak mampu membuat siswa mau melakukan apa yg diketahui sebagai bagian dr kehidupannya.

Anak2 tumbuh hanya menjadi 'Mahluk Knowing', hanya sekedar 'mengetahui' bahwa:
- zebra cross adalah tempat menyeberang,
- tempat sampah adalah utk menaruh sampah.

Tapi mereka tetap menyeberang dan membuang sampah sembarangan.

Sekolah semacam ini biasanya mengajarkan banyak sekali mata pelajaran. Tak jarang membuat para siswanya stress, pressure & akhirnya mogok sekolah. Segala macam diajarkan dan banyak hal yg diujikan,
tetapi tak satupun dr siswa yang menerapkannya setelah ujian. Ujiannya pun hanya sekedar tahu, 'Knowing'.

Di negara kami, sistem pendidikan benar2 diarahkan utk mencetak manusia2 yg 'tidak hanya TAHU apa yg benar tetapi MAU melakukan apa yg benar sebagai bagian dr kehidupannya'.

Di negara kami, anak2 hanya diajarkan 3 mata pelajaran pokok:
1. Basic Sains
2. Basic Art
3. Social

Dikembangkan melalui praktek langsung dan studi kasus dan dibandingkan dgn kejadian nyata di seputar kehidupan mereka.

Mereka tidak hanya TAHU, mereka juga MAU menerapkan ilmu yg diketahui dlm keseharian hidupnya. Anak2 ini jg tahu persis alasan mengapa mereka mau atau tidak mau melakukan sesuatu.

Cara ini mulai diajarkan pd anak sejak usia mereka masih sangat dini agar terbentuk sebuah kebiasaan yg kelak akan membentuk mereka menjadi mahluk 'Being', yakni manusia2 yg melakukan apa yg mereka tahu benar."

Wow!

Betapa sekolah begitu memegang peran yg sangat penting bagi pembentukan perilaku & mental anak2 bangsa.

Betapa sebenarnya sekolah tidak hanya berfungsi sebagai lembaga sertifikasi yg hanya mampu memberi ijazah para anak bangsa.

Kita mestinya lebih mengarahkan pendidikan utk mencetak generasi yg tidak hanya sekedar TAHU tentang hal2 yg benar, tp jauh lebih penting utk mencetak anak2 yg MAU melakukan apa2 yg mereka ketahui itu benar, mencetak manusia2 yg 'Being'.

Apakah tempat anak2 kita bersekolah telah menerapkan sistem pendidikan & kurikulum yg akan menjadikan anak2 kita utk menjadi mahluk 'Being' atau hanya sekedar 'Knowing' ?

'Mengetahui Yang Benar' tetapi 'Tidak Pernah Melakukan Dengan Benar' sama dengan 'Tidak Mengetahui'.




Imam Al Ghazali berkata "bahwa setiap hal yang terdapat di alam ini selain Allah adalah perbuatan Allah dan penciptaan-Nya. Dalam setiap segala sesuatu terdapat berbagai keajaiban dan rahasia yanf menunjukkan kebijaksanaab, kekuasaan, kemuliaan dan keagungan Allah. Tetapi ia tidak dapat dijangkau seluruhnya, karena andai lautan menjadi tinta untuk menulis semua itu maka ia akan mengering sebelum mencapai sepersepuluhnya. 

Terdapat Terdapat banyak ayat di dalam Al Quran yang mendorong umat manusia untuk tafakkur tentang penciptaan Allah. Di antaranya firman Allah swt, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. (Ali 'Imran ayat 190)". Setiap ayat yang berbunyi, " Diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya," mulai dari awal Al Quran hingga akhir menunjukkan anjuran untuk banyak memikirkan ciptaan-ciptaan Allah, maka marilah kita kaji cara-cara tafakkur tentang sebagian tanda-tanda kekuasaan tersebut. 

Di antara tanda-tanda kekuasaan Allah ialah manusia yang tercipta dari setetea mani. Dirimu adalah sesuatu yang paling dekat denganmu, dan di dalam dirimu terdapat berbagai keajaiban yang menunjukkan keagungan Allah, dimana bila engkau pikirkan seumur hidup tak akan dapat mengungkap sepersepuluhnya saja. Tapi engkau malah melalaikan hal itu. Bagaimana engkau berambisi untuj mengetahui selain dirimu sedangkan terhadap diri sendiri engkau lalai dan tidak tahu?! 

Ketahuilah bahwa Allah telah memeribtahkanmu untuk menadabburi proses penciptaan mu, sebagaimana tersebut dalam kitab-Nya yang mulia, "Dan pada dirimu sendiri, maja apakah kamu tidak mwmperhatikan? (Adz-Dzariyat : 21)." Allah menyebutkan bahwa  engkau diciptakan dari setets mani yang menjijikkan dalam firmanNYa :
"Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya? Dari apakah Allah menciptakannya? Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya. Kemudian Dia memudahkan jalannya, kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur, kemudian apabila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali (Abasa 17-22)

Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusua yang berkembang biak. (Ar Rum:20)

Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkán ( ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakan? (Al Qiyamah : 37-38) 

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina, kemudian kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim) sampai waktu yang ditentukan? (Ak Mursalat :20-22)

Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penentang yang nyata. (Yasin : 77)

Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. (Al Insan :2)

Kemudia Allah juga menyebutkan bagaimana setetes mani itu dijadikan segumpal darah, kemudian segumpal darah itu dijadikan segumpal daging, kemudian segumpal daging itu dijadikan tukabg dalam firmanNYa, "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah.... (Al-Mu'Minun :12-14)."



Allah swt. Berfirman, "Dan apakah mereka tidak memerhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah? (Al A'raf: 185)". Dalam ayat lain Allah Swt juga berfirman, " Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (Al 'Imran: 190-191)."

Berdasar ayat 190-191 surah Al 'Imran ini kita tahu bahwa kesempurnaan akal hanya akan tercapai dengan zikir dan pikir. Apabila kita telah mengetahui bahwa kesempurnaan akal merupakan kesempurnaan manusia maka kita mengetahui pula kedudukan zikir dan pikir dalam tazkiyatun nafs. Oleh sebab itu, para ahli suluk senantiasa berusaha keras agar zikir dan pikir dapat berhimpun pada diri seorang salik di awal perjalanan spritualnya. Hal itu bisa dilakukan dengan memikirkan sesuatu sambil bertasbih, tahmid, takbir atau menauhidkan Allah. Imam Al Ghazali dalam kitab Ihay' 'Ulumid Din telah memaparkan cara-cara menafakuri ciptaan Allah. Bahkan sekiranya setelah membaca tulisan ini ada diantara pembaca yang mencoba untuk bertafakkur sambil membaca tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil maka dia akan menyaksikan dampak hal tersebut secara langsung di dalam hatinya sehingga benar-benar tahu pengaruh tafakkur di dalam hati dan jiwa. 

Zikir dan Fikir dapat memperdalam makrifatullah di dalam hati, yang mana makrifatullah merupakan titik tolak bagi setiap tazkiyah. Oleh sebab itu Al Ghazali mengemukakan cara-cara tafakkur tentang ciptaan Allah secara panjang lebar.




Oleh : Newisha Alifa

SABTU pagi sebelum berangkat kerja, Alhamdulillah sempat nonton salah satu tayangan TV yang kontennya berita Islami. Saat itu, tema yang dibahas adalah tentang berhati-hatilah kita saat berdoa. Perhatikan isi doa kita.

Alkisah pada zaman Rasulullah Saw, ada seorang sahabat yang berdoa supaya selalu diberikan dua buah roti setiap harinya, agar dia tidak merasa kelaparan sehingga bisa lebih khusyu’ dalam beribadah. Kalian tahu? Apa yang terjadi kemudian? Doanya itu terkabul! Tak berapa lama, sahabat tersebut difitnah hingga dipenjara. Dan alhasil, setiap hari dia selalu mendapatkan dua buah roti secara cuma-cuma. Persis seperti apa yang diucapkan dalam doanya.

Pernahkah di sini ada yang membaca joke, bahwa ada orang yang berdoa ingin kaya raya, namun hidupnya cuma mainin kaki doang? Lantas doanya dikabul, dia menjadi tukang jahit yang pada saat itu proses kerjanya memainkan kaki pada mesin jahitnya?

Atau waktu itu, saya pernah baca entah buku atau di internet. Ada seorang pria yang minta jodoh. Kemudian dia kecelakaan. Harus dirawat di rumah sakit. Dan akhirnya dia berjodoh dengan salah satu perawat di sana.

Kisah lain, seorang pria yang juga meminta jodoh. Tidak lama kemudian dia ditilang polisi. Tapi ada suatu kejadian yang membuat dia jadi akrab dengan Pak polisi tersebut. Hingga suatu saat polisinya bertanya, “Apakah kamu mau saya jodohkan dengan adik saya?” Dan akhirnya pria tersebut berjodoh dengan adik polisi tersebut. Ma Syaa Allah!

Saya sendiri pernah merasakan efek dari doa saya yang bahkan terselip juga pada sebuah kebohongan. Hal tersebut terjadi ketika saya mengundurkan diri dari proses rekrutmen di sebuah perusahaan lokal di Cikarang. Saya tiba-tiba ragu untuk menjadi karyawan di sana, karena kurang cocok dengan treatmentpihak HRD-nya terhadap pelamar kerja yang terasa serba menggantung.

Akhirnya, saya pun berbohong saat itu. Saya bilang bahwa saya sudah diterima di perusahaan lain. Padahal kenyataannya tidak! Saya sedang tidak ada proses rekrutmen di perusahaan lain manapun saat itu.

“Dimana?” tanya pihak perusahaan.
“Masih daerah Cikarang juga, Bu.” Saya berucap bohong, sambil dalam hati teriak Aamiin. Aamiin Yaa Allah.
Tiga bulan kemudian, saya benar-benar diterima di salah satu perusahaan Jepang di daerah Cikarang. Allahu Akbar! Adakah semuanya kebetulan semata? Saya yakin tidak.

Boleh jadi saat ini doa-doa kita tengah menggantung di langit. Boleh jadi saat ini, ia belum terkabul karena terhijabi dosa dan maksiat yang belum disadari, ditobati kemudian dijauhi.
Boleh jadi juga Allah sedang menunda karena Dia senang mendengar kita meratap, menangis, menunjukkan ketidakberdayaan kita sebagai hamba di hadapan-Nya.

Atau boleh jadi juga Allah lebih tahu bahwa doa yang kita panjatkan itu tak baik untuk kita, untuk kemudian akan digantikan-Nya dengan yang lebih baik.

Jadi, Buat yang lagi berdoa ingin segera dilamar. Hati-hati! Yang kumplit doanya.
Bisa jadi beneran sebentar lagi, ada yang datang ngelamar, tapi ternyata orang nggak baik gimana? Kaya’ kisah Rana -Cinta Suci Zahrana- yang sempat dilamar sama rektor kampusnya yang mata keranjang. Naudzubillah.

Berdoalah dengan sebaik-baiknya tutur kata. Yang paling penting dalam doa adalah …
“Tetapkanlah hamba, pada segala sesuatu yang mengundang ridho-Mu.”

Karena berdoa ingin kaya raya, kalau dikabul namun pada akhirnya kita menjadi sosok seperti Karun, yang segala harta kekayaannya ditenggelamkan ke bumi karena kesombongannya pada Allah. Naudzubillah. []

Redaktur: Hidayatusaadah

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.