Latest Post

Oleh: Muhammad Rasyid Ridho
Kirim Print
Cover buku “Berjalan Menembus Batas”.
Judul : Berjalan Menembus Batas
Penulis : A Fuadi, dkk.
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Terbit : Januari, 2012
Jumlah Halaman : 172 hal
ISBN : 978-602-8811-62-0
Harga : 39.000

Menularkan Khasiat Mantra Man Jadda Wajada

ikadikobar.blogspot.com- “Saya ingin merasakan pengalaman belajar di luar negeri. Itulah gumam terakhir sebelum akhirnya saya melangkahkan kaki dari “penjara suci” Annuqayah di daerah Nirmala. Saya cukup berkeyakinan bahwa bekal bahasa Inggris yang saya pelajari langsung dari seorang volunteer dari Australia, Margaret Rolling dan John Rolling, yang datang ke pondok pesantren akan memudahkan saya dalam proses pembelajaran demi petualangan berikutnya. Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan menemani banyak waktu mereka berdua selama masih di Annuqayah. Bekal itu pun semakin memantapkan saya menatap masa depan, melangkah menuju petualangan antah-berantah.”
Kutipan diambil dari tulisan Bernando J. Sujibto, seorang santri di sebuah pondok pesantren yang terkenal di Madura, Annuqayah. Seorang santri yang bermimpi menjadi penulis dan bermimpi pula menginjakkan tanah Amerika. Tak pelak, dari hasil usaha dan doa dalam langkah hidupnya, maka apa yang diimpikan pun menjadi kenyataan. Ia mendapatkan kesempatan beasiswa IELSP (Indonesian English Study Program) dan IIEF (The Indonesian International Education Foundation) selama dua bulan di bulan Juni sampai Juli 2010.
Tulisan Bernando yang berjudul Dari Sumenep ke Kolombia tersebut adalah tulisan inspiratif pertama dalam buku Berjalan Menembus Batas. Sebuah buku yang mengumpulkan kisah-kisah nyata inspiratif meraih mimpi dan kesuksesan yang dikumpulkan jadi satu bersama Ahmad Fuadi, novelis best seller Negeri 5 Menara. Yang seleksinya diumumkan di Facebook Man Jadda Wajada. Selain itu, masih ada dua belas tulisan lain dalam buku ini.
Dalam buku ini tulisan di dalamnya dibagi sesuai tema yang ada, bagian pertama adalah bagian melawan keterbatasan harta. Termasuk tulisan di atas, tadi Bernando yang memiliki harta terbatas mampu menginjakkan kaki di tanah Amerika berkat perjuangan kerasnya. Masih ada tiga tulisan lain dalam bab ini, yakni Lelaki dari Pagar Gunung karya Mey Zusana, Lelaki Pagar Dari Gunung menceritakan perjuangan ayah penulis dalam menggapai impiannya. Dari orang yang tak punya apa-apa, namun bisa menggapai impiannya menjadi sarjana untuk mengabdikan diri pada Negara dengan menjadi guru. Kisah jatuh bangun ayah penulis yang menginspirasi.
Selanjutnya Dari Loper Koran hingga Perguruan Tinggi karya Ahmad Danuji. Menceritakan pengalaman penulis yang mampu kuliah dengan segala usahanya, termasuk dengan usahanya menjual koran. Dia tak hanya menjual koran, tapi juga mencari kesempatan membaca berita dan info dalam koran yang ia jual. Itu karena minatnya yang tinggi terhadap membaca buku, akhirnya dari itu ia pun mampu menulis tulisan yang dimuat di media nasional dan menjadi peneliti di IBOEKOE (Indonesia Buku). Dan Jadi Tukang Sapu untuk Belajar Komputer karya Nanang Nurhidayat. Menceritakan perjuangan penulis untuk menjadi sarjana dimulai menjadi mahasiswa sekaligus tukang sapu kantin, menjadi penjaga rental komputer sekaligus belajar memakai komputer dan akhirnya perjuangannya menghasilkan apa yang dia inginkan.
Bagian kedua adalah tentang menahan rasa sakit. Ada lima kisah di dalamnya, tentang penulis yang terus menggapai asa dan citanya walau dalam keadaan sakit bahkan cacat. Kisah-kisah dalam buku ini begitu mengharukan dan menyentuh. Selanjutnya, bagian terakhir dalam buku ini bertema tentang menembus batas usaha. Ada empat tulisan di dalamnya, yang menceritakan perjuangan setiap penulisnya dalam mencapai apa yang diinginkan. Perjuangan yang tak biasa, perjuangan yang menembus batas usaha.
Dari inilah menurut saya, yang menjadikan judul buku ini menjadi Berjalan Menembus Batas. Buku yang sangat menginspirasi pembaca, dengan semangat menularkan khasiat mantra man jadda wajada di dalam setiap kisah di dalamnya. Walaupun mungkin banyak sering kita temui dalam hidup keseharian atau malah kita sebagai pelakunya. Maka buku ini akan semakin mengukuhkan sikap kita untuk terus berjuang mencapai mimpi yang kita punya.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/

Muhammad al-Fatih
Oleh: Muhammad al-Fatih

Kirim Print
Mengarungi samudra kehidupan
Kita ibarat para pengembara
Hidup ini adalah perjuangan
Tiada masa ‘tuk berpangku tangan


Setiap tetes peluh dan darah
Tak akan sirna ditelan masa
Segores luka di jalan Allah
Kan menjadi saksi pengorbanan

Allahu ghayatuna
Ar-Rasul qudwatuna
Al-Qur’an dusturuna
Al-Jihadu sabiluna
Al-Mautu fii sabilillah asma amanina

Allah adalah tujuan kami
Rasulullah teladan kami
Al-Qur’an pedoman hidup kami
Jihad adalah jalan juang kami
Mati di jalan Allah adalah, cita-cita kami tertinggi
(Shoutul Harokah: Bingkai Kehidupan)

Ilustrasi. (inet)
ikadikobar.blogspot.com -Secuplik nasyid harakah ini disinggung oleh Ust. Natsir Harist dalam taujihnya yang bertemakan: Menjadi Muslim Militan dan Shalih. Menjadi seorang muslim tentu saja adalah sebuah kebaikan luar biasa yang tidak ternilai harganya, namun hal itu tidaklah cukup. Maka berusaha menjadi muslim yang shalih adalah sebuah kebutuhan khusus bagi diri sendiri agar diri ini bisa dekat dengan Allah Ta’ala, penciptanya. Keshalihan pun senantiasa akan meluas dan mendewasa seiring kebersamaannya dengan ibadah-ibadah sunnah dan wajib yang senantiasa selalu dihidupkannya. Hingga pada akhirnya keshalihan itu meningkat derajatnya dan meluas radiusnya. Tak hanya shalih untuk diri sendiri, namun juga keshalihan yang membumi, menyebar luas, berderak, menghinggapi sendi-sendi kehidupan di sekeliling muslim tersebut.
Namun sayangnya, lagi-lagi menjadi muslim saja atau bahkan menjadi muslim yang shalih tidaklah cukup, meskipun kita tidak menafikan bahwa perjuangan seseorang menjadi muslim saja terkadang mengancam nyawa, pula perjuangan seseorang menuju keshalihan bukanlah barang sepele serupa membalikkan telapak tangan. Tidak, kita sama sekali tidak ingin menafikan hal tersebut. Akan tetapi, sekarang mari kita tengok sedikit ke belakang, ke kisah paling mulia yang pernah ditorehkan dalam sejarah umat manusia, sirah Rasul Muhammad saw.
Kemunculan Islam dari awal mulanya, perjuangan Islam dengan dakwah sembunyi-sembunyinya, perkabaran Islam secara terang-terangan, berbagai perang yang hampir-hampir merontokkan segala pertahanan, hingga akhirnya kemenangan gemilang yang menjadi buah perjuangan yang lebih dari hanya sekadar berbilang.
Siapakah mereka penggerak roda dakwah Islam di awal mulanya? Abu Bakr? ‘Umar bin Khattab? ‘Utsman bin Affan? ‘Ali bin Abi Thalib? Hamzah? Zaid bin Haritsah? Arkom bin Abi Arkom? Bukankah mereka muslim yang shalih? Jika pertanyaannya demikian maka jawabannya akan sangat jelas, “Ya!” mereka adalah muslim-muslim yang shalih. Namun, apakah hanya berhenti di sana, hanya berhenti pada keshalihan semata?
Bukankah Abu Bakar adalah orang yang membenarkan perjalanan Rasulullah saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dalam waktu semalam, ketika penduduk-penduduk Mekah mencaci beliau? Bukankah ‘Umar yang menantang seluruh penghuni Mekah di balik bukit ketika ia akan pergi berhijrah ke Madinah? Bukankah ‘Utsman yang dengan mudahnya berinfak sepuluh ribu dinar (setara Rp. 8.5 Milyar) untuk pasukan ‘usrah yang tengah membutuhkan bantuan? Bukankah ‘Ali yang dengan beraninya menggantikan Rasulullah saw saat kaum Quraisy hendak membunuh Rasulullah dengan mengepung rumah beliau? Betapa besar kerja-kerja mereka untuk Islam, betapa mulia ‘izzah mereka untuk Islam. Maka, hal apakah yang mereka miliki hingga apa-apa yang mereka lakukan selalu yang terbaik untuk agama ini? Militansi yang kuatlah jawabannya. Mereka adalah orang-orang muslim yang shalih, yang sangat takut kepada Tuhannya, sangat cinta kepada Rasul-Nya, sangat baik akhlak dan perangainya, serta merekalah orang-orang yang sangat tinggi militansi perjuangannya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, militan berarti bersemangat tinggi dan penuh gairah. Maka tidak menjadi hal yang mustahil Islam mampu mencapai masa kejayaannya karena pada saat itu para penggerak dakwahnya adalah orang-orang yang bersemangat tinggi dan penuh gairah dalam menyeru manusia kepada Allah ‘azza wa jalla.
***
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabut: 2).
Jihad adalah bukti militansi. Muslim yang berjihad haruslah bertaqwa dan senantiasa berbaris rapi dan teratur seakan seperti bangunan yang kokoh. Bangunan yang kokoh tidaklah mudah dihancurkan.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ ﴿٤﴾
Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh (Ash-Shaff: 4)
Muslim yang militan haruslah menjaga hubungannya dengan Allah dan tentu saja dengan manusia. Dalam bergaul dengan manusia kita harus mampu memperkenalkan kebaikan kita dan mengenali kebaikan mereka. Ta’aruf bukanlah mencari ‘aib sesama muslim, pun jika ditemukan keburukannya, maka tidak boleh ghibah.
Barangsiapa melihat kemungkaran yang dilakukan oleh muslimin, maka ubah dengan tangan, jika tidak bisa nasihati saudara kita untuk meluruskan kesalahan yang telah dilakukannya, jika masih belum berhasil juga, maka mohonkan ampun kepada Allah atas kesalahannya.
Ciri-ciri muslim yang shalih dan militan, seperti yang diungkapkan oleh Ust. Natsir Harits, adalah:
1. Hatinya hidup, mau mendengar ayat-ayat Allah dan apabila disebutkan nama Allah, bergetar hatinya. Karena Allah adalah yang Maha Besar, maka pantaslah ketika nama-Nya disebut bergetar hati, dan bertambahlah keimanan ini. Hati seorang muslim yang militan dan shalih dihidupkan oleh dzikir yang senantiasa ia lakukan saat berdiri, duduk, maupun berbaring.
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿١٩١﴾
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali-Imran: 191)
2. Dekat dengan Al-Qur’an, meskipun sesibuk apapun. Karena Al-Qur’an adalah dzikir terbaik serta Allah sudah menjamin kemudahan keseluruhan isi Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an haruslah dimulai dengan keimanan di hati, sehingga ketika dibacakan kepadanya bertambah imannya.
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ ﴿١٧﴾
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 17).
3. Kepada Tuhannya ia selalu bertawakal. Tidak pernah menyandarkan kepada kemampuannya. Sepenuhnya tawakal kepada Allah swt. Persiapan sangat penting akan tetapi itu tetap saja sepenuhnya hanya kepada Allah-lah bertawakal.
قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ ﴿١٠٨﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. Maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya).” (Al-Anbiya: 108)
4. Suka beribadah, yaitu ibadah-ibadah mahdhah, salah satunya adalah shalat. Selain menyempurnakan yang wajib juga senantiasa menghidupkan shalat-shalat sunnah. Seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw, beliau senantiasa menjaga shalat dua shalat sunnah entah dalam keadaan safar maupun mukim, yaitu shalat witir dan shalat qabliyah subuh.
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ ﴿٢٣٨﴾
Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. (QS. Al-Baqarah: 238)
5. Senang dan mudah berinfak. Seorang muslim yang shalih dan militan sangat mudah berinfak dari apa-apa yang ia cintai karena ada sebuah kesadaran yang tinggi bahwa di setiap hartanya ada bagian untuk orang-orang miskin.
وَفِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ ﴿١٩﴾
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (Adz-Dzariyat: 19)
6. Tetap pergi berjihad, ringan maupun berat. Jihad di sini adalah al-qital (perang). Akan tetapi, muslim yang shalih dan militan mengetahui jihad dengan perang bukanlah menjadi dasar gerakan. Dasar gerakannya adalah kelembutan, dialog, dakwah, dan debat dengan cara yang terbaik. Namun, jika akhirnya belum berhasil juga dan bahkan membahayakan umat muslim maka berperang menjadi kewajiban
انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿٤١﴾
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (At-Taubah: 41)
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ ﴿١٩٠﴾
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (Al-Baqarah: 190).
7. Para nabi berjuang bersama rabbaniyyun. Rabbaniyyun ini tidaklah tersedia seketika, melainkan membutuhkan tahapan-tahapan yang perlu dilakukan, yaitu: perekrutan, pembinaan, dan dakwah. Binaan para nabi ini selalu mau berjuang di jalan Allah juga, mereka selalu berusaha merekrut yang lainnya untuk pada akhirnya bersama-sama berbaris di jalan Allah. Berjuangnya para nabi (murabbi) senantiasa bersama dengan para binaannya (mutarabbi).
وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ ﴿١٤٦﴾
Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali-Imran: 146)
8. Berani mati dan berani setengah mati. Terkadang ada umat muslim yang berani mati di jalan Allah, namun ketika ia setengah mati –dalam artian bisa jadi memiliki cacat tubuh atau keburukan fisik disebabkan jihad di jalan Allah– ia kecewa, menggerutu, dan bahkan putus asa terhadap karunia Allah. Akan tetapi, seorang muslim yang shalih dan militan ia akan tetap ridha dan ikhlas dengan itu semua, karena ia meyakini: segores luka di jalan Allah, kan menjadi saksi pengorbanan.
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ ﴿١٦﴾
(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. (QS. Luqman: 16)
9. Berharap syahid di jalan Allah. Jika kita ingat kisah Khalid bin Walid, betapa besar pengharapannya syahid di jalan Allah. Tak pernah sedikit pun ia berpikir akan kembali ke rumah setelah berjihad di jalan Allah. Pernah dalam salah satu perang, sebagai komandan ia memerintahkan seluruh pasukannya mundur, agar ia bisa maju sendiri ke medan perang dan menjemput syahid. Namun, Allah berkehendak lain, majunya Khalid justru membuat musuh-musuhnya tunggang-langgang hingga Khalid belum juga berjumpa syahid di medan jihad.
قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَن يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِّنْ عِندِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا ۖ فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُم مُّتَرَبِّصُونَ ﴿٥٢﴾
Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan (kemenangan atau mati syahid). Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS. At-Taubah: 52)
10. Meminta izin kepada orang tuanya ketika akan pergi berjihad di jalan Allah. Betapapun orang tuanya adalah orang yang sering bermaksiat bahkan menyekutukan Allah, namun seorang muslim yang shalih dan militan akan senantiasa menghormati mereka.
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ ﴿١٤﴾
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)
Itulah mengapa kejayaan Islam di masa silam bukanlah hal yang mustahil karena memang aktor-aktor utama penggerak dakwahnya adalah mereka-mereka yang shalih dan militan, dua hal yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Lalu di mana posisi kita sekarang?
Wallahu a’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21612/menjadi-muslim-militan-dan-shalih/#ixzz211m45Eoo

Oleh K.H. Muhammad Arifin Ilham
...
ikadikobar.blogspot.com - Kebahagiaan hidup di dunia ini bermula dari merasakan halaawatul iimaan (manisnya iman). Dan, halaawatul iimaan adalah buah dari al-Mujaahadah fii thaa'atillah (usaha sungguh-sungguh untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah swt). Allah memberi karunia halaawatul iimaan kepada hamba-Nya, karena hamba itu terus-menerus "merayu" ridha-Nya dengan kemurnian akidah, kenikmatan beribadah, dan kemuliaan akhlak. Seseorang akan merasakan nikmatnya beribadah ketika ia konsisten melaksanakan ketaatan kepada-Nya.

Ibarat seorang musafir yang menempuh perjalanan ke suatu tempat. Dia akan merasa senang ketika akan memulai perjalanan, juga ketika masih dalam perjalanan. Puncak perasaan senang itu datang saat ia telah sampai ke tempat yang ditujunya.

Diumpamakan juga seperti anak kedl yang diajak berekreasi oleh orang tuanya. Dia akan merasa gembira ketika orang tuanya menjanjikan hal itu. Dia akan lebih gembira lagi ketika ia dan orang tuanya mulai bersiap-siap untuk berangkat ke tempat itu. Puncak kegembiraannya adalah pada saat ia sampai ke tempat tujuan.

Diibaratkan juga seperti seorang yang akan menikah.Dia merasa senang pada saat-saat menjelang pernikahan-nya. Terlebih lagi setelah pernikahan itu dilaksanakan.

Begitu juga dengan seorang hamba yang beribadah kepada Allah swt. Dia akan melaksanakan ibadahnya dengan senang hati, khusyuk, dan nikmat. Puncak kenikmatan beribadahnya dirasakan pada saat menjelang kematian. Dia akan merasakan kebahagiaan. Karena itulah pintu pertemuannya dengan Allah swt. Zat yang selalu diibadahinya dengan segenap perasaan tunduk dan cinta selama hidupnya di dunia.

Allah swt. berfirman,
"..Orang-orang yang beriman berkata, 'Sesungguhnya, orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang kehilangan diri mereka sendiri dan (kehilangan) keluarga mereka pada hari Kiamat. Ingatlah, sesungguhnya orang-orang yang lalim itu berada dalam azab yang kekal..." (asy-Syuuraa [42]: 45)

Subhanallah. Ingatlah bahwa orang-orang beriman akan tetap berkumpul bersama keluarga mereka yang beriman di akhirat nanti. Sementara orang-orang yang tidak beriman, keluarga mereka akan terpisah dan bercerai-berai. Sungguh kehidupan di dunia adalah cerminan dari kehidupan akhirat. Jika di dunia kita hidup sukses dan bahagia dalam ketaatan kepada Allah, maka di akhirat pun kita akan menjadi orang yang sukses dan bahagia di bawah naungan ridha Allah swt.

Mereka yang sukses di akhirat dimulai dari kesuksesan mereka dalam menjalani hidup di dunia, dan kesuksesan menjalani hidup di dunia adalah dengan menjadi hamba yang bertakwa.

Ali bin Abu Thalib berkata, "Kunci takwa itu ada empat. Pertama, al-khaufu minal jaliil (takut kepada Yang Maha Agung). Kedua, al'amalu bit Tanziil (mengamalkan wahyu yang telah diturunkan). Ketiga, al-Qanaa'atu bil qaliil (merasa puas dengan apa yang ada meski sedikit). Keempat, al-isti'daadu liyaumir rahiil (menyiapkan diri untuk hari kemudian)."

ltu semua benar-benar karunia dari Allah. Ingatlah bahwa mereka yang masuk ke surga bukan karena banyaknya pahala shalat, zakat, puasa at au ibadah mereka yang lain, tetapi semua itu karena rahmat dan ridha Allah swt.

"…tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (al-Hujuraat [49]: 7)

Surga terlalu mahal untuk diperoleh dengan ibadah yang hanya 60 sampai 70 tahun usia hidup kita, meski banyak orang yang usia hidupnya kurang dari itu, dan usia yang digunakan untuk beribadah pun tidak mencapai separuhnya. Sementara nikmat yang Allah berikan kepada kita tidak terhitung dengan jumlah angka-angka yang dibuat untuk urusan duniawi.

Akan tetapi, Allah mencintai kita semua. Karena rahmat dan kasih sayang-Nya itulah, Dia memberikan rasa cinta dalam hati kita. Perasaan cinta pada keimanan dan menjadikannya terasa nikmat dan indah bagi orang-orang yang beriman.

Oleh karena itu, semua kenikmatan yang Allah beri kepada kita, baik yang ada di dalam diri kita seperti hati, akal, panca indera, maupun di luar diri kita, yang ada di seluruh alam semesta, semuanya adalah fasilitas yang harus dipergunakan untuk beribadah kepada Allah swt., sehingga kita bisa men¬jadi 'Abdan syakuuran' (hamba yang bersyukur).

Karena nikmat kita bersyukur, dan rasa syukur itu sendiri adalah nikmat. Mensyukuri setiap nikmat, menikmati rasa syukur, mensyukuri nikmat lagi kemudian menikmati rasa syukur lagi, mensyukuri nikmat lagi, dan menikmati rasa syukur lagi, dan begitu seterusnya. Sehingga seluruh aktivitas hidup kita tidak lepas dari aktivitas mensyukuri nikmat dan menikmati rasa syukur itu.

Selama kita bersyukur atas semua nikmat yang Allah beri, selama itu pula hidup akan terasa nikmat.***


*)dikutip dari buku "Sesegar Telaga Kautsar"

ikadikobar.blogspot.com - Keutamaan Al-Qur’an yang terbesar adalah Al Quran merupakan kalam Allah Swt. Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan penuh berkah. Al-Qur’an memberikan petunjuk manusia kepada jalan yang lurus. Tidak ada keburukan di dalamnya, oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhori).

Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa’at baginya pada hari Kiamat. Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, dengan firmanNya: “…. Barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha:123)

Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Saw selalu membaca Al-Qur’an. Beliau juga suka mendengarkan bacaan dari sahabatnya, khususnya sahabat Ibnu Mas’ud. Beliau berlinang air matanya bila membaca dan mendengarkan bacaan Al-Qur’an, seperti yang dikisahkan dalam sebuah hadist dari Ibnu Mas’ud: Suatu ketika Rasulullah Saw meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an. Ibnu Mas’ud berkata: “Ya Rasulullah, bagaimanakah saya membacakan untukmu, padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu?”. Dijawab nabi Saw: “Saya ingin mendengar dari orang lain”. Ibnu Mas’ud berkata, ”Maka saya bacakan surat An Nisa hingga sampai pada ayatFa kaifa idzaa ji’na min kulli ummatin bisyahidin waji’na bika ’ala ha’ula’i syahiida” (Bagaimanakah jika Kami telah mendatangkan untuk setiap ummat saksinya dan Kami jadikan engkau sebagai saksi atas semua ummat itu). Nabi bersabda, “Cukuplah sampai di sini”. Saya menoleh melihat nabi SAW sedang bercucuran air mata.“ {HR. Bukhari dan Muslim}.

Sahabat Rasulullah Saw juga selalu membaca Al-Qur’an. Ketika mereka menemukan ayat yang berkaitan dengan azab Allah, mereka membacanya berulang-ulang hingga berlinang air mata. Abu Bakar ra, jika beliau menjadi imam ketika sholat, maka akan terdengar isakan tangis beliau. Suatu ketika seorang sahabat ingin ke pasar mendapati Asma binti Abu Bakar membaca salah satu ayat diulang-ulang sambil menangis. Ketika sahabat tersebut kembali dari pasar, ia masih membaca ayat yang sama sambil menangis. Itulah sikap Rasulullah Saw dan para sahabatnya ketika membaca Al-Qur’an. Kita sebagai ummat dan sebagai generasi penerusnya berusaha untuk bersikap seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan para sahabatnya ketika membaca Al-Qur’an.

Berikut beberapa Keutamaan membaca Al Quran Menurut Beberapa Ayat Suci Sl Quran dan Hadits Shahih :
  1. Firman Allah Swt: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (An-Nahl: 89)
  2. Firman Allah Swt: “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Ma’idah: 15-16).
  3. Firman Allah Swt: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi ouang-orang yang beriman. ” (Yunus: 57).
  4. Sabda Rasulullah Saw: “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa ‘at bagi pembacanya.” (HR. Muslim dari Abu Umamah).
  5. Dari An-Nawwas bin Sam’an ra. katanya: Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Didatangkan pada hari Kiamat Al-Qur’an dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini.” (HR, Muslim).
  6. Dari Utsman bin Affan ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
  7. Dari Ibnu Mas’ud ra, katanya: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih).
  8. Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash ra, bahwa Nabi Saw bersabda: “Dikatakan kepada pembaca Al-Qur’an: “Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih).
  9. Dari Aisyah ra, katanya: Nabi Saw bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala.” (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
  10. 10. Dari Ibnu Umar ra, Nabi Saw bersabda: “Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, yaitu: orang yang dikaruniai Allah Al-Qur’an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang”. (Hadits Muttafaq ‘Alaih). Yang dimaksud hasad di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469).
  11. 11. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 2 ahli diantara manusia”. Sahabat bertanya, ”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ahli Al-Qur’an adalah ahli Allah, dan orang-Nya khusus.” (HR Ahmad dan Ibnu Majah).
  12. Dalam hadist yang lain, Rasulullah SAW bersabda: Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al-Qur’an, “Bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah dengan tartil, seperti yang dilakukan di dunia, karena manzilah-mu terletak di akhir ayat yang engkau baca. “ (HR Tirmidzi)
  13. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an bertemu pembacanya pada hari kiamat saat kuburannya dikuak, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat. Dia (Al-Qur’a) bertanya, “apakah engkau mengenalku? Dia menjawab, “aku tidak mengenalmu!”. Al-Qur’an berkata, “Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yang membuatmu kehausan pada siang hari yang panas dan membuatmu terjaga pada malam hari. Sesungguhnya pedagang itu mengharapkan hasil dagangannya, dan sesungguhnya pada hari ini aku adalah milikmu dari hasil seluruh perdaganganmu, lalu dia memberikan hak milik orang itu Al-Qur’an dengan tangan kanan dan memberikan keabadian dengan tangan kirinya, lalu di atas kepalanya disematkan mahkota yang berwibawa, sedangkan Al-Qur’an mengenakan 2 pakaian yang tidak kuat disangga oleh dunia. Kedua pakaian ini bertanya, “Karena apa kami engkau kenakan?”. Ada yang menjawab: “Karena peranan Al-Qur’an. Kemudian dikatakan kepada orang itu,”Bacalah sambil naik ketingkatan-tingkatan syurga dan biliknya, maka dia naik sesuai dengan apa yang dibacanya, baik baca dengan cepat, maupun dengan tartil.” (HR Ahmad).
  14. Dari Abu Umamah ra, Rasulullah Saw bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.” (HR Muslim).
  15. Dari An Nawas bin Sam’an, Rasulullah Saw bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yang akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim).
  16. Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah Saw bersabda, ” Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat 10 kali. Saya tidak berkata Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dn Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)
  17. Dari Aisyah ra, Raslullah Saw bersabda, ”Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an akan berkumpul para malaikat yang mulia-mulia lagi taat. Sedang siapa orang yang megap-megap dan berat jika membaca Al-Qur’an, mendapat pahala 2 kali lipat.” (HR Bukhari, Muslim)
  18. Dari Al Barra bin Azib ra, “ Ada seorang membaca surat Al Kahfi sedang tidak jauh dari tempatnya, ada kuda yang terikat dengan tali kanan kiri, tiba-tiba orang itu diliputi oleh cahaya yang selalu mendekat kepadanya, sedang kuda itu lari ketakutan. Dan pada pagi hari ia datang memberi tahu kejadian itu kepada Nabi Saw, maka bersabda nabi Saw, ”Itulah ketenangan (rahmat) yang telah turun untuk bacaan Al-Qur’an itu.” (HR Bukhori dan Muslim).
Setelah kita mengetahui betapa banyak keutamaan membaca Al Quran, maka mulai hari ini, mari kita perbanyak membaca Al Quran. Dan bila ada dari kita yang mungkin masih belum lancar membaca Al Quran , jangan patah semangat, lihatlah hadits  No.9, teruslah membacanya, karena Al Quran yang yang kita baca, akan menemui kita dihari kiamat kelak, lihatlah sabda Rasulullah Saw, pada hadits No. 13 diatas. Selain itu Al Quran yang kita baca,  akan memberikan syafaat untuk kita (hadits No. 4).

Dewi Yana
http://jalandakwahbersama.wordpress.com


أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ إِذَا رَجَعَ إِلَى أَهْلِهِ أَنْ يَجِدَ فِيهِ ثَلَاثَ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ فَثَلَاثُ آيَاتٍ يَقْرَأُ بِهِنَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ ثَلَاثِ خَلِفَاتٍ عِظَامٍ سِمَانٍ

“Apakah salah seorang dari kalian suka jika ketika dia kembali kepada isterinya, di rumahnya dia mendapati tiga ekor unta yang sedang bunting lagi gemuk-gemuk?” Kami menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Tiga ayat yang dibaca oleh salah seorang dari kalian di dalam shalatnya adalah lebih baik daripada ketiga ekor unta yang bunting dan gemuk itu.” (HR. Muslim)
 
ikadikobar.blogspot.com - Sahabat, di dalam hadits ini tergambar jelas keutamaan membaca Al-Qur'an di dalam shalat. Bahwa membaca Al-Qur'an walau satu ayat di di dalam shalat lebih baik daripada mendapat seekor unta yang bunting lagi gemuk. Apalagi jika kita membacanya lebih dari satu ayat, maka kita akan memperoleh lebih banyak lagi faidah dan keutamaan. Rasulullah Saw. dalam satu haditsnya mengatakan bahwa sebaik-baik orang yang shalat adalah yang berdirinya lama. Yaitu berdiri dalam rangka membaca Al-Qur'an dan mentadabburinya.


HADITS PERTAMA
عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .
[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]
Arti Hadits / ترجمة الحديث :
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .
Pelajaran - Pelajaran dari hadits ini :
  1. Para Ulama sepakat bahwa niat adalah syarat mutlak agar suatu amal diganjar atau dibalas dengan pahala. Namun, apakah niat merupakan syarat sahnya suatu amal atau perbuatan, mereka berbeda pendapat. Ulama Syafi'iah menyebutkan, " Niat adalah syarat sahnya suatu amal atau perbuatan yang bersifat "pengantar" seperti wudhu, dan yang bersifat "tujuan" seperti shalat." Sedangkan ulama  Hanafiyah menyebutkan "Niat hanya syarat sahnya amal atau perbuatan yang bersifat "tujuan" dan bukan "pengantar".
  2. Niat dilakukan di hati, dan tidak ada keharusan untuk diucapkan.
  3. Ikhlas karena Allah merupakan salah satu syarat diterimanya amal atau perbuatan. ( Kitab Syarah & Terjemah Riyadhus Shalihin jilid 1 by DR. Mustofa Sadi Al - Khin, DR. Mustofa Al-Bugho, Muhyidin Mistu, Ali Asy - Syirbaji, Muhammad Amin Luthfi)

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.