Latest Post

ikadikobar.blogspot.com - Di malam-malam dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini berjuta umat Islam di dunia memadati masjid-masjid. Mereka berharap ketika malam Lailatul Qadar tiba, mereka sedang beribadat di masjid, sedang berdo'a mengadukan segala persoalan hidupnya dan memohonkan segala harapannya. Dahulu kami diajari pak kyai agar bisa memahami do’a-do’a ini  lebih baik.

Dalam keheningan malam (yang diduga) Lalilatul Qadar pak kyai biasa mengumpulkan kami di masjid dan mulai tausyiahnya yang khas tentang do’a ini :


Anak-anakku sekalian, banyak-banyaklah berdoa karena do’a itu bukan hanya kebutuhan kita tetapi diperintahkanNya, hanya orang-orang yang sombong yang tidak mau berdo’a. Kemudian beliau mengutip ayat "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS 40 :60 ) ”.

Berdo’alah bukan hanya untuk urusan dunia, tetapi lebih jauh dari itu adalah juga urusan akhirat kalian. Kemudian beliau mengutip : “Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" (QS 2 : 201)”.

Berdo’alah masing-masing kalian dengan suara yang lembut, kemudian beliau mengutip : “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS 7 : 55)”

Berdo’alah kalian dengan rasa khaufau wa thama’a yaitu antara rasa takut tidak diterima dan harapan untuk dikabulkan, kemudian beliau mengutip : “… dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS 7 :56)”

Berdo’alah kalian dengan penuh sesal sebagaimana penyesalan Nabi Yunus di dalam perut ikan hiu, kemudian beliau mengutip : “Dan (ingatlah kisah) Zun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman."” (QS 21 : 87-88)”

Berdo-alah kalian dalam suka maupun duka, dalam kesulitan maupun kelapangan, kemudian beliau mengutip : “…Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati (Nya).” (QS 27 :62). Dilanjutkannya pula dengan ayat : “Dan apabila manusia itu ditimpa kemudaratan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudaratan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu..."”(QS. 39 : 8)”.


Perbaikilah peluang terkabulnya do’a-do’a kalian dengan terus meningkatkan keimanan dan terus beramal saleh, kemudian beliau mengutip ayat “…dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya …” (QS 42 : 26)”.

Tausyiah beliau ditutup dengan pesan yang tidak dapat saya lupakan :

 Kalian jangan pernah putus asa dengan do’a-do’a kalian, jangan pernah berprasangka buruk pada Allah seolah-olah Allah tidak mengabulkan do’a-do’a kalian. Dia Maha Tahu tentang kebutuhan kalian, dia Maha Tahu yang terbaik untuk kalian. Bila sebagian rezeki atau apapun yang kalian minta belum dikabulkanNya, itulah yang terbaik untuk kalian – bisa jadi bila semua permintaan kalian dikabulkan persis seperti yang kalian minta, justru kalian akan berbuat berlebihan dan melampaui batas. Allah Maha Tahu ukuran rezeki – dalam bentuk apapun yang paling pas untuk kalian, maka berdo’alah sesuai ukuran kalian !.”

Kemudian beliau menutup poin terakhir dari tausyiahnya ini dengan ayat : “Dan jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS 42 : 27). I’tikaf Ramadhan 1433 H, Daarul Muttaqiin – Jonggol.*)

*) http://geraidinar.com

H. Muhammad Widus Sempo, MA


Kirim Print
ikadikobar.blogspot.com - Di pintu Allah pudarkan bias cahaya cerminmu jika engkau melihat popularitasmu sedang bersinar, tumpulkan mata pedangmu jika engkau melihat keberanian dan keperkasaanmu di atas angin, tanggalkan baju kebesaranmu dan pesonanya jika engkau takut dibuai oleh indahnya tangan-tangan kekuasaan dan singgasananya yang semu, padamkan api obor kepintaranmu jika engkau takut dari kesombongan dan keangkuhan sebagian orang-orang yang berilmu. Yang demikian itu bukanlah kepintaran, tapi kebodohan yang memperlihatkan dirinya dengan jubah kepintaran yang menipu, tuduhlah dirimu sebagai insan yang tidak sempurna memperlihatkan kehambaan sejati di hadapan keagungan Allah jika engkau takut ego diri yang berkuku iblis dengan begitu congkak membelenggumu, dan remehkanlah dirimu yang ingin dimuliakan. Dia bukan siapa-siapa, kecuali makhluk yang tidak kekal dan akan kembali kepada zat yang kekal, pemilik kehidupan kekal di akhirat nanti. Di pintu Allah robohkan keangkuhan dirimu, abaikan fitnah-fitnahnya, dan tempatkan dia di atas sajadah kehambaan yang sujud berdoa meminta hidayah dan inayah-Nya dalam meniti jalan-jalan ukhrawi yang menaburkan keindahan-keindahan maknawi yang tidak terkira.

            Hematnya, titian kehambaan ini adalah jalan tercepat menuju pintu rahmat Allah. Di sana tidak ada kemacetan dan tidak ada polusi udara yang menggumpal karena saling desak-mendesak. Setiap perindu-perindu Allah dengan leluasa dan percaya diri meniti jalan kehambaan ini menuju rahmat Allah SWT.

       
     “Syekh Sya’rawi R.A senantiasa berpesan kepada murid-muridnya dan berkata:
            “Pintu kehinaan di hadapan Allah terbuka luas dan tidak mengenal kemacetan, masuklah di rahmat Allah dari pintu ini. Dia pintu yang paling besar dan terbentang luas dalam menuju rahmat-Nya.”

           Inilah makna tarbawi yang paling menusuk dan berbobot. Mayoritas manusia tertipu oleh jati diri mereka sendiri, di antara hamba ada yang terfitnah oleh ibadah, sebagian ulama ada yang terjerumus oleh ilmu, sebagian dai ada yang dibuai oleh jutaan umat yang mendengarkannya, sebagian aktivis gerakan-gerakan Islam dikelabui oleh jihad dan pengorbanan mereka. Di samping itu, para penguasa, penentu kebijakan, dan pemilik properti yang urat leher mereka membesar oleh ketenaran yang congkak, kecuali yang dipelihara Allah dari sifat-sifat seperti ini, dan mereka itu jumlahnya sedikit.

           Syekh Sya’rawi menghidupkan kehidupan hariannya dengan cara seperti ini, kadang ia bergegas ke Masjid Husain di tengah malam dengan penjaganya (body guard), ([1]) dan di saat ia dicela oleh sahabat-sahabatnya, ia pun menjawab:
            “Saya ingin mematahkan duri jati diriku…hingga saya tidak terbunuh oleh popularitas semu dan rusak oleh nafsuku sendiri.”
            Selain itu, beliau jika bertamu di rumah sahabat-sahabatnya dan kondisi menghendakinya masuk ke tempat buang air, beliau pun tidak meninggalkan tempat buang air tersebut kecuali dicuci dan dibersihkan, bahkan kran air pun dibuatnya mengkilat cemerlang.

           Di antara nabi-nabi Allah yang menggapai rahmat Allah dengan pintu ini Nabi Yunus A.S di saat ditelan oleh ikan besar. Dia tidak bertawassul kepada Allah dengan amal baiknya, seperti yang dilakukan oleh tiga orang ([2]) yang terkurung di dalam gua, mereka bertawassul kepada Allah dengan amal baik mereka hingga datang pertolongan Allah yang mengeluarkan mereka dari kurungan gua tersebut.
            Di sini, Nabi Yunus lebih memilih pintu kehinaan dari pintu kebanggaan yang memperlihatkan amal baik dalam bertawassul dengan berkata: “Tidak ada Tuhan selain Engkau, maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang zhalim.”([3])
            Dia tidak seperti yang lain mengatakan: “Inilah ketaatanku, kedekatanku, ibadahku, dan pemberianku.” Yang demikian itu adalah pintu kebanggaan yang memperlihatkan ketaatan, pintu yang tidak terbuka luas dan lebar dalam menuju rahmat Allah.” Olehnya itu, para sufi mengatakan: “Boleh jadi dosa yang menuntun Anda ke pintu kehinaan di hadapan Allah lebih baik dari ketaatan yang kadang membutakan mata hati Anda dari nikmat Allah.”([4])

           Contoh berikutnya Nabi Musa A.S. Ia juga panutan umat dalam memperlihatkan pintu kehinaan ini di hadapan Allah dalam meraih rahmat-Nya. Ini terlihat di saat pukulannya menyebabkan kematian orang Mesir yang sedang bertikai dengan salah seorang dari kaumnya, Bani Israil. Ia sangat menyesali perbuatan tersebut, karena ia tidak bermaksud membunuhnya, tetapi semata-mata ingin membela kaumnya. Di sini dia berdoa dengan penuh kehinaan diri kepada Allah dan berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah menganiaya diriku sendiri. Karena itu ampunilah aku”. ([5])

           Hal serupa juga dicontohkan dengan baiknya titian kehidupan Abdullah bin Al-Mubarak R.A. Beliau sosok tabiin yang diteladani kezuhudannya, ketakutan, dan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Al-Qâsim bin Muhammad berkata:
            “Kami pernah melakukan perjalanan bersama dengan Abdullah bin Al-Mubarak. Sering kali terbetik di benakku pertanyaan ini: “Apa yang membuat orang ini lebih mulia dari kami, hingga ia paling tersohor di antara kami. Jika ia tersohor karena shalat, kami pun shalat, jika dengan puasa, kami pun berpuasa, jika dengan peperangan, kami pun berperang, jika dengan haji, kami pun berhaji.” Selanjutnya dia berkata: “Di saat kami sedang menyantap makanan malam dalam perjalanan ke Syam, tiba-tiba pelita yang menerangi jamuan malam kami padam. Salah seorang dari kami keluar mencari pelita dan beberapa saat kemudian ia pun datang dengan sebuah pelita. Ketika itu saya melihat wajah Abdullah bin Al-Mubarak, saya melihat jenggotnya basah dengan air mata, saya pun berkata: “Dengan ketakutan ini ia dimuliakan dari kami, boleh jadi ia mengingat hari kiamat di saat sorotan cahaya pelita itu padam memberi terang.”([6])

           Yang ingin ditekankan penulis dari tulisan singkat ini yang insya Allah akan menjadi buah-buah dakwah yang disuguhkan kepada ahli puasa di hari pertama Ramadan ini adalah:
            “Hidupkan Ramadhanmu tahun ini dengan kembali ke Allah mengetuk pintu rahmat-Nya memperlihatkan kehinaan. Pintu kehambaan yang terbuka luas dan lebar bagi para insan-insan Rabbani. Mereka yang mendatanginya dengan penuh khusyuk, tangisan kehinaan yang memperlihatkan diri berlumuran dosa menyesal di hadapan Allah. Jangan meminta sesuatu kepada Allah, kecuali Anda menangis dan merasa hina dari segala apa yang ada dalam diri Anda…dari mata, hati, dan perasaan-perasaan Anda.”([7]) 
أَللًّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةً تَكَوْنُ لَكَ رِضَاءً، وَلِحَقِّهِ أَدَاءً بِعَدَدِ ثَوَابِ قِرَاءَةِ حُرُوْفِ الْقُرْآنِ فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم. سُبْحَانَ رَبَّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْن، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْن. وَالْحَمْدُ لِله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. آمِيْن.
Ya Allah, curahkanlah shalawat dan taslim kepada baginda kami Muhammad dengan shalawat yang Engkau ridai dan baginya ditunaikan sesuai dengan jumlah pahala bacaan huruf-huruf Al-Quran di bulan suci Ramadan ini, dan shalawat dan salam kepada keluarga dan sahabatnya.
Maha suci Engkau ya Allah dari apa yang mereka sifatkan untuk-Mu, salam atas semua rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Amin. ([8])


([1])   Boleh jadi kondisi seperti ini, ditemani oleh body guard, di saat beliau menjabat Menteri Agama Mesir yang dipegangnya hanya beberapa bulan sebelum beliau mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Yang demikian itu karena di saat beliau telah meninggalkan jabatan tersebut dan mulai menekuni dunia dakwah dan tafsir Al-Quran, yang menemaninya adalah murid-muridnya dan para pemerhatinya.
([2])   Mereka dari kaum Bani Israil sebelum Islam datang. Mereka keluar dari kurungan gua tersebut dengan bertawassul kepada Allah memperlihatkan amal-amal baik mereka. (lihat kisah mereka di Shahîh Imam Bukhâri, Kitab al-Buyu’, bab Isa Isytara Syaean Lighairihi bi Ghairi Isnihi Faradiya, hadits. no: 2215, hlm. 569
([3])   Q.S. Al-Anbiya’ [21]: 87
([4])   Dr. Nâjih Ibrahim, Taammulât Dâiyah ala A’tâb Ramadân, Al Masry Al Youm, edisi 2958, Kamis, 19 Juli 2012, hlm. 20
([5])   Q.S. Al-Qashash [28]: 16
([6])   Syekh Abdul Halim Mahmud, al-Imam ar-Rabbâni az-Zâhid Abullah bin Al-Mubârak, hlm. 24
([7])   Tulisan singkat ini ditulis pada hari Jum’at, 20 Juli 2012, Tajammu Awwal, Kairo.
([8](  Doa ini dipanjatkan Ustadz Said Nursi di akhir tulisannya tentang hikmah-hikmah puasa “Risalah Ramadan”, hlm. 24

 | by @abdullahhaidir1





Oleh Abdullah Haidir
@abdullahhaidir1



Wadaa'an yaa Ramadan…

Hentakkan Jiwamu..!!

Kadang, ada saatnya dalam hidup ini, kita tidak lagi membutuhkan cara-cara gradual untuk meraih kebaikan, atau menghindar dari keburukan. Karena, perbedaan yang tipis antara menempuh cara gradual untuk melakukan perbaikan, dengan tabaathu' (keengganan), takaasul (kemalasan) dan taswiif (menunda-nunda), sering menjadi celah bagi setan untuk menghalangi seseorang dari langkah-langkah kebaikan dengan alasan bertahap dalam melakukannya.



Ya… ada saatnya kita membutuhkan hentakan jiwa untuk keluar dari perangkap setan yang menghalangi kita untuk mengambil langkah tegas, cepat dan tepat dalam melakukan kebaikan. Karena, sedikit saja kita tunda langkah tersebut dengan berbagai alibi, disanalah setan masuk, mengulur-ngulur waktu lebih lama sambil memberi janji-janji manis penuh pesona, lalu menggiring pada kesesatan yang nyata.

Ketika azan telah berkumandang, sementara kita masih tertidur lelap serasa malam masih panjang, atau tenggelam dalam kesibukan kerja bak pejuang, saat itu kita perlu hentakan untuk menggerakkan jiwa menyambut panggilan Tuhan, menghadap-Nya dengan jiwa yang tenang.

Ketika jadwal mengaji sudah tiba gilirannya, sementara kita sedang asyik bercengkrama dengan keluarga, bercanda dengan kolega, menyalurkan hobi yang disuka, menghadiri undangan tetangga, atau asyik berselancar di dunia maya, saat itu kita perlu hentakan untuk menggerakan hati, memenuhi agenda jiwa, menunaikan janji membina diri menuju takwa.

Ketika batang demi batang rokok tidak juga dapat kita tinggalkan, janji untuk menghentikannya sudah berkali-kali dinyatakan, berbagai terapi sudah dipraktekkan, saat itu kita butuh hentakan jiwa, tinggalkan total hingga tak tersisa dan hapuskan rokok dari ingatan saat itu juga.

Ketika bayang-bayang 'si Dia' begitu menggoda, senyumannya selalu terbayang di pelupuk mata, ucapannya indah terdengar bagaikan kata-kata mutiara, bayang-bayangnya selalu hadir saat bekerja, beribadah dan dimana saja, berpindah-pindah antara satu 'zina' ke 'zina' berikutnya….. Saat itu, perlu hentakan jiwa. Hapuskan 'file' tentang 'si Dia' dalam pikiran dan perangkat lainnya, atau…. segera menikah, agar ekspresi cinta tersalurkan dengan halal dan penuh mesra.

Dahulu, kala perang Mu'tah yang sangat heroik, ketika satu demi satu panglima perang kaum muslimin gugur, timbul sedikit kegentaran pada diri Abdullah bin Rawahah, sahabat mulia yang dikenal ahli sastra. Namun dia tidak ingin terpenjara oleh jebakan setan durjana. Segera dia hentakan jiwanya untuk turun ke arena, seraya bersenandung penuh makna….

Aqsamtu billahi ya nafsu latanzilinnah…….
Latanzilinnah aw latukrahinnah….
Wa qad ajlabannasu wasysyaddu rannah
Maalii araaki takrahiinal jannah…

Aku bersumpah! wahai jiwa, engkau harus turun perang.
Engkau harus turun, atau kalau tidak, engkau akan dipaksa.
Orang-orang sudah turun, perang sengit bergemerincing…
Mengapa ku lihat engkau tidak menyukai surga….?

Tak lama kemudian, Abdullah bin Rawahah sudah termasuk barisan syuhada…..

Ramadan adalah kesempatan emas untuk melakukan berbagai hentakan jiwa menuju takwa, meraih pahala, menanggalkan dosa, berharap mendapatkan kucuran rahmat, ampunan dan surga……

Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Riyadh, di penghujung Ramadan 1433 H

ikadikobar.blogspot.com - Pangkalan Bun, Cuaca Sabtu pagi menjelang Lebaran di Kota Pangkalan Bun membuat jalan Pangeran Antasari padat, sesak dan macet. Seperti biasanya Sabtu Ramadhan 1433 H DI Masjid Besar Sirajul Muhtadin Ikatan Da'i Indonesia Kab. Kotawaringin Barat bekerja sama dengan Kelompok pengajian ibu - ibu Masjid Besar Sirajul Muhtadin melakukan kegiatan Majelis Duha. Majelis Duha yang bertepatan dengan sabtu ke empat tanggal 11 Agustus 2012 ini diisi oleh seorang ulama muda Said Ali Ridho Alqodiri.


Dalam tausiyahnya beliau menjelaskan bahwa dalam Bulan Ramadhan terdapat suat malam yang lebih baik dari seribu bulan yaitu malam Lailatul Qodar, dimana barang siapa beribadah dalam malam itu dan ia mendapatkan malam lailatul qadar selama hidupnya dua belas kali maka ia sama halnya sudah beribadah selama seribu tahun lebih karena 1.000 bulan x 12 kali dibagi 12 bulan maka sama halnya ia telah beribadah selama 1000 tahun. Begitu pula ketika ia mendapati selama hidupnya 24 kali maka ia bagaikan beribadah selama 2.000 tahun lebih dan jika Allah karunia baginya sampai 36 kali dalam hidupnya mendapatkan ibadah dalam malam lailatul qadar maka ia telah menyamai ummat yang umurnya tiga ribu tahun lebih dipenuhi ibadah.

Adalah ummat Musa yang memiliki umur 1.000 tahun lebih dan ia penuhi kehidupannya dengan semangat juang untuk beribadah kepada Allah siang malam, maka Rosulullah dan ummatnya yang hanya dikaruniai umur yang pendek diberi kesempatan dan keistimewaan dengan adanya malam Lailatul Qadar.



Kirim Print
ikadikobar.blgospot.com - Ada beberapa kiat yang bisa kita lakukan demi tercapainya target mulia ini: Satu Hari Satu Juz (minimal). Kiat yang akan saya sebutkan tentunya bisa ditambah dan dikurangi sesuai dengan kesibukan masing-masing. Yang terpenting adalah komitmen untuk mencapai target dengan cara yang benar.
1. Komitmen
Komitmen membuat kita sungguh-sungguh. Ketika komitmen sudah sekuat baja, apapun halangannya insya Allah akan bisa diatasi. Komitmen yang baik hendaknya diupayakan keterlaksanaannya. Jangan jadikan keadaan sebagai alasan yang akan melemahkan kita.

2. Catat
Pencatatan diperlukan karena diri yang memang sering lupa. Pencatatan ini bukan tergolong dalam menghitung-hitung amal, karena hal itu wewenang Allah. Pencatatan hanya digunakan bagi diri yang belum terbiasa dan untuk memudahkan evaluasi.

3. Mulai dari yang kecil
Bagi pemula, jangan terlalu memaksa diri. Sesuaikan dengan kemampuan. Yang terpenting ada bacaan al-Qur’an setiap harinya. Bisa sehari satu halaman, satu hari satu lembar, atau satu hari beberapa ayat. Karena amal yang dicintai Allah adalah amal yang berkesinambungan, meski jumlahnya sedikit.
Sabda Nabi, “Orang yang MAHIR membaca Al-Qur’an akan dikumpulkan bersama para utusan yang mulia dan agung. Dan orang yang membaca Al-Qur’an dengan tersendat-sendat, dan ia merasa kesulitan (dalam membacanya) akan memperoleh dua pahala.” (H.R. Bukhari – Muslim dari Sayyidatina ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha )

4. Manfaatkan waktu mustajab
Allah telah mengalokasikan waktu yang terbaik untuk membaca al-Qur’an. “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (al-Muzammil [73]: 6) Malam yang dimaksud dalam ayat ini adalah ketika sepertiga terakhir. Di mana waktu itu merupakan waktu mustajab yang tidak ditolak setiap doa yang dipanjatkan. Udara masih segar, fisik masih fresh. Otak dan ruhani juga belum keruh. Sehingga bacaan suci itu akan mudah merasuk ke dalam hati setiap pembacanya. Penasaran? Ayo buktikan!
Waktu yang lain yang bisa dimanfaatkan adalah sesudah shalat subuh, ketika udara masih segar dan stamina masih penuh. Kemudian sebelum Maghrib sembari melepas lelah, sambil menunggu waktu berbuka puasa (sunnah atau wajib). Setelah Maghrib sambil menunggu waktu Isya’ juga merupakan waktu yang dianjurkan. Bisa dilaksanakan di masjid sambil i’tikaf.  Atau sebelum tidur barang beberapa lembar.
Ada baiknya juga memanfaatkan 5-10 menit setiap selesai shalat fardhu. Jika setiap selesai shalat bisa tilawah sebanyak 2 lembar, maka selama sehari tilawah 10 lembar. Di mana 10 lembar sama dengan 1 juz.
Yang terpenting, sesuaikan dengan kelonggaran waktu masing-masing. Sesuaikan dengan jadwal kerja, ngajar, kuliah dan aktivitas lain. Bagi yang bekerja dengan fasilitas komputer, manfaatkanlah al-Qur’an digital. Sehingga di sela-sela istirahat bisa sambil tilawah. Begitu pun dengan alat komunikasi kita. Isi dengan al-Qur’an baik audio maupun visual.
Dengan demikian, meminjam istilah Prof DR Quraish Shihab, Semoga kita bisa membumikan al-Qur’an. Agar diri ini hanya puas dengan ayat-ayat Allah. Bukan selainnya. Semoga.

5. Cari Pendukung
Hal ini lebih pada tujuan untuk saling mengingatkan. Adanya teman menjadikan diri terpacu untuk berlomba dalam kebaikan. Ketika tergelincir, harapannya teman kita itulah yang akan mengingatkan.
Buat program dengan orang-orang terdekat. Pasangan hidup, ayah, ibu, kakak, adik dan juga anggota keluarga lain. Teman-teman satu kos juga bisa diajak. Targetkan sesuai dengan kemampuan. Buat halaqah per pekan, isinya al-Qur’an. Baik tilawah, maupun pembahasan ayat per-ayat dan seterusnya. Jika kurang sumber daya, ikuti majelis taklim terdekat, yang penting shahih, sesuai sunnah.

6. Evaluasi
“Hisablah dirimu sebelum dihisab kelak di akhirat.” Kalimat ini sangat ampuh. Ia bisa membuat diri tidak berlama-lama dalam menuruti malas. Coba amati, bandingkan antara target dan realita. Catat selisihnya, evaluasi apa penyebabnya jika ternyata gagal. Jika berhasil, jangan berbangga diri. Komitmenkan untuk bertahan, syukur-syukur bisa terus membaik. Karena pekerjaan yang tidak pernah selesai adalah memperbaiki diri.

7. Libatkan Allah
Ini kiat pamungkas. Libatkan Allah dalam setiap aktivitas kebaikan kita. Bayangkan Allah mendengarkan setiap tilawah kita. Bayangkan pula bahwa al- Qur’an yang kita baca adalah langsung dari Allah untuk kita. Jika hal ini berhasil kita lakukan, insya Allah keberkahan al-Qur’an akan semakin kita rasakan dalam setiap jenak kehidupan. Sehingga kita tak pernah bosan dengan al-Qur’an.
Sebagai penutup, mari renungi pesan suci dari sang Nabi dalam sebuah hadits panjang dari Abdullah bin Amr, … Rasul bertanya, “Bagaimana kamu berpuasa?” Jawab Saya, “Setiap hari.”  Lanjut Rasul, “Bagaimana kamu mengkhatamkan al-Qur’an?” Jawabnya, “Setiap malam.” Rasul bersabda, “Berpuasalah tiga hari setiap bulan dan khatamkanlah al-Qur’an sekali setiap bulan.” Saya berkata, “Saya mampu lebih dari itu”. Rasul bersabda, “Berpuasalah tiga hari setiap minggu.” Saya berkata, “Saya mampu lebih dari itu”. Rasul bersabda, “Berbukalah selama dua hari dan berpuasalah sehari”.  Saya berkata, “Saya mampu lebih dari itu”. Rasul bersabda, “Kerjakan Puasa yang paling utama, yaitu puasa Daud. Yaitu sehari berpuasa sehari tidak. Dan khatamkanlah al-Qur’an sekali dalam tujuh malam.” (H.R. Bukhari [5052])
Senada dengan hadits tersebut, Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Makruh hukumnya bagi seorang muslim yang mengkhatamkan al-Qur’an lebih dari 40 hari tanpa adanya udzur syar’i.” 

ikadikobar.blogspot.com - Hari ini merupakan awal kaum muslimin di seluruh dunia memasuki waktu-waktu i’tikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan.  Ini kesempatan terbaik untuk berinteraksi secara intensif dengan Al-Qur’an, tidak terbatas pada membacanya – tetapi sampai memahaminya dan bahkan juga mengamalkannya. Dalam konteks mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an untuk solusi kehidupan inilah pada kesempatan ini kami ingin share – case study yang kami pilih sebagai tema  i’tikaf 1433 H di komplek Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin  - Jonggol, Bogor.


Salah satu yang ingin kami respon adalah kebutuhan dasar manusia dibidang pangan dan energi – dua isu besar yang terus menghantui umat di negeri ini.  Pangan sudah kami bahas dan mulai aplikasikan sejak i’tikaf 1432 H lalu, dengan mengimplementasikan QS 78 : 16 untuk alfaafa dan produk-produk turunannya – yang juga sudah saya munculkan dalam sejumlah tulisan setahun terakhir.

Untuk i’tikaf  kali ini yang kami jadikan contoh kasus aplikasi adalah solusi problema energi yang dihadapi masyarakat kebanyakan di Indonesia.  Ini sekedar contoh, masing-masing peserta tentu bisa memilih aplikasi kasusnya sendiri.

Dimana Al-Quran memberikan solusi untuk pemenuhan kebutuhan energi ini ?. Salah satunya yang kami temukan adalah di ayat-ayat berikut :

Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan. Kamukah yang menumbuhkan tanaman itu atau Kami-kah yang menumbuhkannya? Kami menjadikannya peringatan dan bahan yang berguna bagi para musafir.” (QS 56 : 71-73)

Jadi salah satu sumber energi itu adalah tanaman, dan ini terbukti hingga kini. Bahan bakar minyak yang kita gunakan sampai saat ini-pun berasal dari tanaman, yaitu tanaman jutaan tahun lalu yang telah menjadi fosil.

Hanya saja energi yang berasal dari tanaman yang telah menjadi fosil ini lama kelamaan akan habis, lantas apa penggantinya ?. Salah satu yang saya pilih ya kembali ke tanaman yang disebut di ayat-ayat tadi, hanya sekarang tidak perlu menunggu pembentukan fosilnya yang memakan waktu jutaan tahun.

Tanaman-tanaman yang dihasilkan hari ini, insyaallah hampir keseluruhannya bisa langsung diproses menjadi energi yang kita pakai hari ini. Karena proses pembentukannya bisa dibangun sejalan dengan proses penggunaannya – maka inilah yang disebut sumber energi terbarukan itu.

Setidaknya ada tiga kelompok tanaman yang bisa diproses untuk menghasilkan energi secara langsung seperti bioethanol. Kelompok pertama adalah tanaman-tanaman yang berserat seperti jerami, kelompok kedua adalah tanaman yang berpati seperti singkong, dan yang ketiga adalah tanaman yang bergula seperti tebu.

Agar tidak berebut dengan kebutuhan pangan manusia dan pakan ternak, maka pendekatan yang kami anjurkan adalah menggunakan hasil samping atau limbahnya saja. Jadi seluruh tanaman seperti padi, singkong dan tebu diarahkan untuk pangan manusia ataupun pakan ternak – baru hasil sampingnya yang diolah untuk menjadi energi. Dengan demikian perdebatan wacana mana yang dipentingkan antara pangan dan pakan atau energi tidak lagi perlu dilanjutkan. Keduanya dipenuhi bersamaan dari jenis-jenis tanaman yang sama.

Hasil padi utamanya untuk manusia, baru jeraminya yang diproses menjadi energi. Singkong juga demikian, jangan menanam singkong beracun yang tidak bisa dimakan manusia atau ternak semata hanya mengejar energinya. Tanamlah singkong yang paling enak untuk manusia ataupun ternak, karena yang digunakan untuk energi cukup hasil sampingnya.  Tebu-pun demikian, hasil utamanya tetap untuk  gula – yang diproses menjadi energi hanyalah limbahnya.

Secara sederhana proses dari limbah padi, singkong dan tebu menjadi energi bioethanol dapat dilihat pada grafik di bawah. Di antara tiga bahan tersebut, bahan singkong (limbah pakan ternak) yang sudah kami siapkan untuk praktek dari awal sampai produk akhirnya di Komplek Pesantren Wirausaha Daarul Muttaqiin – Jonggol.

Proses Bioethanol
Proses Bioethanol

Melalui praktek membumikan dari ayat sampai menjadi produk inilah yang ingin kami stimulir – agar para peserta i’tikaf familiar dengan proses membumikan ayat-ayatNya menjadi solusi nyata bagi permasalahan yang ada di masyarakat. Solusi energi kita pilih karena ini isu nyata di masyarakat yang sudah kehilangan minyak tanah dan keberatan untuk pindah ke gas.

Sudah ekonomiskah solusi ini ? Bisa jadi belum sempurna, tetapi justru disinilah tantangannya !. Ayat-ayatNya sangat jelas, para ilmuwan juga sudah sangat maju dalam memahami proses bioethanol ini. Bahkan tidak terbatas pada tiga kelompok  tanaman tersebut di atas, ada sumber bioethanol lain yang sangat-sangat besar yaitu Alga yang tumbuh di perairan. Tetapi mengapa sampai sekarang belum menjadi solusi ?.

Tatarannya memang bukan pada tingkatan ilmu, tetapi pada amal. Dalam beberapa menit Anda akan dapat memahami seluruh konsep bioethanol ini dari sejumlah besar sumber di internet, tetapi tidak banyak yang kemudian mampu menjadikannya solusi nyata bagi problem yang ada di masyarakat. Demikian pula dengan ayat-ayatNya, berbagai tafsir ayat-ayat Al-Qur’an kini semakin mudah diperoleh dari para ahlinya baik yang berupa kitab maupun dari internet – tetapi lagi-lagi tataran pengamalannya yang masih membutuhkan effort yang luar biasa dari umat ini.

Untuk membumikan ayat-ayat di atas menjadi solusi energi yang nyata, beberapa poin berikut yang akan menjadi penekanan kami ;

ü  Bioethanol diproses dari hasil samping/limbah produk lain yang lebih utama seperti pakan dan pangan. Sehingga ongkos produksi utamanya juga dipikul untuk produk pangan/pakan.
ü  Bioethanol yang dihasilkan didahulukan untuk rakyat bawah – yaitu pengganti minyak tanah, prosesnya lebih mudah dan rendemen hasil jauh lebih tinggi.
ü  Teknologinya sederhana, kalau toh butuh mesin destilasi – diusahakan murah sehingga bisa dibeli atau dibuat sendiri oleh kelompok masyarakat seperti koperasi desa dslb.
ü  Solusi berbasis sistem, bukan hanya berbasis produk. Artinya pendekatan yang komprehensif menyangkut produk, pelatihan ketrampilan, sumber daya/referensi dan integrasi pasar.
ü  Bukan lagi tataran ilmu atau teori, jadi berikan contoh !.

Dalam konteks memberikan contoh konkrit tersebutlah para peserta i’tikaf Ramadhan 1433 H ini akan kami ajak melalui prosesnya tahap demi tahap, dari memahami ayat sampai aplikasinya.

Bagi yang karena kuota terbatas belum bisa mengikuti acara ini, juga bagi para pembaca situs ini – sharing case study ini mudah-mudahan bisa juga bermanfaat bagi masyarakat Anda, Anda bisa hadir kapan saja ke komplek pesantren ini bila ingin melakukan exercise serupa pasca Ramadhan nanti. InsyaAllah.*)
*) http://geraidinar.com

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.