Latest Post

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Bagi kita yang mengenal sejarah Islam pastilah telah memiliki pandangan positif tentang betapa sempurnanya ajaran agama ini hingga sanggup membentuk karakter para pendahulunya menjadi pejuang, bahkan pemimpin yang hebat. Di antara para sahabat Assabiqunal Awwalun yang begitu lekat dalam ingatan kita, yaitu sosok sahabat seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib ditambah lagi dengan para tabi’in yang pernah menjadi pemimpin di kalangan umat Islam. Bila mengenang kembali aksi-aksi fenomenal mereka di zaman Rasulullah dan di masa-masa kekhalifahan, maka sangat terasa kenangan sejarah itu menumbuhkan sebuah kerinduan akan hadirnya kembali karakter-karakter kepemimpinan seperti mereka. Hampir tidak kita temukan indikator-indikator yang menjadi bukti kegagalan mereka. Yang ada justru adalah kisah-kisah sukses tentang kepemimpinan mereka. Mari kita simak penggalan-penggalan kisah kepemimpinan inspiratif beberapa di antara mereka.
Abu Bakar ash-Shiddiq, Sang Pemimpin Waraa’
Dalam sebuah penggalan pidatonya yang terkenal, Abu Bakar ash-Shiddiq dengan lantangnya mengatakan, “Orang yang kalian nilai kuat, sebenarnya kuanggap lemah. Adapun yang kalian pandang lemah adalah orang yang kuat dalam pandanganku.
Inilah kalimat yang menggambarkan keberanian dan keadilan beliau sebagai pemimpin. Tidak membuka peluang untuk berkongsi terhadap kekuatan-kekuatan besar. Akan tetapi, lebih memilih untuk menjadi penguat bagi mereka yang lemah. Tidak seperti yang terjadi saat ini. Kekuasaan justru hanya menguntungkan orang-orang dekat, pengusaha-pengusaha kakap, pejabat teras dan kalangan elit lainnya. Sedangkan rakyat kecil dimarjinalkan, pedagang kecil digusur, orang bodoh dibodoh-bodohi dan dibohongi, pegawai rendahan dibentak-bentak, dan bila tak berduit jangan mimpi memperoleh pelayanan lebih.
Bahkan beliaupun tak segan mengangkat pedang untuk memerangi mereka yang telah murtad, yang enggan menjalankan perintah Allah dengan menyebarkan kesesatan, dan yang tidak mau mengeluarkan zakat. Penyimpangan iman pasca wafatnya Rasulullah ini telah menggerakkan Abu Bakar untuk membentuk 11 unit pasukan perang untuk memberantas para pelakunya. Begitulah sosok khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Apa yang pernah dikatakan dan dilakukan Abu Bakar sebagai pemimpin adalah sebuah komitmen imaniyah antara Allah, dirinya dan umat yang dipimpinnya ketika sudah diangkat sebagai khalifah. Inilah yang melahirkan kegigihan dalam mewujudkan ucapan janji itu.
Yang terjadi pada pemimpin kita saat ini bukan hanya disumpah menyebut nama Allah saat dilantik. Bahkan sebelum terpilihpun telah mengumbar janji-janji manis dan kemudian mengkhianati sumpah dan mengingkari janji-janjinya. Mereka menjanjikan jalan ke ‘surga’ tapi yang ada adalah jalan ke ‘neraka’. Mereka menjanjikan cahaya terang tapi yang ada adalah gelap gulita. Mereka sesumbar tak akan mengambil gaji sepeserpun. Tapi, yang dia kumpulkan adalah tunjangan-tunjangan, gratifikasi, mark-up, komisi perjalanan dinas, dan hadiah-hadiah  jatah proyek. Mereka berkomitmen untuk mengemban tugas dalam 5 tahun, tapi belum seumur jagung periode kepemimpinan kembali tergoda untuk meraih jabatan yang lebih tinggi dan menjanjikan kekuasaan dan materi.
Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُوْلاً
Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Qs. al-Isra`: 34)
Umar bin Khatthab, Khalifah Pemberani yang gemar Turun ke Lapangan
Efek keberaniannya menyebabkan setan-setan menjauh dari jalan yang akan dilalui olehnya. Namun, sang khalifah begitu mudah meneteskan air mata jika ada rakyatnya yang kelaparan. Dia tak akan nyenyak tidur sampai memastikan perut-perut rakyatnya telah terisi makanan. Suatu ketika, Khalifah Umar menemukan seorang ibu yang memasak batu hanya untuk menghibur anak-anaknya yang menangis kelaparan karena tak lagi memiliki makanan. Pada saat itu juga, Umar sendirilah yang memikul sekarung gandum yang diambil dari gudang Negara.
Bila Umar tak ingin diketahui oleh orang saat melakukan blusukan dan dilakukan di saat larut malam, maka pemimpin yang saat ini melakukannya di tengah gegap gempita liputan media. Dia tak akan turun dari mobil jika kamera wartawan belum siap menyorotnya. Kegiatan itu dilakukan semata-mata untuk melambungkan popularitas sang pemimpin. Inilah model pemimpin yang gemar membohongi rakyatnya dengan tampilan luar belaka. Keasliannya ternyata tak seperti apa yang nampak. Kebohongan menjadi bahasa yang enteng diucapkannya.
Jama’ah Jum’at Rahimakumullaah,
Masih begitu banyak pemimpin di kalangan Islam yang memiliki rekam jejak dengan segala aksi fenomenal mereka. Di antara mereka adalah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang pernah dikisahkan bahwa beliau mematikan lilin istana ketika berbincang dengan putranya karena tidak pantas bagi seorang Khalifah menikmati cahaya lilin yang dibeli dari uang rakyat ketika membicarakan masalah keluarganya. Dia juga pernah diberikan kuda tunggangan peliharaan terbaik untuk kendaraan dinasnya, tapi dia menolaknya dan memerintahkan untuk menjual kembali kuda itu dan uangnya disimpan di Baitul Maal. Di masa kekuasaannyalah tidak lagi ditemukan penerima zakat. Penurunan angka kemiskinan yang cukup fantastis menjadi indikator kesuksesannya yang paling fenomenal di bidang ekonomi.
Bandingkan dengan pemimpin saat ini. Kita akan temukan rumah-rumah dinas para penguasa yang berjejal di halamannya mobil-mobil mewah. Tidak jarang fasilitas negara justru digunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarga mereka. Di akhir masa jabatannya, rakyat miskin malah bertambah, hutang negara membengkak, kurs mata uang semakin merosot, tapi ironisnya harta kekayaannya dalam LHKPN terakhir justru membuncit.
Gubernur Said bin Amir al-Jumahi yang pernah memimpin Syam atau Hims di zaman kekhalifahan Umar bin Khatthab juga memiliki sebuah kisah yang fenomenal. Saat diminta  oleh sang Khalifah untuk menjadi Gubernur di  Syam, apa jawaban Said? Bukan ungkapan  kegirangan atau ucapan terima kasih. Namun seperti orang yang tertimpa musibah dia menolak amanah itu dan berkata, “Demi Allah, jangan kau timpakan fitnah kepadaku dan jangan kau kalungkan amanah ini di leherku, jangan wahai Umar!”
Dengan tertegun, Khalifah Umar kemudian menjawab, “Kalian limpahkan seluruh urusan kalian ke pundakku. Apakah kalian akan biarkan aku sendirian menanggung beban ini?” Lantaran jawaban Umar itulah akhirnya dengan terpaksa Said pergi ke Hims untuk menjadi Gubernur. Di kemudian hari, justru  namanyalah yang tertera sebagai salah satu penduduk termiskin di negeri yang dipimpinnya sendiri.
Bandingkan kembali dengan kondisi saat ini. Demi sebuah kekuasaan para pemimpin saling sikut dan saling menjatuhkan. Keserakahan menjadi kasat mata nampak di hadapan kita. Nomor urut 1 menjadi rebutan para Caleg. Kekuasaan telah menjadi sebuah gaya hidup. Pestapora kemenangan dirayakan sebagai simbol kebanggaan, padahal beban amanah yang begitu berat terkalung di leher-leher mereka.
Sosok berikutnya yang patut untuk dikenang adalah panglima kaum muslimin, Shalahuddin al-Ayyubi. Separuh hidupnya didedikasikan untuk membebaskan negeri-negeri muslim dari cengkeraman bangsa-bangsa penindas. Sang Panglima pantang menyerah tatkala berada di medan jihad hingga begitu disegani oleh pemimpin-pemimpin dunia pada saat itu. Baginya, tak sejengkalpun tanah kaum muslimin layak dihinakan oleh siapapun. Baitul Maqdis di al-Quds, Mesir, Suriah, dan dua kota umat Islam Mekah dan Madinah terjaga kehormatannya di tangan Jenderal, Panglima sekaligus Khalifah kaum muslimin ini.
Malu rasanya untuk membandingkan beliau dengan para pemimpin saat ini. Saat Palestina terjajah, Mesir dihinakan, Muslim Rohingya dibantai, Muslim Afrika Tengah di bakar hidup-hidup karena keimanan mereka, semuanya diam. Hanya kecaman dalam pidato kenegaraan yang mereka andalkan untuk menutupi kelemahan mereka. Para pemimpin muslim terjebak pada alasan klasik konsep negara-bangsa yang membatasi persaudaraan hanya sampai pada batas-batas negara. Sungguh tak berperikemanusiaan. Saksikan putra terbaik Islam! Shalahuddin al-Ayyubi tanpa mengandalkan pidato kenegaraan, beliau terjun ke medan tempur demi kehormatan tanah dan darah kaum muslimin.
Jama’ah Jum’at Rahimakumullaah,
Allah menghadirkan begitu banyak kisah-kisah kepemimpinan baik yang buruk maupun yang diwarnai kesuksesan tidak lain adalah untuk menjadi peta bagi arah berperilaku bagi pemimpin di era kini dan di masa mendatang. Allah ceritakan kisah Fir’aun dan Namrudz di dalam al-Quran tidak untuk diikuti, tapi untuk diambil pelajarannya. Sejarah menghadirkan kisah kepemimpinan para suksesor agama Allah agar para pemimpin memiliki banyak pilihan sebagai patron bagi arah dan perilaku kepemimpinan mereka.
Para pemimpin sukses di zaman dahulu itu lahir ketika belum terdapat media sebagai alat propaganda dan ketika belum berkembangnya sistem politik. Saat ini, peran-peran politik rakyat dilibatkan secara langsung dalam suksesi kepemimpinan sebagai imbas diterapkannya sistem demokrasi modern. Umat Islam yang menjadi komponen terbesar di negara yang besar ini harus dapat memanfaatkan potensi besar itu untuk kepentingan bangsa dan Negara yang berkeadilan (adil bagi semua anak bangsa) dan berdaulat secara ekonomi dan politik (tanpa adanya tekanan-tekanan dan kendali dari pihak asing).
Untuk para calon pemimpin dan para pemimpin di level manapun, hendaknya menyempatkan diri menyelami kembali sejarah para pemimpin Islam sebagai sumber inspirasi dan sebagai bentuk ikhtiar positif dalam memberi arah dan warna bagi karakter kepemimpinannya.
Para pemimpin muslim selayaknya dapat memberi ruang bagi terciptanya aksi-aksi populis tanpa rekayasa. Kisah-kisah kepemimpinan di masa kejayaan Islam telah menguak begitu banyak narasi yang kaya akan hikmah kepemimpinan yang sesungguhnya hingga menjadi layak untuk diteladani. Para pemimpin seharusnya sadar dengan sepenuhnya bahwa kepemimpinan itu ada untuk melayani, bukan untuk selalu dilayani. Kepemimpinan hadir sebagai bentuk pengorbanan, bukan malah mengorbankan orang lain. Kepemimpinan eksis bukan untuk mengejar materi, tetapi untuk menebar lebih banyak manfaat. Kepemimpinan bukan untuk menambah tinggi kebanggaan tetapi sebagai peluang untuk menguji ketawadhu’an. Kepemimpinan juga seharusnya menjadi sarana efektif menerapkan konsep Rahmatan Lil ‘Alamin, bukan malah menjadi Musibah Lil ‘Alamin.
Dalam setiap diri manusia, terbebani amanah kepemimpinan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Rasulullah bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.”
Ketahuilah, semakin besar kapasitas kepemimpinan seseorang, maka semakin besar pula kadar pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ




Ikadikobar - Disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Salam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, bacalah dengan hatimu “Siapa yang membaca Al-Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Quran.”
Subhanallah, orang tua yang memiliki anak Hafizh Al-Quran akan mendapatkan jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia.
Namun terkadang kita bingung bagaimana cara mendidik anak agar menghafal Al-Quran. Insya Allah di dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa tips yang dapat kita pergunakan untuk mendidik anak menghafal Al-Quran.
  1. Jangan targetkan banyak hafalan , yang penting tajwidnya benar. Lebih baik hafalan yang sedikit namun sesuai kaidah tajwid daripada hafalan yang banyak namun jauh dari kaidah tajwid. Terlebih lagi yang perlu dipahami adalah Apa yang mereka baca dan hafal pada usia dini sangat melekat di dalam benak mereka. Nah bila saja hafalan yang melekat itu salah maka sangat sulit untuk di ubahi ketika besar..
  2. Selagi anak itu tahsin dan tajwidnya belum bagus, jangan disuruh menghafal sendiri. Tapi harus ditalqin. Nanti dengan sering mendengar yang benar, lidah anak akan mengcopy secara otomatis. Agar kualitas tilawah dan dan hafalannya semakin mantap, bimbinglah tahsinnya secara intensif.
  3. Mulai hafalan Al Quran anak dari ayat yang mudah dihafal, bisa di mulai dari juz amma.
  4. Pergunakan waktu khusus untuk anak-anak menghafal dan juga waktu murajaah. Agar mereka selalu konsisten di dalam menghafal. Alangkah baiknya kita mencari waktu yang ketika itu anak sedang mod untuk menghafal Al-Quran.
  5. Alangkah baiknya kita memperdengarkan Murattal Al-Quran sesering mungkin. Ketika bangun tidur, mau tidur dan waktu-waktu senggang lainnya. Ini  sangat membantu mereka di dalam menghafal dan meniru suara qori. Alhamdulillah semua jenis Murattal sudah tersebar di mana-mana, ada yang bisa di download secara gratis seperti download.pusatalquran.com dan banyak situs lainnya, atau beli di toko buku dan kaset terdekat.
Catatan pengingat, menjadi penghafal Al-Quran dan mendidik buah hati menjadi penghafal Al-Quran butuh kesabaran besar. Maka selain berusaha, jangan lupa berdoa, agar kita dipermudah dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Aamiin
 by. Muhammad Hasan Hidayatullah



Ikadikobar - Memiliki buah hati yang gemar membaca Al-Quran adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi setiap abi dan umi, walaupun kondisinya belum bisa membaca dengan sempurna atau masih terbata-bata.
Tentu saja kebahagiaan itu akan terasa lebih lengkap ketika abi dan umi menyaksikan buah hati tercinta bisa lancar membaca Al Quran apalagi sampai bisa menghafalnya.
Apalagi ketika mereka masih usia dini, kebahagiaan itu terasa lebih sempurna dengan pemandangan lucu dan polosnya sang buah hati. Bagaikan kaset baru yang masih kosong, sebetulnya memori mereka sangat siap menampung file-file Al Quran. Buktinya mereka bisa menghafal berbagai macam lagu yang mereka dengarkan secara berulang-ulang, padahal lagu tersebut tidak secara serius diajarkan.
Berikut 6 tips sederhana untuk abi dan umi agar buah hati tercinta gemar dan bisa menghafal Al-Quran.
  1. Pujian. Perlu kita pahami, anak pada usia dini sangat senang mendapatkan pujian dan sanjungan. Bahkan kebanyakan anak usia dini lebih cepat menangkap instruksi dan menuruti permintaan abi dan umi adalah dengan pujian bukan dengan sebuah perintah. Pujian ini akan menjadikan mereka bersemangat dan istiqamah dalam menghafal Al Quran.
  2. Hadiah. Ini adalah cara yang efektif untuk memacu keinginan mereka berprestasi dalam hafalannya. Berikanlah hadiah dan iming-iming lainnya dengan tugas tertentu yang bisa secara mudah dilakukan.
    Hadiah tidak harus sesuatu yang mahal, hadiah yang terbaik adalah hadiah yang sekiranya membantu usaha buah hati dalam menghafal Al Quran, contohnya mushaf dengan sampul berwarna-warni, MP3 Player berisikan murattal anak, bisa juga kaset atau dvd Murottal Al Qur’an khusus anak yang bisa abi dan umi pesan di dvd.pusatalquran.com
  3. Menyenangkan. Jadikan suasana menghafal Al Quran untuk buah hati menjadi menyenangkan. Siapkan ruangan khusus dengan warna dinding yang beraneka ragam dan pernak-pernik lucu digantung atau ditempel, dan pastikan agar tempelannya adalah sesuatu yang berhubungan dengan Al Quran contohnya nama-nama surat ditulis pada karton berwarna ditempelkan di kardus, kemudian dirangkai dengan benang.
  4. Cerita.   Bukalah acara menghafal dengan cerita menarik, terutama cerita yang berhubungan dengan ayat yang akan dihafal. Jangan lupa ajak mereka berimajinasi tentang keindahan surga dan imbalan lainnya bagi penghafal Al Quran.
  5. Gambar. Yang tidak kalah pentingnya adalah menunjukkan gambar yang berhubungan dengan surat atau ayat yang sedang dihafal. Ini sangat bagus untuk menguatkan hafalan dengan imajinasi gambar. Lebih bagus lagi apabila ada proses khusus menikmati gambar, contohnya sebelum dijelaskan gambarnya, abi dan umi mengajak buah hati untuk mewarnai gambarnya terlebih dahulu.
  6. Murattal perayat. Yang sangat penting dari semua tips adalah memperdengarkan buah hati murattal Al Quran perayat. Putarkanlah maksimal lima ayat secara berulang-ulang dalam dua sampai tiga harian  secara terus menerus. Agar lebih memancing semangatnya, putarkanlah murattal dengan qori anak-anak, contohnya Muhammad Thaha Al junayd, atau ahmad saud. Biarkanlah murattal itu berputar walaupun sang buah hati tidak memperhatikannya secara serius. Karena mereka akan menangkapnya dan mengulanginya tanpa diperintah. DVD murottal khusus anak sudah tersebar luas di Indonesia, untuk mempermudah abi dan umi mendapatkannya, silakan pesan di dvd.pusatalquran.com





Selama 25 tahun Nabi Muhammad menghabiskan waktunya dengan menjadi pebisnis. Bahkan kemampuan strategi bisnis Rasulullah ternyata mendapat pengakuan akademisi dunia.

Mengutip Machda, pengamat ekonomi syariah, Syafii Antonio mengatakan prinsip bisnis yang diwariskan Nabi bahkan telah mendapat pembenaran akademis sejak penghujung abad ke-20 atau awal abad ke-21.

"Beliau telah meletakkan dasar-dasar etika dan moral, yang mencakup manajemen dan etos kerja yang mendahului zamannya," ungkap Syafii mengutip situsnya syafiiantonio.com, Jumat, 13 Maret 2015.

Dalam membangun kepercayaan dalam bisnis dan muamalah, Nabi disebut memiliki tiga strategi yang diakui para akademis.

Pertama, Nabi membangun hubungan interpersonal yang amat berkesan dimanapun berada. Hal ini ditunjukan lewat sikap bersahabat dan raut muka yang selala tersenyum.

"Walau dalam waktu sesaat, Nabi mampu mengingat nama maupun masa lalu dari mitra yang dijumpainya," kata Syafii.

Nabi juga dinilai mampu mengangkat suasana menjadi ceria dan mendorong sikap untuk saling mendukung antarsesama. Sikap ini dinilai ampuh menciptakan optimisme meskipun dalam situasi serba berkekurangan.

Strategi kedua adalah Nabi mampu menjelaskan setiap adanya perbedaan cara pandang dan menghargai perbedaan tersebut. Diakui Syafii, Nabi dapat mengarahkan lawan debatnya tanpa terasa dan meyakinkan ke sasaran positif yang diinginkan.

Terakhir, Nabi dianggap mampu menciptakan kepastian, tidak hanya berupa angan-angan normatif. Beliau memperlihatkan sikap menghargai waktu dan tidak mudah obral janji, memperlihatkan kesediaan untuk berkorban, dan tidak hanya mengedepankan kepentingan diri sendiri.

"Pada suatu zaman yang penuh ketidakpastian dan berkembang suasana saling berkhianat, kehadiran sosok yang dapat dipercaya dan diandalkan menjadi dambaan," ujar Syafii. (Ism/Dream.co.id)

 
Televisi adalah alat propaganda  kolosal, handal dan spektakuler. Kotak ajaib ini menjadi  sangat  berbahaya jika suatu negara salah urus dalam mengatur isi siarannya, karena berpengaruh dan menentukan terhadap karakter atau budaya suatu bangsa dimasa datang, bisa dalam hitungan tahun, bulan, hari bahkan jam. Mengapa ??  Untuk menjawabnya, saya buat ilustrasi yang paling sederhana dan sudah terbukti kebenarannya adalah ketika seorang anak disuguhi tontonan kekerasan seperti gulat (wrestling) atau film laga yang berdarah-darah, setelah nonton film tersebut anak-anak langsung mempraktekan adegan kekerasan tersebut kepada adiknya dan teman-temannya yang justru sangat membahayakan (seperti memukul kepala, membanting dsb) akibatnya adiknya atau temanya menjadi cedera. 
 
Bila tontonan kekerasan tersebut berulang-ulang disaksikan anak-anak selama bertahun-tahun, efeknya ketika dewasa adalah anak akan memiliki temperamen yang keras sehingga dalam menyelesaikan persoalan akan lebih mengandalkan otot daripada logika. Dalam tataran lebih luas kekerasan akan menjadi budaya suatu bangsa, akhirnya hal ini akan  merepotkan negara juga.   Tayangan lainnya yang sangat ampuh dalam membius anak-anak menjadi penakut adalah tayangan berbau klenik, tahayul dan alam gaib, seperti film hantu, setan, jin, horor dan film yang menakutkan lainnya. Setelah nonton film menakutkan tersebut anak-anak menjadi takut misalnya ke kamar mandi atau tempat gelap (koq bisa ya?) padahal sudah dijelaskan berulang-ulang bahwa itu hanya ada di film dan tidak nyata (cuma trik kamera saja) namun tetap saja tidak percaya, akahirnya anak ke kamar mandi saja mesti di antar (jadi repot nich). Efek yang paling berbahaya anak setelah dewasa menjadi penakut, berfikir dan bertindak tidak logis, misalnya memberi sesaji dalam pembangunan  sebuah gedung karena diyakini ada “penunggunya”.   
 
Televisi juga mampu membentuk suatu bangsa menjadi konsumerisme dan  bergaya hidup mewah karena tayangan iklan serta sinetron glamour. Televisi jadi  sekedar hiburan dan menjual kesenangan belaka hingga masyarakat hidup dalam angan-angan.  Kesimpulan dari tulisan di atas bahwa apa yang ditonton oleh masyarakat telah menjadi tuntunan hidupnya, sayangnya tuntunan tersebut mengarah kepada rusaknya mental bangsa. Bila demikian halnya maka seharusnya televisi di Indonesia diisi dengan siaran-siaran yang mendidik dan membangun.   Dengan menayangkan siaran televisi yang mendidik dan membangun berarti pemilik televisi telah ikut serta membantu pemerintah dalam menanamkan hal-hal yang positip untuk membangun karakter bangsa yang kuat serta budaya positip.  
 
Oleh karena itu dalam artikel ini saya mengusulkan kepada stasiun televisi atau pemerintah yang berkompeten atas siaran televisi seperti KPI, agar siaran televisi menjadi lebih baik :  Yang Pertama, tidak menayangkan program yang bersifat tahayul, kekerasan dan yang mengarah pada konsumerisme. Yang kedua, lebih banyak menayangkan gegap gempitanya pembangunan (ini pun harus sesuai dengan kenyataan yang dibangun) dibanding dengan acara kriminalitas. Yang ketiga, menayangkan keberhasilan dari sebuah penelitian yang merupakan  hasil karya Bangsa Indonesia.  Yang keempat, menyorot kinerja pemerintah, badan atau lembaga pemerintah dengan tujuan agar masyarakat mengetahui dan memahami keberadaanya serta perkembangannya, saya yakin rakyat belum tentu mengetahui adanya lembaga-lembaga tersebut serta apa yang dihasilkannya.  Yang kelima, menampilakan budaya daerah agar bangsa Indonesia mengetahui keberadaan budaya daerah tersebut sehingga bangsa Indonesia mencintai kebudayaannya sendiri, baik dengan diadakannya kompetisi budaya atau dikemas dalam bentuk hiburan atau festival.  Yang keenam, siaran pendidikan untuk anak,  adapun format penyiarannya dapat bekerjasama dengan Dep Diknas atau yang berkompeten dalam pendidikan.  Yang ketujuh, diadakan berbagai perlombaan atau kompetisi matematika dan sains.  Yang kedelapan, dan sebagainya.  Pengaruh yang diharapkan dengan program televisi seperti yang diusulkan di atas adalah bangsa Indonesia mempunyai karakter yang kuat, memiliki budaya positip, senang bekerja keras, cinta budaya sendiri, cinta produksi sendiri yang pada akhirnya Indonesia menjadi Negara maju, kuat, bermartabat dan disegani.  Jadi jangan anggap remeh pengaruh televisi terhadap kemajuan suatu bangasa. Ayo kita perbaiki siaran televisi Indonesia menjadi lebih baik. *)
*) https://ayobangkitindonesiaku.wordpress.com


Saudaraku sekalian..., tahukah anda tentang surat dalam Al Quran yang dianjurkan untuk sering dibaca selain kegiatan mengkhatamkan Quran setiap bulannya?

Diantara wirid Qur'an yang perlu rutin dibaca tiap hari adalah membaca surat - surat berikut : Yasiin, Ad-Dukhan, Al-Waqi'ah, dan Tabaraka (Al Mulk). Dan, lebih ditekankan pada hari dan malam Jum'at. Kemudian ditambah dengan surat Al-Kahfi dan Ali Imran.

Banyak anjuran Rasulullah yang menerangkan hal itu, antara lain :
  1. Ma'qil bin Yasar ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Jantung AL-Qur'an adalah surat Yasin. Tidaklah seseorang membacanya dalam rangka menginginkan ridha Allah dan kampung akhirat, kecuali Allah akan mengampuninya. Bacalah surat itu untuk orang-orang yang akan meninggal dari kalian." (h.r. Ahmad, Abu Dawud, Nasa'i, dan yang lainnya)
  2. Abdullah bin Mas'ud ra. berkata "Barangsiapa membaca 'tabarakalladzi biyadihil mulku...' setiap malam, maka dengan surat itu Allah akan mencegahnya dari adzab kubur. Pada zaman Rasulullah kami menamakan surat itu "Al-Mani'ah" (yang mencegah). Surat tersebut dalam Al-Qur'an; barangsiapa membacanya pada waktu malam, maka dia telah memperbanyak (tilawah) dan memperbaikinya." (h.r. Nasa'i, dan Hakim meriwayatkan hadis serupa serta menyatakannya shahih)
  3. Dalam hadis Abu Hurairah ra. disebutkan "Barangsiapa  membacaa surat "haa miim Ad Dukhan" setiap malam, maka pagi harinya ada tujuh puluh ribu malaikat memohonkan ampun untuknya." (h.r. Tarmidzi dan Al-Ashabani)
  4. Dalam hadits Abu Sa'id Al Khudri ra. disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa membaca surat Al Kahfi pada hari Jum'at, Allah akan meneranginya dengan cahaya di antara dua Jum'at. (h.r. Nasa'i dan Baihaqi secara marfu')
  5. Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Barangsiapa membaca surat yang didalamnya disebut (kisah) keluarga Imran pada hari Jum'at, Allah akan mendoakannya dan juga para malaikat-Nya sampai terbenamnya matahari." (h.r. Thabrani, dalam kitab Al-Ausath dan Al-Kabir")
  6. Terdapat banyak atsar yang marfu' (sanadnya sampai pada Rasulullah saw.) dan yang mauquf (sanadnya hanya sampai pada sahabat) dari Abdullah bin Mas'ud tentang keutamaan surat Al-Waqi'ah. Apalagi didalamnya terdapat ayat tentang hari kebangkitan, hari pembalasan, dan argumentasi yang kuat tentang hal itu, hingga tidak meninggalkan keraguan-keraguan bagi orang yang berakata. 
Maka sebaiknya setiap aktivis muslim tidak menghalangi dirinya untuk mendapatkan keutamaan membaca surat -surat tersebut sekali setiap hari, dan pada malam hari lebih utama. Khusus hari Jum'at boleh dibaca sekali dimalam hari dan sekali di siang hari. Sementara waktu ashar hingga magrib (hari Jum'at) untuk membaca Surat Ali Imran. Barangkali itu merupakan waktu dikabulkannya do'a. Maka seorang mukmin akan menggunakan waktunya untuk menyibukkan diri dengan sebaik-baik dzikir, yakni tilawah qur'an, bukan komik, bukan gosip, bukan pula hal sia-sia lainnya. Semoga Allah mengkaruniakan hidayah, taufik dan keistiqomahan untuk mengamalkannya bagi yang baca artikel ini dan bagi siapa saja yang menyebarkannya. amiiin...

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.