Latest Post

Beruntunglah bagi hamba-hamba Allah yang beriman, yakni mereka yang mempercayai akan janji-janji Allah. Dan bahwasannya Allah Maha Menepati janji-janjiNya, serta tiada sedikitkan yang terzalimi dengan janji-janji Allah itu melainkan semuanya akan ditepati. Maha benar Allah lagi Maha Bijaksana.

Termaktub dalam Al-Qur'an di antaranya ada beberapa janji Allah kepada orang-orang beriman, yakni sebagai berikut :

1. Jika kalian bersyukur maka akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) untuk kalian. (QS. Ibrahim: 7)

2. Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada kalian. (QS. Al-Baqarah: 152)

3. Berdoalah kepadaku pasti Aku kabulkan untuk kalian. (QS. Ghafir: 60)

4. Tidaklah Allah mengazab mereka, selama mereka memohon ampun (beristighfar kepada Allah). (QS. Al-Anfal: 33)

Nikmat terbesar atas bersemayamnya iman di dalam dada manusia adalah keyakinan akan sesuatu yang berasal dari sumber yang hakiki;
keyakinan bahwa Allah itu benar,
janji Allah itu adalah benar,
dan kalam Allah itu adalah benar,
hari pembalasan itu adalah benar,
dikembalikannya kita semua kepada Allah itu adalah benar,
serta surga dan neraka adalah benar;
meyakini janji Allah itu adalah sebuah kebenaran.

Ketika hati telah meyakini sebuah kebenaran yang hakiki, maka lisan dan akal akan mengakui kebenaran tersebut, kemudian jasmani akan antusias untuk menentukan pilihan sikap, maka alhasil akan terwujud amal shalih yang tampak pada pribadi-pribadi yang beriman kepada janji Allah.

Oleh :
Erik Mardiansyah


“Bukankah engkau mengaku sebagai utusan Allah..?” Ketus Aisyah radhiallahu anha kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam penuh cemburu, suatu saat dalam sebuah perjalanan.

Pasalnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta agar barang-barang yang sedikit di onta Aisyah ditukar dengan barang-barang yang banyak di onta Shafiah (Isteri Rasullah saw lainnya). Karena onta Aisyah gagah sedangkan onta Shafiah lambat.

Demikian Al-Haitsami meriwayatkannya dalam kitabnya, Majma Az-Zawaid (dengan sanad dha’if-red).

Ada pelajaran berharga dari cuplikan ‘pernak pernik’ rumah tanggal Rasulullah saw di atas.Yaitu bahwa pasangan suami isteri memiliki pola komunikasi yang khas. Kekhasan yang apabila dikelola dengan bijak dapat menjadi kehangatan hidup berumah tangga.

Ucapan Aisyah radhiallahu anha di atas, jika dilihat dari sudut pandang aqidah, jelas sangat bermasalah, karena dapat dipahami meragukan kerasulan Nabi saw. Namun, tidak demikian halnya jika dilihat dari kekhasan pola komunikasi suami isteri. Yang tampak justeru emosi cinta yang terungkap secara verbal dan refleks melampaui batas-batas pemahaman normatif.

Karenanya, menyikapi hal tersebut, Rasulullah saw hanya tersenyum, bahkan ketika Abu Bakar hendak menegurnya, beliau memintanya untuk membiarkannya, sambil berkata, ‘Sesungguhnya, sifat cemburunya membuat dia tidak dapat melihat dasar lembah dari ketinggian.’

Di antara bentuk komunikasi suami isteri yang sehat adalah manakala komunikasinya telah bersifat lepas, tidak ‘anggah ungguh’, serta tidak terbelenggu oleh simbol dan kedudukan yang ada pada masing-masing pasangan. Tentu saja, setelah hak dan kewajibannya telah dipahami masing-masing.

Pola komunikasi seperti ini, hanya dapat terwujud jika masing-masing pasangan memainkan perannya secara total dalam kehidupan rumah tangga. Namun hal tersebut bukan sesuatu yang dapat terwujud karena pandai berakting ala bintang film yang justeru banyak gagal dalam kehidupan rumah tangga sesungguhnya, tapi yang dibutuhkan adalah ketulusan cinta dan perasaan saling memiliki.

Maka, seorang isteri, walaupun misalnya dia memiliki jabatan terhormat, namun di rumah, jika komunikasi khas tersebut sudah terbentuk, sang suami bisa dengan santainya berkata, ‘Ma, buatkan teh untuk papa dong…’. Atau, seorang jenderal yang diluar begitu ditakuti bawahannya, di rumah, boleh jadi sang isteri dengan enteng mengomelinya karena pulang kemalaman. Karena…. ‘Tidak ada jenderal di depan isteri…..’

Bisa juga seorang ustaz yang diluar begitu dihormati jamaahnya, di rumah, isterinya dengan enteng memarahinya gegara dia meletakkan baju sembarangan.

Tapi saya ga berani bilang ‘Tidak ada ustaz di depan isteri..’

Jika banyak bujangan atau gadis yang sedang ‘mencari-cari’ mengangankan calon pendampingnya dengan sederet status dan simbol kehidupan. Maka, ketika sudah berkeluarga, justeru itulah yang sering menjadi kendala dalam membangun komunikasi hangat antar suami isteri. Tidak jarang kehangatan komunikasi itu terganggu, karena status dan simbol-simbol tersebut masih mendominasi atmosfer komunikasi di antara mereka.

Bayangkan jika suami seorang jenderal, lalu komunikasinya persis seperti seorang prajurit…. “Ma, perintah! siapkan teh manis!” Lalu sang isteri menjawab, “Siap! Laksanakan!” dengan muka tegang dan kaku…

Justeru ketika sudah berkeluarga, yang paling diinginkan suami adalah seorang isteri yang bertindak sebagai ‘isteri’, bukan sebagai dokter, guru, lulusan universitas ternama, anak orang kaya, dll. Begitu pula yang diinginkan isteri dari suaminya.

Suatu saat, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seseorang yang ingin mengadukan kepada sang Khalifah tentang sikap isterinya yang suka mengomelinya. Namun setibanya di dekat rumah sang Khalifah, dia mengurungkan niatnya. Apa pasal? Rupanya dari dalam rumah Khalifah, dia mendengar sang isteri sedang memarahi Khalifah. ‘Kalau khalifah saja dimarahi isterinya, apalagi saya…’ pikirnya.. (riwayat maudhu’ atau palsu-red)

Terkadang, omelan dan marah yang masih dalam bingkai cinta itu justeru menghangatkan dan ‘ngangeni’.. Jika dari ‘omelan’ bisa berbuah kehangatan dalam rumah tangga, apalagi canda tawanya…..

Ya Rabb, kumpulkan kami di surgaMu sebagaimana kami Engkau kumpulkan di duniaMu.


http://www.hasanalbanna.com/tidak-ada-jenderal-di-depan-istri/


Suatu hari di bulan Ramadhan, Syaikh Yusuf Qaradhawi terpaksa menempuh perjalanan kaki sejauh 11 KM dari Thantha ke Kfar Syaikh. Itu dilakukan oleh ulama terkemuka dunia ini ketika beliau masih mahasiswa.

Kisahnya. Kala itu beliau diminta mengisi kajian di Thantha. Setelah kajian usai, saatnya Yusuf Qaradhawi pulang, namun panitia tidak memberikan sepeser uang pun kepada beliau. Panitia kajian di Thantha mengira bahwa Panitia di Kfar Syaikh telah memberikan uang transportasi untuk Qaradhwi. Sedang panitian di Kfar Syaikh justru menyangka bahwa panitia di Thantha yang akan memberikan ongkos bis untuk pengisi kajian hari itu.

Setelah kajian usai, Qaradhawi mohon diri. Tanpa disertai panitia ke halte bis. Yusuf Qaradhawi yang sadar tidak punya uang sama sekali, merasa malu untuk berterus terang kepada panitia. Maka beliau pun memutuskan untuk jalan kaki.

Adzan maghrib berkumandang, Qardhawi pun singgah di masjid terdekat. Beliau membatalkan puasanya dengan minum air kran, kemudian melanjutkan berwudhu untuk shalat maghrib. Seusai shalat, beliau berjumpa dengan seorang sahabatnya, "Sudah berbuka?" tanya Sang Sahabat. "Oh, sudah, alhamdulillah," jawab Qaradhawi cepat. Padahal maksud sahabat bertanya, apakah beliau sudah makan, sudah minum, sebagaimana layaknya orang berbuka.

Yusuf Qaradhwi merasa malu untuk berterus terang. Pun beliau tidak berterus terang bahwa beliau sebenarnya kelelahan karena berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. Lapar sudah pasti melilit perut beliau. Namun rupanya rasa malu mengalahkan rasa lapar dan penat seorang Yusuf Qaradhawi.

Sodara, puasa yang saat ini tengah kita jalani, mari kita jadikan sebagai media untuk mengembalikan rasa malu yang sebagiannya telah banyak tercerabut dari diri kita. Sebab berbagai keburukan dan kejahatan yang dilakukan manusia lebih banyak karena tiadanya rasa malu.

Yusuf Qaradhawi memilih kelelahan dan kelaparan daripada menggadaikan rasa malunya. Kita mungkin tidak dituntut harus seperti itu. Tapi, setidaknya mari kita genggam rasa malu sebagaimana norma agama maupun norma yang disepakati di tengah masyarakat.

(Abrar Rifai)


By Ustadz Faidzil Adhim (Hidayatullah)

Mengingat perkataan Ibnu Abdil Hakim tentang kebiasaan Imam Malik, guru dari Imam Syafi’i, selama bulan Ramadhan. Alangkah jauh bedanya. Ibnu Abdil Hakim berkata, ”Jika tiba bulan Ramadhan, Imam Malik menghindar dari membacakan hadits dan bertukar pikiran dengan ahli ilmu."
Perhatikan! Bukankah majelis hadits sangat mulia? Tapi Imam Malik rahimahullah meninggalkannya bersebab ingin meraih keutamaan lebih besar. Bukankah berdiskusi dengan para ahli ilmu sangat baik? Tetapi Imam Malik rahimahullah meninggalkannya karena ingin meraih yang lebih utama. Lalu apa yang dikerjakan Imam Malik? Ibnu Abdil Hakim berkata, ”Beliau berkonsentrasi membaca Al-Qur’an dari mushaf.”
Jangan salah. Imam Malik rahimahullah bukan tidak hafal Al-Qur’an. Tetapi inilah cara beliau memuliakan Al-Qur’an dan meraih keutamaan.
Imam Az-Zuhri, seorang 'alim ahli hadits menerangkan, “Ramadhan itu adalah membaca Al-Qur`an dan memberi makan (fakir miskin).”
Tidak sedikit majelis yang tampaknya berbicara tentang agama, tetapi ia melalaikan bersebab dipenuhi canda dan kisah yang tak jelas asalnya. Alangkah jauh. Alangkah jauh... Tradisi para ulama dari kalangan salafush shalih dengan diriku di masa kini. Alangkah berbeda. Dulu para salafush shalih sibuk berdiam di bulan Ramadhan untuk meraih keutamaan. Hari ini Ramadhan seakan berubah menjadi bulan perjalanan.

Rabu, Juni 10, 2015
 Alhamdulillah, dua hari terakhir kemarin tiba juga saya ke pengungsian sementara saudara-saudara Rohingya di Aceh Utara. Begitu tiba di bumi Serambi Mekkah ini kami langsung menuju kamp pengungsi di Kuala Langsa dan Kuala Cangkoy, Aceh Utara. Sebagai personil yang mengawal satu divisi yang menangani strategi dan eksekusi kreatif berbagai materi komunikasi ACT, mendapati kesempatan seperti ini terasa demikian mewah bagi saya. Akhirnya, ada ‘rehat’ dari hari-hari sibuk brainstorming, berjibaku di studio desain dan audio visual, serta memonitor konten dan aktivitas akun-akun media sosial yang seolah tak pernah berhenti.


Pergi mengunjungi langsung saudara-saudara Rohingya, melalui perjalanan darat 7 jam dari Kota Medan ini membuat perasaan saya campur-baur. Sebab saya sudah mengikuti kisah sedih warga Rohingya sejak 2012 silam, saat saya masih menjadi praktisi kreatif di sebuah agensi periklanan. Saya tak habis pikir, saat sahabat-sahabat di ACT menceritakan kisah etnis paling teraniaya di negerinya sendiri, yang sebenarnya tak jauh dari Indonesia ini. Tiba di Pelabuhan Kuala Langsa, dimana Posko ACT berada, ada pemandangan menarik di gerbang pelabuhan. Mobil terhenti lantaran terjadi antrian panjang mobil-mobil pribadi, truk bak terbuka, dan puluhan motor warga setempat tampak mengular.


Yang paling menarik perhatian saya adalah warga lokal yang berdatangan dengan motor ingin masuk ke lokasi pengungsian. Warga Aceh Utara saja ingin melihat saudara-saudara mereka dari Rohingya, apalagi saya. Para pengungsi ini memang seperti magnet. Tapi sayang, hari itu sudah keluar ketentuan kalau warga tak bisa lagi masuk ke dalam area pelabuhan. Walau mungkin kecewa karena itikad baik mereka bersilaturrahim dengan pengungsi tak terwujud, semua berjalan tertib. Ah, beda banget dengan Jakarta dengan segala dramanya. Yang jelas salah aja bisa ngotot luar biasa.


Perasaan campur-baur ini perlahan hilang berganti dengan perasaan senang demi melihat langsung para pengungsi yang sudah di depan mata. Wajah-wajah pria dewasa Rohingya yang rata-rata berkulit hitam manis dan bermata besar itu tampak berbinar. Salam tak pernah henti terucap dari bibir-bibir mereka setiap kali bertatapan dengan kami. Di kamp ada yang tengah asyik bermain sepakbola, dan sebagian lainnya duduk-duduk menikmati suasana.


Alhamdulillah, saya selalu merasa doa mereka tak berjarak dari ridha-Nya. Bahkan menerima dan membalas salam mereka juga berarti mengumpulkan doa keselamatan dan keberkahan bagi diri saya. Senyum kini menghias bibir mereka. Sangat jauh berbeda dengan foto-foto saat mereka histeris berteriak meminta tolong dari kapal-kapal kayu yang hampir tenggelam di perairan Aceh Timur dan Utara yang pernah saya lihat.


Dekat Posko ACT, tampak anak-anak usia balita bermain di mini-playground. Ternyata tak semua anak-anak itu bersama ibu dan ayahnya. Sebagian orangtua mereka terbunuh di negerinya atau terdampar di negara lain tanpa kabar berita serta tak sedikit pula yang wafat saat berbulan lamanya terombang-ambing di tengah lautan karena kehausan, kelaparan atau menahan sakit tanpa pengobatan. Entah bagaimana anak-anak ini bisa bertahan. Membayangkan terik matahari di lautan memanggang tubuh mereka, dan dinginnya malam di tengah lautan terbuka, saya bergidik. Tapi di Kuala Langsa ini anak-anak itu mulai menampakkan senyumnya walau masih malu-malu. Pun saya; setengah terharu, setengahnya lagi masih terlalu kaku karena sudah lama tak turun ke lapangan. Saya ingin sekali menggendong dan memeluk anak-anak itu. Tapi entahlah, pada pertemuan pertama ini saya hanya sanggup menjabat dan membelai rambut kemerahan di kepala mereka. Waktu yang mepet karena masih harus mengejar waktu menuju Lhokseumawe malam itu, saya sedikit menyesali perjumpaan yang singkat dengan anak-anak kecil kuat itu.


Pagi hari usai, memasuki Jum’at berkah dan usai briefing pembangunan Integrated Community Shelter ICS) bagi pengungsi, saya berdoa diberi-Nya kesempatan kedua. Dan kesempatan kedua itu hadir di sore harinya, usai meninjau lokasi shelter di Gampong Blang Adoe, memenuhi undangan siaran di RRI Lhokseumawe, silaturahim dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Aceh Utara dan salat jum’at serta kembali briefing sambil makan siang. Saya kembali menengok kamp pengungsian, kali ini di Kuala Cangkoy. Satu lokasi di tepi pantai yang permai dimana 332 pengungsi Rohingya sementara ditampung.


Di sini juga banyak terdapat anak-anak. Mulai usia bayi, balita hingga remaja. Kali ini saya benar-benar menikmati ngobrol, bermain dan menikmati waktu ceria bersama anak-anak hebat yang ditakdirkan Allah SWT bertahan hidup melewati segala kesulitan dan bisa hadir di hadapan kami. Iba juga melihat anak-anak ini; banyak yang masih mengalami sakit kulit (tampak di bagian kepala), ada juga yang mengalami luka di punggung yang masih dalam perawatan. Tapi tampaknya mereka tak mau melihat saya menye-menye, saya malah dikerubungi, digelendoti bahkan beberapa terus minta digendong dan dipeluk.


Anak-anak ini ternyata seru banget. Satu anak perempuan yang masih berusia 16 bulan tak mau melepaskan pelukannya, bahkan saat sebagian dari kami sudah berada di dalam mobil untuk kembali ke posko utama di Kota Lhokseumawe. Saya melambai pada mereka dari balik kaca. Memupuk harap bisa bertemu lagi, insyaAllah di shelter yang lebih nyaman dan layak untuk mereka huni dalam waktu panjang. Hingga kelak mereka mampu mandiri, tak hanya menemukan tapi sudah meyakini dan mewujudkan harapan mereka untuk bersinar kembali.


Hingga dini hari kala saya merampungkan tulisan ini, pelukan demi pelukan anak-anak Rohingya itu masih terasa. Dan saya rasa takkan pernah hilang dampaknya. Kemanusiaan hanya dapat dihidupkan melalui perbuatan. Bukan teori dan ucapan belaka. Bagi sobat yang pesimis, atau skeptis, silakan buktikan sendiri. Hadirlah diantara mereka yang mungkin belum pernah merasakan hidup bebas dari rasa takut sebelumnya.



Mengalirlah bersama arus kebahagiaan mereka. Puaskan hati dengan berbuat yang terbaik, sebaik-baik yang bisa kita berikan. Temukan nyamannya hati menatap senyuman mereka, sebagaimana menemukan janji Ilahi Rabbi bahwa jika kita melepaskan satu kesulitan hidup mereka, maka akan terlepas pula kesulitan kita di saat tiada yang mampu melepaskan segala kesusahan kita. Kala menyelamatkan satu jiwa sama nilainya dengan menyelamatkan seluruh umat manusia.


Pelukan-pelukan anak-anak Rohingya ini selamanya jadi penyemangat di dunia, dan semoga jadi penyelamat kelak di akhirat bagi saya, serta sobat semua. InsyaAllah...aamiin yaa Robbal ‘alaamiin. 

(Nurman Priatna | Creative Strategic Communication Director – ACT Foundation) 


Rabu, Juni 10, 2015

Kata orang, bangun awal itu bikin awet dan bikin sehat. Hm, apa iya? Jangan buru-buru dijawab. Baca dulu tulisan ini.

Saya tidak bertemu dengan Aa Gym sekitar 8 atau 9 tahun. Lumayan lama. Sudah sekian kali saya ingin bertemu dan beliau juga ingin mengundang, tapi ada-ada saja halangannya. Sewaktu bertemu lagi awal Juni 2015, beliau menyapa saya, “Wah, Ippho semakin muda.” Saya tidak tahu, apakah benar beliau menganggap saya semakin muda atau itu sekadar menyenangkan hati saya, hehehe. Yang jelas, Syeikh Hisyam dari Amerika Serikat, ketika saya temui beberapa tahun yang lalu, juga menyapa saya, “Anda seperti anak kuliahan.” Hehe.


Sekarang, kita lihat ibu saya. Saat ini ibu saya sudah berusia 70-an tahun Tapi alhamdulillah, rambutnya masih hitam, giginya masih utuh, dan bisa membaca tanpa kacamata. Snorkeling dan aerobic pun masih sanggup. Awet? Mungkin bisa dibilang begitu. Apa rahasianya? Entahlah. Satu hal yang pasti, saya dan ibu saya terbiasa bangun sebelum subuh. Bagi saya, setengah jam sebelum subuh dan setengah jam setelah subuh, adalah waktu istimewa.Golden time.

Kok disebut istimewa? Yah, karena memang begitu. Apapun yang Anda kerjakan di waktu itu akan menjadi ‘sesuatu’. Apakah itu tugas kantor, menyusun skripsi, menulis buku, ataupun kesibukan lainnya. Tubuh yang segar disergap dengan udara yang segar, wah benar-benar men-simsalabim-kan segala proses. Nggak percaya? Yah, Anda coba saja. #BangunAwal.  

Awet muda, menyehatkan, menyegarkan, meringankan kesibukan, dan mengundang keberkahan, itulah manfaat-manfaat tersembunyi dari bangun lebih awal. Hm, berat? Kalau bangun lebih awal saja susah, gimana mau bangun rumahtangga? Gimana mau bangun perumahan? Hehehe. Daripada tersinggung, lebih baik Anda lakukan dan rutinkan saja.Nggak ada ruginya! Untung malah! Siap?




Ippho Santosa adalah International Trainer yang telah mencerahkan seratusan perusahan dan jutaan orang di belasan negara di empat benua. Buku terbarunya #SuccessProtocol direkomendasikan oleh tiga doktor ternama 

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.