Latest Post

ikadikobar.blogspot.com - Tulisan ini saya sarikan dari bukunya Tom Keneally yang berjudul ‘Three Famines : Starvation and Politics’ (PublicAffairs, New York, NY, 2011). Buku ini mengulas tiga kelaparan besar dalam sejarah modern – khususnya dalam dua abad terakhir. Tiga kelaparan besar itu adalah di Irlandia (1845), Bengal –India (Semasa PD II) dan Ethiopia (1970-an s/d 1980-an).


Orang Irlandia makanan utamanya adalah kentang, sehingga ketika produksi kentang mereka terganggu di sekitar tahun 1845 – gejala kelaparan ini mulai muncul. Mereka saat itu sebenarnya memiliki sumber pangan lain yaitu biji-bijian dan hasil peternakan yang mestinya cukup untuk mengisi kekurangan kentang, namun biji-bijian dan hasil ternak mereka difokuskan untuk ekspor ke Inggris yang menguasai Irlandia. Walhasil rakyat Irlandia menjadi korban dari kelaparan yang sangat hebat saat itu.

Semasa Perang Dunia II, lagi-lagi imperialism barat yang diwakili oleh Inggris menyebabkan kelaparan di negeri lain. Kali ini adalah penduduk Bengal-India yang terpaksa menderita kelaparan hebat karena produksi beras yang ada digunakan untuk keperluan memberi makan tentara-tentara Inggris dalam melawan Jepang.

Di Ethiopia tahun 1970-an sampai 1980-an terjadi kelaparan yang terbesar dalam sejarah peradaban modern manusia, tetapi kali ini penyebabnya bukan karena imperialism atau kapitalisme barat – melainkan marxisme yang dipaksakan oleh pemeimpin otoriter Ethippia saat itu yaitu Mengistu Haile Mariam. Ketika lahan-lahan diambil alih oleh rezim Marxism, ternyata mereka tidak mampu mengolahnya dengan baik sehingga fatal akibatnya – produksi pertanian mereka hancur dan rakyat mengalami kelaparan yang sangat.

Dari tiga kasus di atas saja kita kini semakin yakin bahwa penyebab utama kelaparan dunia sebenarnya adalah kesalahan manusia itu sendiri ,yaitu khususnya kesalahan para penguasa. Sarana-sarana produksi itu tersedia cukup, tetapi manakala manusia yang memegang kuasa tidak mampu menjalankan amanahnya – maka rakyatlah yang menjadi korban.

Saya berharap para pemimpin membaca buku ini untuk bahan introspeksi. Bila masih ada kelaparan di negeri ini, jangan salahkan jumlah penduduk, jangan salahkan musim, jangan salahkan hama dan jangan salahkan orang lain. Introspeksi kedalam dengan melihat kebijakan, peraturan, perijinan dlsb. , mana-mana yang menjadi penghambat produksi pangan dalam negeri harus dihilangkan.

Sebagai rakyat kita juga harus menjadi rakyat yang cerdas, kritis dan mandiri tidak perlu terlalu tergantung pada kebijakan publik yang diambil para penguasa. Meskipun mereka mengijinkan produk-produk impor terus mengalir kedalam negeri ini, tidak seharusnya kebijakan ini menciutkan nyali kita untuk terus berusaha berproduksi.

Pemerintah bisa silih berganti dan kebijakan publik akan terus berubah seiring dengan arah angin perubahan, tetapi satu hal yang tidak berubah adalah rakyat perlu bahan pangan secara cakup dengan tingkat harga yang terjangkau. Inilah yang menjadi challenge Anda para pengusaha, Insyaallah Anda-pun bisa !. *)
*) http://geraidinar.com

Oleh: Anisa Prasetyo Ningsih
Ilustrasi. (spreadsalam.com)

ikadikobar.blogspot.com - Ketika kesulitan terasa datang bertubi dan kemudahan yang dinanti tak jua datang menghampiri. Segala daya dan upaya maksimal dirasa telah ditumpah-ruahkan. Di tengah pergulatan masalah yang merasuki pikir, tanpa disadari air mata sering kali jatuh membasahi pipi, membasuh hati. Dalam kondisi ini, kita mulai kepayahan menstabilkan semangat agar tetap melingkupi hati. Mungkin sebagian besar di antara kita akan berkata “La tahzan, innalloh ma’iy…” sebagai kalimat pembesar hati. Kita berkali-kali bermonolog ria agar yakin (akan datangnya kemudahan) terus bersemayam dalam jiwa. Tak jarang surat Al-Insyirah melantun syahdu di langit hati, “Inna ma’al ‘usri yusro” sebagai penghibur jiwa. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Atau yang lebih simple dan sederhana dari kalimat itu semua, kau mungkin akan seringkali berkata “Bisa!” sebagai kata memotivasi.



Tapi, mengapa semakin kita terus menegaskan pada jiwa agar yakin akan pertolonganNya, seolah terlihat semakin menampakkan betapa tipisnya rasa yakin yang kita punya. Jujurlah, ketika lisanmu mengatakan yakin, apakah kabut tipis keraguan masih mengusik di selasar hati? Jika jawabmu adalah “Ya”, maka itu namanya kau belum benar-benar yakin, haqqul yakin. Hingga wajar saja jika masih hadirlah resah, mewujudlah gelisah atas masalah yang datang menyapa dan kebutuhan penegasan keyakinan menjadi hal yang tak terelakan lagi.
Namun, bukan berarti penegasan yang kau upayakan pada jiwa agar yakin akan kemudahan dari-Nya bernilai salah. Tidak sama sekali. Fase ini pasti akan ditempuh oleh sesiapa saja yang pernah dirundung masalah. Oleh sesiapa saja yang menaruh harap padaNya.

Rasulullah yang mulia pun senantiasa berharap dan mempertegas yakinnya. Banyak kisah Rasul yang dapat dijadikan teladan dalam hal ini, salah satunya adalah kisah tentang proses sebelum perang Khandaq membara. Dengan berbagai pertimbangan yang matang melalui proses musyawarah, maka bertahan di Madinah dan penggalian parit di sekeliling Madinah adalah siasat perang yang hendak mereka mainkan. Salman Al-Farisi adalah dalang dibalik ide penggalian parit ini.

Mungkin kita berfikir ini tidaklah sulit, hanya menggali parit. Apalagi daerah Madinah seringkali dikatakan sebagai lahan berpasir yang tentunya menurut logika akan mudah untuk digali. Jangan keliru saudaraku, lahan atau tanah mereka bukanlah pasir layaknya pasir di permukaan pantai yang terdapat di negara kita. Tanah mereka juga mengandung bongkahan batu besar dan sukar dihancurkan. Tambahan lagi, kala itu sedang terjadi krisis pangan dan musim dingin.

Seluruh muslimin bersatu padu bergerak bersama untuk menyelesaikan parit ini, hingga sampailah mereka pada sebongkah batu besar yang sangat sulit dihancurkan. Para sahabat melaporkan perihal ini kepada Rasul. Lalu Rasul mengambil kampak dan mendekati batu besar itu. Dengan menyebut nama Allah, Rasul pun memukul dan memecahkan batu besar itu. Setelah itu, beliau berkata “Allah Mahabesar, sungguh aku telah diberikan kunci-kunci gerbang negeri Syam, Demi Allah aku melihat istana merahnya sekarang”. Kemudian untuk kali kedua, Rasul kembali memukul dan memecahkan batu besar itu lagi dan berkata “Allah Mahabesar, sungguh aku telah diberikan Parsi, demi Allah, sungguh aku melihat istana putih al-Madain sekarang”. Kemudian Rasul menyebut nama Allah lalu memecahkan batu besar lainnya dan berkata “Allah Mahabesar, sungguh aku telah diberikan kunci-kunci Yaman, demi Allah, aku melihat gerbang Shan’a dari tempatku ini”.

Subhanallah. Menurut penulis, kisah ini adalah cerminan cantik dari serangkaian kalimat penyemangat pembesar jiwa, agar pengharapan dan keyakinan akan kejayaan Islam terus tertanam dan tertancap dalam di sanubari segenap kaum muslimin ketika itu. Tentunya kalimat penyemangat ini bukanlah sekadar obral janji, karena apa yang Rasul katakan mendapat tuntunan langsung dariNya. Dan semua yang Rasul katakan ini terbukti.

Tentunya pengharapan Rasul bukan karena ia tak yakin dan pertegasan keyakinannya bukan karena ia tak percaya. Kisah ini membuktikan bahwa Rasul juga manusia yang tentunya memiliki segenap “rasa manusia” yang mendapat petunjuk langsung dariNya.
Ya… Sikap optimisme dengan kalimat penggugah semangat, pembesar jiwa, akan memunculkan rasa harap yang kemudian menuntun kita untuk mempertegas rasa yakin. Agar keyakinan ini benar-benar tertancap dalam di sanubari… Agar kemudian Allah berkenan menolong…

Yakinlah, Allah akan menolong kita, bahkan meskipun kita masih dalam kondisi berupaya memperkuat dan mempertegas rasa yakin…

Berbagai Kemudahan yang Menyapa dCerita Hidupku
Di hari jumat kemarin (13/09), seorang teman meneteskan air mata karena kesulitan birokrasi yang harus dia lalui. Ia terpaksa harus berhadapan dengan birokrasi kampus karena telat membayar uang semester.  Mungkin ketika itu ia mulai merasa semakin lelah dan tak bersemangat lagi. Aku hanya bisa berupaya membesarkan hatinya yang mulai terkesan menyusut karena ia kerap kali bertanya “Bisa gak ya? Kalo gak bisa gimana?” dengan terus menjawab “insya Allah bisa kok” dan sesekali mengomentari cerita yang ia bagi. Berbagai saran pun ku tawarkan agar ia menghubungi beberapa dosen dan pejabat terkait. Namun setelah semua upaya ia tempuh, di hari itu, hasilnya tetap tak bisa. Dia tetap berusaha menghubungi pejabat itu, hingga sang dosen yang sekaligus sebagi pejabat terkait ini berkata via sms “sekarang kamu pulang aja, besok hari senin ke sana lagi, ibu lagi hubungi bapak x”.

Senin siang ini aku sengaja menemaninya untuk menghadap bapak x yang beliau maksud. Di saat menunggu sang bapak yang kebetulan sedang ada tamu, dia kembali bertanya, “Bisa gak ya? Kalo gak bisa gimana?”. Dengan jawaban yang tak jauh beda aku menjawab “Insya Allah bisa”.

Alhamdulillah, bisa… Wajahnya berbinar bahagia… Senangnya melihat ia senang.
Dari intensitas pertanyaan yang ia ajukan padaku, “Bisa gak ya?”. Terlihat bahwa yakin yang melingkupi hatinya tak seberapa.., tapi Allah tetap memberi kemudahan padanya…
Paska menemaninya ke bank untuk bayaran yang berlokasi di kampus A, aku bergegas mengerjakan tugas yang memang (katanya) harus dikumpul nanti di kelas. Saat itu jarum jam menunjukkan kurang lebih pukul 14.30, dan aku ada kelas di kampus B pukul 15.00 (hehe). Alhasil terlambatlah sampai kelas. Karena sudah ngos-ngosan menuju kelas yang ada di lantai 3 kampus B, aku yang datang telat hanya mengetuk pintu lalu langsung duduk, lupa mencium tangan dosen yang ada. (hemm)

Tapi bukan itu inti kemudahan yang kurasa. Mata kuliahku yang satu ini konon berniat pindah jadwal dan jadwal itu bentrok dengan jadwal matkulku yang lain. Sedang ini adalah kesempatan ‘terakhir’ku. Maka dengan sedikit rasa pede dan keyakinan yang tak seberapa bahwa dosen ini akan memudahkanku, pasca perkuliahan usai aku menujunya dan berbicara apa adanya terkait hal ini.

Alhamdulillah… Yakinku yang tak seberapa dijawab oleh kemudahanNya… (Maaf, bentuk kemudahannya tak dapat di-share di sini. =D)
Lihatlah, betapa luar biasa baiknya Allah…
Allah tetap mengabulkan keinginan hambaNya, padahal hambaNya tak seberapa yakin padaNya…

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Oleh: Cahyadi Takariawan

Ilustrasi (inet)

ikadikobar.blogspot.com - “Saya sangat kecewa dengan istri saya”, kata seorang suami saat melakukan konseling. “Dia tidak pernah bisa berbicara lembut. Ucapan dan nada bicaranya selalu tinggi dan kasar. Setiap hari dia membentak-bentak saya, seakan-akan saya itu pesuruh atau pembantunya. Dia tidak menghargai saya sebagai suami”, lanjutnya.
Benarkah sang istri bersikap kasar dalam berbicara dan sering membentak-bentak? Ternyata tidak demikian versi sang istri. Dalam sesi selanjutnya, sang istri mengungkapkan pembelaannya.

“Saya merasa selalu menghargai dan menghormati suami. Jika nada bicara saya dianggap kasar, itu karena ia terbiasa dengan gaya bicara keluarganya di Jawa yang lembut. Saya merasa berbicara dengan wajar saja. Beginilah kebiasaan suku kami dalam berbicara satu dengan lainnya. Ini bukan pembicaraan yang kasar”, kata sang istri membela diri.
Ternyata yang terjadi adalah perbedaan kultur. Suami dan istri lahir serta besar dari kultur yang berbeda, sehingga cara berkomunikasi pun berbeda. Sayangnya hal itu tidak segera disadari, sehingga membuat suami merasa tidak dihargai. Sisi lain, mereka tidak mampu segera melakukan penyesuaian diri, sehingga menemukan format komunikasi yang mereka sepakati dalam keluarga.


Catatan penting lainnya adalah dalam cara memandang dan cara menilai pasangan. Sang suami terlalu cepat menilai negatif istrinya. Hanya karena cara berbicara sang istri yang cenderung menggunakan nada tinggi, ia langsung menganggap istrinya kasar, keras dan membentak-bentak. Ia berpikir, istrinya tidak bisa menghargai dan menghormatinya sebagai suami. Ini adalah salah satu contoh berpikir negatif, yang akhirnya berdampak salah dalam mengambil kesimpulan.

Positive Thinking kepada Pasangan
Hendaknya kita selalu berpikir positif, melihat hal-hal kebaikan, sisi-sisi kelebihan dari pasangan, bukan mencari-cari kesalahan, kelemahan, kekurangan dan hal-hal negatif dari pasangan. Dalam contoh di atas, dampak dari negative thinking yang dimiliki suami, ia telah menganggap seakan-akan tidak ada lagi kebaikan pada istrinya. Seakan-akan sang istri memiliki perangai buruk dan tidak ada kebaikan yang bisa diharap darinya. Akhirnya sang suami merasakan kekecewaan yang berlebihan.

Ini bermula dari cara memandang pasangan. Jika suami menggunakan cara pandang negatif, maka apapun perbuatan istri masuk dalam cara pandang ini. Tidak ada kebaikan dari perbuatan istrinya. Namun jika menggunakan cara pandang positif, maka semua yang dilakukan istri memiliki nilai positif di mata suami.

Dalam kaitan dengan cara pandang positif ini, Kanjeng Nabi telah berpesan:
Janganlah seorang laki-laki beriman membenci (menceraikan) perempuan (istrinya). Jika ia tidak menyukai salah satu perangainya, niscaya ia masih menyukai segi-segi lainnya”.
Selama pasangan Anda masih berjenis manusia, Anda akan selalu mendapatkan kelemahan dan kekurangan darinya. Tidak ada manusia sempurna di muka bumi ini. Semua memiliki sisi kelemahan, sebagaimana pasti juga memiliki sisi kekuatan. Semua orang memiliki kekurangan, sebagaimana ia juga memiliki kelebihan.

Kalaupun melihat hal yang kurang dan lemah dari pasangan, adalah menjadi kewajiban kita untuk melakukan perbaikan dan pembinaan, agar bisa lebih baik dan lebih kuat. Bukan untuk dicela, dicacat, dicaci maki, dan diadili sisi kelemahan dan kekurangannya. Jangan jadikan kelemahan sebagai titik pandang pertama melihat pasangan. Jadikan kelebihan dan kebaikannya sebagai titik pandang, sehingga berbagai kelemahan yang ada lebih bisa diterima, untuk diperbaiki dan ditingkatkan.

Seorang penyair Arab menuliskan ungkapan yang sangat tepat untuk memahami masalah ini:
Idza kunta fi kullil umuri ’atiban, shadiqaka lam talqalladzi laa tu’atibuhu…..
Apabila dalam segala hal Anda selalu mencela, maka Anda tidak akan menjumpai orang yang tidak Anda cela…..
Ya, jika cara pandang adalah negative thinking maka semua akan negatif, jelek, dan tidak ada yang menyenangkan Anda. Hal-hal yang sebenarnya positif dan baik pun, bisa dinilai sebagai jelek dan salah apabila sudah telanjur berpikir negatif.

Kalau kita kembali kepada ajaran agama, Tuhan melihat kebaikan hamba dengan berlipat ganda besar pahalanya, sementara melihat keburukan hamba hanya sebesar poin yang dikerjakan, tidak dilipatkan. Ini memberikan spirit pelajaran, bahwa semestinya kita lebih banyak melihat sisi kebaikan orang lain, bukan fokus melihat sisi kekurangannya. Apalagi dalam kehidupan rumah tangga, hendaknya memberi nilai yang besar dan berlipat ganda atas kebaikan pasangan kita, dan tidak melebih-lebihkan dalam melihat sisi kekurangan dan kelemahan pasangan.

Berpikir positiflah kepada pasangan, dan Anda akan selalu merasa bahagia bersama pasangan. Selamat pagi, selamat beraktivitas.

Sumber: http://www.dakwatuna.com

Kategori : Ekonomi Makro
Judul ini saya ambilkan dari buku barunya Lester R Brown yang baru diluncurkan pekan lalu yaitu  Full Planet, Empty Plates : The New Geopolitics of Food Scarcity” (W.W. Norton & Company, New York, N.Y. 2012). Buku ini banyak menyajikan data-data yang mencemaskan tentang krisis pangan yang dihadapi dunia saat ini yang menurutnya akan semakin parah kedepan.

Data itu antara lain berupa fakta bahwa setiap hari di dunia ini lahir 219,000 bayi yang perlu dipersiapkan makanannya sampai puluhan tahun kedepan. Kemajuan ekonomi negara-negara berpenduduk sangat besar seperti China dan India, berdampak pada konsumsi daging yang meningkat. Ada sekitar 3 milyar penduduk dunia yang kini mampu mengkonsumsi daging, telur dan susu setiap hari. Untuk memproduksi ketiganya (daging, telur dan susu) dibutuhkan jauh lebih banyak biji-bijian sebagai pakan ternak – yang otomatis berebut dengan kebutuhan biji-bijian untuk makanan bagi 4 milyar penduduk dunia lainnya.

Sebagian lagi biji-bijian juga mulai digunakan untuk memproduksi bahan bakar sehingga menambah lagi pemain yang ikut rebutan biji-bijian yang terbatas. Saat ini di Amerika saja sepertiga dari biji-bijian yang mereka produksi – sudah digunakan untuk memproduksi bahan bakar mobil.

Lebih jauh Lester R Brown yang juga pendiri dan presiden Earth Policy Institute, penulis dari sekitar 50-an judul buku ini juga memprediksi bahwa dunia sudah sangat dekat dengan apa yang dia sebut ‘unmanageable food shortage’ – kelangkaan pangan yang tidak terkendali. Kondisi ini akan membawa dunia pada harga pangan yang melambung tinggi, kekacauan sosial yang meluas dan guncangan terhadap stabilitas politik global.

Lantas bagaimana kita-kita menyikapi fakta-fakta yang disajikan oleh orang sekaliber Lester R Brown ini ?. Di satu sisi kita harus akui bahwa fakta-fakta yang diungkapkan dia ini bisa jadi memang mengandung kebenaran – jadi tidak bisa kita abaikan begitu saja. Di sisi lain, juga menjadi bagian keimanan kita untuk meyakini bahwa sumber-sumber pangan itu akan cukup bagi seluruh penduduk bumi.

Pagi tadi habis sholat subuh ketika saya menceritakan buku tersebut antara lain ke Pak Walikota, beliau mengangkat pertanyaan yang sangat valid dengan mengutip surat Hud ayat 6 : “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…”, bagaimana memahami ayat ini dengan realita kelaparan yang ada di dunia saat ini ? bahwa hampir satu milyar manusia di dunia saat ini dalam kondisi kelaparan ?.

Yang terbaik adalah memahami ayat dengan ayat lainnya. Allah memang menyediakan seluruh sarana yang dibutuhkan di bumi ini untuk mencukupi kebutuhan manusia. Bahkan dibutuhkan proses penciptaan empat masa untuk mengisi bumi – sementara penciptaan bumi hanya butuh dua masa, isi bumi ini jauh lebih rumit dari buminya sendiri.

Kemudian Allah juga berfirman : “…Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya”. (QS Hud : 61). Jadi di surat yang sama, surat Hud setidaknya ada dua ayat yang saling menjelaskan dalam urusan rezeki atau dalam kaitan tulisan ini contohnya adalah masalah pangan, yaitu ayat 6 dan ayat 61 ini.

Allah memang menyediakan sarana untuk rezeki yang cukup untuk seluruh makhluk di bumi ini, pada saat yang bersamaan Allah juga menugasi manusia untuk menjadi pemakmur bumi itu. Manakala tugas ini tidak kita jalankan dengan baik, atau malah sebaliknya ketika manusia lebih banyak merusak sarana-sarana yang dibutuhkan untuk memproduksi pangan yang cukup – maka itulah yang kini dihadapi penghuni bumi itu, 1 milyar orang tidak memperoleh maknanannya secara cukup.

Lantas bagaimana agar kecemasan seperti yang terungkap oleh bukunya Lester R Brown tersebut di atas tidak benar-benar menjadi kenyataan ?, jawabannya ada pada diri kita sendiri juga.

Kita-kita yang mendapatkan petunjuk langsung dari firmanNya, kita yang ribuan kali di-‘surati’ Allah melalui ribuan ayat-ayatnya, sudahkah kita seriusi dalam merespon surat-suratNya tersebut ? sudahkah kita melaksanakan tugas yang diberikan olehNya langsung antara lain untuk memakmurkan bumi ini ? Bila saja petunjuk-petunjukNya itu kita ikuti, perintah-perintahnya kita laksanakan – insyaallah bumi itu akan makmur dan kecukupan rezeki bagi penghuninya terjamin.

Selama ini bahan pangan di dunia terlalu focus pada biji-bijian seperti gandum, padi, jagung dlsb. yang berasal dari tanaman yang tidak merambat; sedangkan sumber bahan pangan yang merambat seperti yang kita jagokan salah satunya gembili (Dioscoreae esculanta) belum banyak yang meng-elaborasi-nya. Petunjuk adanya bahan pangan dari tanaman-tanaman yang merambat ini ada di salah satu suratNya, yaitu surat Al-An’am ayat 141.

Bahwa daging, susu dan telur saat ini harus diproduksi dengan berebut biji-bijian yang di konsumsi manusia juga tidak sepenuhnya betul. Di negeri kita sudah banyak pihak yang bisa memproduksi pakan ternak berkwalitas tinggi melalui teknologi fermentasi, dengan sama sekali tidak menggunakan biji-bijian sebagai komponen bahan pakannya – cukup limbah-limbahnya. Bahkan hampir semua hijauan yang tumbuh di tanah kita bisa dijadikan bahan dasar untuk pakan ternak berkwalitas tinggi. Petunjuk untuk ini juga ada di salah satu suratNya yaitu surat Ali Imron ayat 191.

Energi yang diproduksi dari biji-bijian bahan pangan juga tidak perlu karena energi bisa diproduksi antara lain dari limbah pertanian yang berupa serat/selulosa sisa-sisa tanaman/pepohonan. PetunjukNya setidaknya datang melalui dua surat yaitu surat A-Waqi’ah ayat 71-72 dan surat Yaasin  ayat 80.

Walhasil buku yang ditulis oleh tokoh dunia dibidangnya sekaliber Lester R Brown tersebut di atas memang tidak perlu mencemaskan kita, namun kita dapat ambil manfaatnya untuk memahami fenomena riil yang sekarang sedang melanda dunia – yaitu krisis pangan.

Selanjutnya yang lebih penting dari itu adalah bagaimana kita bisa berbuat konkrit, proaktif mengantisipasi masalah yang mungkin akan ada dan mengambil langkah-langkah pencegahannya. Untuk langkah-langkah pencegahan ini kita juga sudah langsung disurati olehNya – melalui surat panjang yang  sangat indah di surat Yusuf. Penggalannya antara lain berbunyi : “Yusuf berkata: "Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) secara sungguh-sungguh; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.””(QS 12:47)

Tetapi bagaimana kita bisa melaksanakan perintah untuk memakmurkan bumi dan bertanam dengan sungguh-sungguh itu, bila kita tidak mempunyai kendali terhadap lahan-lahan produktif yang ada di negeri ini ?. Disitulah antara lain masalahnya.

Sesuatu yang memang diperlukan untuk melaksanakan tugas yang wajib, menjadi wajib pula pengadaannya. Maka sekarang menjadi kewajiban kita semua untuk mengamankan lahan-lahan produktif negeri ini dari perusakan dan pencemarannya atas nama industri dan pembangunan, atas nama kebutuhan infrastruktur jalan, perumahan dlsb. Kudu dicari cara yang seimbang antara pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan pelestarian sumber-sumber penghidupan jangka panjang.

Sukses Bersama Tetangga…

Suatu hari seorang petani jagung membeli benih terbaik untuk ditanam di kebunnya. Tetapi tidak cukup dengan itu, dia juga membeli benih yang terbaik untuk dibagikan ke kebun-kebun tetangga. Tetangganya yang penasaran bertanya : “Mengapa engkau memberikan benih sebagus ini untuk kami ?, bukankah kami akan menjadi pesaingmu waktu panen nanti ?”.


Tetangga yang baik tadi menjelaskan : “Ketika lebah hinggap di bunga-bunga, dia tidak milih-milih kebun yang mana yang dia hinggapi. Dia bisa hinggap di kebun kalian atau juga kebunku. Aku ingin bila dia hinggap di kebun manapun, yang terbawa olehnya adalah serbuk sari terbaik. Ini hanya bisa terjadi bila kalian juga menanam jagung dengan benih terbaik”.

Tetangganya masih pada belum puas : “ Tetapi nanti kita akan panen jagung dengan kwalitas baik yang sama, jagungmu hanya akan sebaik jagung kami…”. Petani yang baik tadi mengerti pertanyaan tetangganya tadi, karena selama ini mereka memang bersaing untuk yang terbaik sesama mereka – lupa bahwa persaingan yang sesungguhnya terjadi jauh di luar kebun-kebun mereka.

Dia kemudan menjelaskan : “Bila kita bersaing antara kebun-kebun kita, masing-masing kita mungkin bisa menjadi pemenang yang terbaik – tetapi ya hanya dalam wilayah kita. Kita tidak pernah bisa memenangkan persaingan dalam skala yang lebih luas, persaingan melawan dominasi produk negeri lain atau bahkan persaingan melawan lapar penduduk negeri-negeri miskin yang membutuhkan hasil panenan kita”.

Itulah yang terjadi di lingkungan kita sehari-hari, tukang ojek bersaing dengan tukang ojek, tukang cukur bersaing dengan tukang cukur, calon gubernur-bersaing dengan calon gubernur dst. Betapa banyak waktu, tenaga, pikiran dan sumber daya terbuang untuk bersaing satu sama lain.

Di dalam perusahaan, instansi, partai politik dlsb. orang-orang juga bersaing didalamnya memperebutkan pengaruh dan posisi dan bahkan tidak jarang mereka saling menyakiti dan mendzalimi – walhasil tidak ada yang diuntungkan dalam persaingan yang demikian.

Sejak jaman penjajahan musuh kita mengerti betul karakter kita yang mudah dipecah pecah ini, mereka sudah memiliki poltik adu domba devide et impera sejak berabad lampau. Kita mudah dikalahkan dan dikuasai ketika kita terpecah belah.

Dala tataran praktis untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, kita lebih banyak menggunakan produk impor karena kita tidak cukup bersatu untuk menyatukan kekuatan yang kita miliki. Hampir seluruh jenis mobil yang berseliweran di jalan-jalan kita adalah mobil impor, karena ketika ada anak-anak kita yang mau memproduksinya sendiri – lebih banyak kritik dan serangan yang mematahkan semangat mereka ketimbang dorongan yang membangun.

Setiap hari di pinggir-pinggir jalan kita disuguhi berbagai jenis buah impor, mulai dari apel, jeruk , legkeng, pir dlsb. Tidak bisa kah kita memproduksi sendiri di bumi yang subur ini ?, insyaallah bisa. Hanya diperlukan synergi sejumlah besar petani agar apapun yang kita akan produksi itu bisa mencapai skala ekonomis dari produk-produk yang berkwalitas tinggi.

Dalam skala yang sedikit lebih besar, bisakah umat ini kembali berjaya mengungguli umat-umat lain ? Insyaallah juga bisa, bila kita bisa bersatu. Yang diperlukan adalah leadership seperti yang ditunjukkan oleh petani yang membagikan benih jagung terbaik tersebut di atas. Kita hanya akan bisa ‘memetik jagung terbaik’ bila tetangga kita juga kita beri ‘benih’ yang sama. InsyaAllah …

Tidak biasanya saya menulis tentang keluarga di situs ini, tetapi karena ada sebuah penerbitan yang minta saya berkontribusi untuk sebuah buku kado pernikahan – maka tulisan khusus ini saya buat. Hari ini (02/10/12) tepat dua puluh lima tahun sejak kami menikah (02/10/87), saya mestinya menulis tentang suka duka pernikahan setelah seperempat abad berlalu. Tetapi sungguh di luar dugaan, saya tidak bisa mengingat kapan ada duka dalam pernikahan ini. Ndak percaya ?


Saya sendiri semula tidak percaya kalau tidak pernah ada duka dalam pernikahan saya, pasti ada – pikir saya. Saya coba ingat-ingat tetap tidak menemukan, yang saya temukan malah ingatan saya pada sebuah hadits panjang  yang penggalannya adalah sebagai berikut : “Kemudian didatangkan seorang penghuni jannah yang paling sengsara sewaktu di dunia, lalu ia dicelupkan sekali celupan di jannah, kemudian ia ditanya,” Adakah engkau merasakan penderitaan? adakah engkau pernah merasakan kesengsaraan?” Ia menjawab,”Tidak, demi Allah wahai Rabbku. Aku tidak merasakan penderitaan sedikitpun dan sama sekali belum pernah mengalami kesengsaraan.” (HR Tirmidzi)

Barangkali seperti penghuni jannah tersebutlah yang kami rasakan, tentunya juga pernah kami merasakan duka selama 25 tahun menikah – tetapi karena begitu lebih besarnya kebahagiaan itu sehingga ia mampu menutupi (overwhelm) duka-duka kecil yang ada selama dalam perjalanan.

Maka bila pengalaman ini berguna bagi para pasangan baru atau yang relatif baru, berikut adalah beberapa ‘catatan perjalanan’ seperempat abad itu :

Fokus Membangun Keluarga Bukan Pada Meriahnya Pesta…

Banyak yang lucu-lucu dalam pernikahan kami yang serba sederhana, di antaranya adalah tiga hari menjelang pernikahan kami, (calon) mertua bertanya kepada (calon) istri  saya : “Lha bojomu iki endi to nok, sido opo ora kawine – lha (calon) suamimu itu mana sih neng, jadi apa tidak nikahnya ?”. Ini karena kami hanya berkomunikasi lewat surat sebelum hari H, tidak ada acara lamaran formal dan tidak ada rencana acara pesta yang meriah, maka wajar kalau calon mertua was-was jadi tidaknya perkawinan kami – sampai tiga hari sebelumnya.

Dalam perjalanan di bus malam menuju rumah calon mertua, saya baru ingat bahwa saya belum  menyiapkan mas kawin. Lantas ketika bus malam berhenti, saya melihat apa yang ada di sekeliling – saya lihat ada sajadah yang dijual di toko pinggir jalan, maka itulah yang saya beli untuk mas kawin.

Tapi rasanya ndak pas kalau hanya sajadah ini yang saya gunakan sebagai mas kawin, maka saya tambahi dengan uang sebesar Rp 3,925,- . Ketika mas kawin ini saya ucapkan pada waktu ijab-qobul, orang-orang pada berbisik “kuwi mesti ono maknane – jumlah uang (yang ganjil) itu pasti ada artinya”. Dalam hati saya juga berbisik balik, “iyo pancen ono maknane – maknane pancen ora duwe duwit !  iya memang ada maknanya – maknanya ya sederhana saja , ya memang ndak punya uang !”.

Orang Jawa pada umumnya memingit penganten nggak boleh bepergian sampai beberapa hari, tetapi karena saya hanya cuti satu hari – yaitu hari Jum’at 2 Oktober 1997, hari H pernikahan kami, sehari setelah pernikahan itu – istri sudah langsung saya boyong ke Jakarta – perjalanan pernikahan yang sesungguhnya mulai saat itu.

Cukup Dengan Yang Sedikit…

Tidak ada karir yang langsung menanjak dan rumah yang langsung bagus, semua harus mulai dari awal. Maka wajar saja kalau keluarga baru memiliki rezeki yang pas-pasan, tetapi rezeki yang sedikit itu sudah dijamin kecukupannya oleh Allah Yang Maha Tahu atas apa yang kita butuhkan.

Istri saya tidak pernah tahu dan tidak ingin tahu penghasilan saya selama 25 tahun ini, ini baik untuk dia dan baik untuk saya. Baik untuk dia karena penghasilan suami itu tidak pernah mengotori hatinya, baik untuk saya karena agar saya bisa melaksanakan kewajiban lain secara lebih leluasa seperti kepada orang tua, kaum kerabat dlsb.

Tambah Anak Tambah Rezeki…

Entah ini ungkapan dari mana asalnya, tetapi karena ini sejalan dengan janji Allah akan rezeki dariNya untuk setiap anak-anak kita – maka siapa yang lebih memenuhi janji dari Dia ?.

Anak demi anak lahir, bersamaan dengan itu pula rezeki bertambah. Ketika anak pertama lahir, saya diangkat jadi manajer di perusahan tempat bekerja. Anak kedua lahir bersamaan dengan pengangkatan jadi General Manajer di perusahaan yang lain.

Anak ketiga lahir di puncak krisis keuangan Indonesia 1998, tetapi saat itu saya sudah beberapa tahun menjadi direksi perusahaan publik di negeri ini, sehingga saya beri nama belakang anak ketiga ini dengan Qona’ah sebagai bentuk rasa kecukupan dan kesyukuran atas apa yang diberikan olehNya.

Ikan Tidak Menjadi Asin Di Laut…

Di jaman itu, tidak mudah untuk bisa memilih tempat bekerja yang aman bagi keimanan dan ketakwaan kita. Enam tahun saya pernah bekerja di perusahaan asing yang sangat sukses di bidangnya, tetapi juga sangat rusak lingkungannya. Di perusahaan itu perselingkuhan meraja-lela, dari bawahan sampai pimpinan perusahaan – rusak semua keluarganya. Rasanya seperti selamat dari tepi jurang neraka ketika berhasil keluar dari perusahaan itu sebelum ikut-ikutan rusak.

Bersamaan pindah ke perusahaan yang lebih bermoral, tempat tinggal pindah, pertemananpun berubah. Dari sini saya belajar betapa rentannya keluarga-keluarga muda di kota besar, bila mereka tidak pintar-pintar memilih lingkungan kerja, lingkungan pergaulan, lingkungan pendidikan untuk anak-anaknya dst.

Pindah Kwadrant…

Sebagian karena berusaha memilih lingkungan kerja yang lebih baik, sebagian juga karena keinginan untuk aktualisasi diri – saya sepakat dengan istri untuk mengakhiri bekerja di perusahaan orang lain 10 tahun lebih awal dari rata-rata usia orang pensiun.

Hari masih siang ketika untuk pertama kalinya dalam 21 tahun karir pekerjaan, saya pulang sebelum waktunya – karena hari itu pekerjaan saya resmi berakhir ketika ketok palu RUPS perusahaan menutup rapat.

Yang pertama saya lakukan adalah memberitahu istri – untuk hati-hati dengan suaminya yang bisa jadi sensi – karena post power syndrome. Saya bilang sama istri saya : “ ma, kata orang ---suami-suami yang pensiun itu meskipun sudah tidak dibuat stress lagi oleh perusahaan, tetapi justru istrinya yang membuat stress”. Istri saya kemudian menjawab : “ Insyaallah tidak pa…”.

Ternyata saya tidak sempat bener-bener pensiun, justru keesokan harinya rumah saya sudah berubah menjadi kantor. Tamu-tamu terus berdatangan untuk berbagai urusan – sampai suatu saat kami memutuskan rumah itu terlalu rame dan mulai kehilangan privacy-nya sebagai rumah, sebelum sempat mengganggu ketenangan keluarga di rumah – kami memutuskan untuk menerima tamu-tamu kami di rumah lain yang kami siapkan khusus untuk ini.

Pindah kwadrant dari pegawai menjadi self-employer, business owner dan kemudian investor itu berat dan beresiko. Maka diperlukan dukungan dan pengertian secara all out dari pasangan kita.

Paduan Pengalaman Kita dan Perasaan Istri Kita…

Jangan pernah under estimate dengan perasaan istri Anda…, itulah pengalaman saya. Meskipun di dunia pekerjaan dan usaha kita punya pengalaman dan pengetahuan yang lebih, perasaan istri akan baik buruknya suatu keputusan usaha atau investasi sungguh merupakan sesuatu yang perlu dipertimbangkan.

Logikanya begini, bila perasaan dia baik – maka dia akan ikut berdo’a untuk kesuksesan keputusan usaha kita. Sebaliknya kalau perasaan dia tidak baik, berdo’a-pun tidak akan sepenuh hati.

Maka meskipun seluruh keputusan usaha atau investasi itu kita yang memutuskan, kita tidak seharusnya mengabaikan feeling istri kita. Ketika kemampuan dan upaya kita itu terbatas, do’a kita bersama istri kita insyaallah bisa menjadi penyebab turunnya pertolonganNya.

Harapan Jauh Kedepan…

25 tahun telah berlalu, kita tidak pernah tahu apakah kita masih punya waktu untuk 25 tahun berikutnya. Maka ketika terjaga di malam hari, saya suka ‘iri’ dengan calon bidadari surga (insyaallah) yang berada di samping saya ini. Begitu tenang dan nyenyak tidurnya, seolah tiada beban kehidupan di pundaknya. Dia insyaallah bisa bener-bener sampai surga karena saya suaminya selalu ridla padanya. Sedangkan saya sendiri, siang malam sejak usia 40 tahun terus berdo’a agar dimudahkan dalam  beramal yang diridlai-Nya (QS 46 :15), saya perlu terus dan terus berdo’a karena tidak pernah tahu ‘amalan saya yang mana yang benar-benar bisa mendatangkan ridla-Nya itu.

Tetapi lagi-lagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menghibur saya dengan janjinya : “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Saya mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan beliau tempatnya di surga, saya mencintai istri saya dan insyaallah tempatnya juga di surga. Saya mencintai anak-anak yang solehah, insyaallah tempat mereka di surga. Saya mencintai teman-teman saya yang soleh dan solehah, mereka semua tempatnya juga di surga – masa’ saya tidak diijinkan olehNya untuk bersama mereka ?”

Rabbanaa wa aatinaa maa wa ‘ad tanaa ‘alaa rusulika wa laa tukhzinaa yaumalqiyaamah innaka laa tukhliful mii’aad. *)
*) http://geraidinar.com/

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.