Latest Post

الحمد لله العزيز الغفار، العلي الجبار، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وعد التائبين بالسعادة بالجنة والسلامة من النار، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله المبعوث لإنقاذ البشرية من الشقاء في الدنيا وفي دار القرار.
اللهم صل وسلم وبارك وأنعم على  سيد المستغفرين بالأسحار، وعلى آله وأصحابه الأخيار وعلى التابعين لهم بإحسان ما بقي الليل والنهار. أما بعد:
فاتَّقوا الله ـ عبادَ الله ـ حقَّ التقوى، وراقبوه في السرِّ والنجوَى

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita kuatkan iman kita kepada Allah swt. dan kita tingkatkan taqwa kita kepada-Nya. Hanya dengan iman yang benar dan taqwa yang sebenarnya kita akan meraih ketentraman diri, keberkahan hidup dan rasa aman akan mewujud di tengah-tengah masyarakat. Allah swt. berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (96) أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (97) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (98) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (99)

Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
97. Maka Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
98. atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
99. Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi. Qs. Al-A’raf:96-99
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Rasa aman dan terhindar dari bahaya itulah yang sekarang dibutuhkan negeri ini. Betapa tidak, hampir setiap saat, kita dikagetkan dengan berbagai macam bencana dan musibah, tak ada ujungnya. Bencana ada di sekitar kita, lebih-lebih di bulan ini, mulai dari banjir lumpur Warior, tsunami Mentawai dan gunung Merapi, bahkan gempa bumi setiap hari. Ratusan jiwa meninggal.

Ayat-ayat di atas menginformasikan syarat meraih keberkahan hidup dan sekaligus syarat terhindar dari bencana.
“Jikalau sekiranya penduduk suatu kampung atau negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, …”
Langit bukan menurunkan hujan yang membawa mala petaka banjir sebagaimana yang terjadi di wilayah Ibu Kota dan sekitarnya pada pekan lalu. Rumah-rumah terendam banjir, macet di mana-mana, bahkan menyeret korban seorang mahasiswi yang mencoba menghindari banjir malah terseret air di gorong-gorong terbawa arus air sampai puluhan kilo meter dan meninggal dunia…

Bumi bukan memuntahkan awan panas yang melelehkan kulit karena panasnya sampai lebih dari 600 derajat celcius… bumi bukan lari-lari atau bergoyang atau gempa, yang hari-hari ini terjadi di banyak tempat, di Maluku, Sulawesi, Lampung, Sumatera…
Laut bukan memuntahkan gelombang setinggi 8 meter yang menghanyutkan semua yang dilaluinya… tsunami menggulung semua yang diterjangnya, kecuali masjid tempat bersujud hamab-hamba Allah swt.

Bencana ada di sekitar kita, kebakaran di mana-mana, letusan tabung gas masih menelan korban… rasa aman tercerabut dari lingkungan kita.
Bencana itu karena sikap manusia yang mendustakan firman-firman Allah, tidak mempercayai aturan dan syariat Allah dan tidak melaksanakannya. “tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”
Kehidupan ini ada pada Genggaman Allah swt. Dialah Dzat Pencipta, Pengatur alam mayapada ini. Dengan sangat mudah Allah swt. menunjukkan kekuatan dan kekuasaan-Nya. Allah swt. tinggal berucap “Kun! fayakun”. Ketika Allah swt. sudah menunjukkan kekuatan dan kekuasan-Nya, tidak ada yang dapat menolak dan menghindarinya. Tidak ada rasa aman dari makar Allah, dari murka dan bencana-Nya. “Maka Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? sebagaimana yang terjadi di Mentawai…

Atau Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalan naik ketika mereka sedang bermain? sebagaimana yang terjadi di Wasior atau juga yang terjadi di sekitar gunung Merapi –yang bahkan terjadi pada siang dan malam hari-…

Tidak ada tempat untuk lari dari makar Allah. Manusia dengan keterbatasan kemampuan yang dimilikinya bahkan teknologi yang dikuasainya tidak mampu menghindar dari bencana yang terjadi.

Kita dengar dan lihat ketika teknologi manusia mengatakan wilayah aman dari bencana awan panas merapi berjarak 10KM, kemudian direvisi lagi 15KM… jarak itupun tidak aman, bahkan puluhan meninggal karena berada di sekitar diradius itu… terkena awan panas, semua hangus terbakar, binatang, pohon-pohon, bangunan-bangunan dan semua yang dilewati awan panas. Kemudian direvisi lagi, jarak aman berada di radius 20KM dari puncak gunung merapi. “Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.”

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ (30)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” Syuro/42:30

( ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ ) [الروم: 41]
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” QS. Rum/30:41

Kembali kepada Allah
Umat manusia harus sadar, segera kembali kepada Allah, bertaubat kepada-Nya. Allah swt. berfirman:
فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ
“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah.” QS. Adz-Dzariat:50
وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى
“Dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku).“ QS. Thaaha:84
حم (1) تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (2) غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ (3)
1. Haa Miim.
2. diturunkan kitab ini (Al Quran) dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui,
3. yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). QS. Ghafir/Mukmin/40:1-3

Dalam ayat ini Allah swt menunjukkan kasih-sayang-Nya jauh lebih besar dibanding murka-Nya. Coba kita lihat, Allah hanya menyebut sekli murkaNya “Syadidil ‘iqabi” di antara tiga Sifat kasih-sayang Allah, yaitu Maha Pengampun, Penerima taubat hamba-hamba-Nya dan yang banyak karunia-Nya.

Iman, Amanah dan Aman
Selanjutnya umat manusia harus membuktikan iman dan taqwa dengan sebenarnya. Iman bahwa bahwa dibalik kehidupan ini ada yang mengatur dan memiliki segalanya. Dialah Allah ‘Azza wa Jalla. Aturan-aturan-Nya harus diikuti. Hukum alam-Nya harus dijaga. Iman bahwa janji Allah pasti benar.

Kata iman, amanah dan aman adalah berasal dari satu akar kata dari Bahasa Arab. Iman di atas diimplementasikan dalam menjalankan amanah yang diembannya. Siapapun kita, apapun profesinya pasti mengemban amanah ini.
Sebagai seorang ayah dalam keluarga atau sebagai kepala rumah tangga yang diamanahi anak dan istri hendaknya melaksanakan amanah itu dengan sejujurnya.
Sebagai profesional atau pekerja, hendaknya melaksanakan amanah yang dijalaninya dengan sebenarnya.
Sebagai dosen atau mahasiswa atau pelajar, hendaknya menjalankan amanah keilmuan dengan sejujurnya.
Sebagai public figur hendaknya menggunakan amanah dan titipan popularitas dengan bertanggungjawab.
Sebagai pegiat media massa, harus menjalankan amanah profesi dengan jujur dan bertanggungjawab.
Sebagai wakil rakyat harus menggunakan amanah yang diembannya dengan jujur dan bertanggungjawab, juga sebagai teladan dalam kebaikan.
Sebagai pemimpin, dalam ragam level, mulai dari ketua RT, RW, lurah, camat, bupati, wali kota, gubenur bahkan presiden sekalipun hendaknya menjalankan amanah kepemimpinannya dengan serius dan bertanggungjawab, juga sebagai teladan dalam setiap kebaikan.
Sebagai apapun kita, amanah itu melekat dalam diri kita.
كُلُّكُمْ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِهِ ، ومَسْئُولٌ عَنْهُمْ ، وَامْرَأَةُ الرَّجُلِ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُ ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ ، أَلا كُلُّكُمْ رَاعٍ ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ .

Rasulullah saw. bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Seorang pejabat yang mengurus rakyatnya adalah pemimpin dan bertanggungjawab atas rakyatnya. Laki-laki adalah pemimpin di rumah tangganya, dan ia bertanggungjawab atasnya. Perempuan atau seorang  istri  adalah pemelihara di rumah suaminya, ia dimintai pertanggungjawaban atasnya. Seorang budak adalah penjaga harta tuannya, ia dimintai tanggungjawab atasnya. Ingatlah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian dimintai tanggungjawab atas yang dipimpinnya.” Hadits Sahish riwayat Ibnu Hibban, bab Khilafah dan Imarah, jilid 18, halaman 480.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (90) وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ (91)
90. Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
91. dan tepatilah Perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat” An-Nahl:90-91
Rasulullah saw. bersabda:
“مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللَّهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ غَاشًّا لِرَعِيَّتِهِ إِلا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ”
“Tiada seorang hamba yang Allah beri amanah mengurus rakyat, ia meninggal dalam keadaan menipu terhadap rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya masuk surga. Muttafaqun alaih
Ketika iman sudah benar, yaitu dengan dijalankannya amanah masing-masing, maka secara otomatis rasa aman akan mewujud. Allah swt. berfirman:
الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (82)
82. orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS. Al-An’am:82
Yang kedua adalah taqwa yang sejujurnya, yaitu dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya sesuai dengan kemampuan kita. Sejujur taqwa dengan meninggalkan seluruh larangan-larangan-Nya, sekecil apapun itu, karena hanya akan membawa petaka dan mengundang bencana.
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم من الآيات والذكر الحكيم، وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم؛ واستغفروا الله إنه هو الغفور الرحيم

الحمدُ للهِ الذِي أَلَّفَ بيْنَ قُلُوبِ المؤمنينَ، وجمَعَ رأْيَهُمْ علَى كَلِمَتَيْ الحقِّ والدِّينِ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أَنَّ سيدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ ، وصفِيُّهُ مِنْ خلقِهِ وخليلُهُ
فاللَّهُمَّ صَلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سيدِنَا محمدٍ وعلَى آلِهِ وصحبِهِ أجمعينَ ومَنْ تَبِعَهُمْ بإحسانٍ إلَى يومِ الدِّينِ.
أَمَّا بعدُ: فأُوصيكُمْ عبادَ اللهِ ونفسِي بتقوَى اللهِ تعالَى، قالَ اللهُ عزَّ وجلَّ
وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢١٥)
Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

Hadirin Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pembenahan akhlak merupakan misi kenabian dari Nabi Muhammad Saw., seperti deklarasinya pada salah satu haditsnya: Innama bu’isttu li utammima makarimal akhlaq (sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia). Untuk itu akan kita temukan kemuliaan akhlak itu pada berbagai cerita Nabi dan para sahabatnya. Seperti pada kisah berikut ini:

Pada suatu hari Abu Bakar RA dan Ali bin Abi Thalib RA pergi berkunjung ke rumah Rasulullah Saw… Setibanya di depan pintu rumah nabi, satu sama lain saling mendorong rekannya untuk masuk terlebih dahulu.

Abu Bakar: Kamu duluan, ya Ali!
Ali: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakr, sedang Rasulullah sendiri pernah bersabda tentang mu: “Belum pernah matahari terbit atau terbenam atas seseorang sesudah para nabi, lebih utama dari Abu Bakar.”
Abu Bakar: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali, sedang Rasulullah juga pernah bersabda tentangmu: “Aku telah menikahkan wanita terbaik kepada lelaki terbaik, aku nikahkan putriku Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib.”
Ali: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakar, sedang Nabi Saw pernah bersabda: “Kalau iman umat ini ditimbang dengan iman Abu Bakar, tentu akan berat timbangan iman Abu Bakar.”
Abu Bakar: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali, sedang Rasulullah Saw pernah bersabda tentangmu: “Dikumpulkan Ali bin Abi Thalib di Mahsyar pada hari Kiamat kelak dengan berkendaraan bersama Fatimah, Hasan dan Husain, lalu orang-orang bertanya-tanya, “Nabi siapa gerangan itu?” Lalu ada yang menjawab, “ia bukan nabi, tetapi Ali bin Abi Thalib dan keluarganya.”
Ali: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakar, sedang Rasulullah Saw pernah bersabda tentang engkau: “Kalau aku harus mempunyai kekasih selain dari Rabbku, tentu aku akan memilih Abu Bakar sebagai kekasihku.”
Abu Bakar: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali, sedang Rasulullah Saw pernah bersabda: “Pada hari kiamat aku bersama Ali, lalu Allah berfirman kepadaku: “Wahai kekasihku, aku telah pilihkan untukmu, Ibrahim al-Khalil sebagai ayah terbaikmu, dan Aku telah pilihkan untuk Ali sebagai saudara dan sahabat terbaikmu.”
Ali: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Aba Bakar, sedang Allah Ta’ala pernah berfirman tentangmu: “Dan orang yang datang membawa kebenaran dan orang yang membenarkannya, mereka itu adalah orang-orang yang bertaqwa (QS. Az-Zumar: 33)
Abu Bakar: Mana mungkin aku akan mendahuluimu, ya Ali sedang Allah Ta’ala juga telah mengisyaratkan mu dalam firman-Nya: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari kerelaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)

Pada waktu keduanya sedang asyik memperbincangkan keutamaan sahabatnya, Jibril datang berkunjung kepada Rasulullah Saw, seraya berkata: “Ya Rasulullah, di luar sana ada Abu Bakar dan Ali hendak menemuimu. Pergilah, sambutlah keduanya!”

Maka Rasulullah Saw segera bangkit dari duduknya, menyambut mesra dan mempersilakan masuk kedua sahabatnya yang mulia. Beliau Saw menempatkan Abu Bakar di sebelah kanannya dan Ali di sebelah kirinya, seraya berkata kepada mereka, 

“Demikianlah kami kelak dibangkitkan di hari Kiamat.”
Akhlak mereka itu persis dengan ayat Allah yang berbunyi:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (٢١٥)

Dan rendahkanlah sayapmu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman. (QS. Asy-Syu’ara: 215)

Rendahkanlah sayapmu ini berkonotasi agar Rasulullah Saw. Rendah hati atau tawadhu bila berhadapan dan berinteraksi dengan para sahabatnya. Dan kerendahhatian Rasulullah Saw. Ini ditiru oleh para sahabat kemudian, maka terbacalah oleh kita sekarang tentang sifat dasar pengikut Nabi Muhammad Saw. Dari kurun ke kurun, generasi ke generasi. Allah mengingatkan kita bahwa generasi pengganti yang akan berperan kemudian setelah habis masa peran orang-orang yang keluar dari ajaran-Nya, memiliki sifat tawadhu, lemah lembut seperti dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (٥٤)

Hai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan sebuah kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui. (QS. Al-Maidah: 54)

Hadirin Jamaah Jumat yang mencari ridha Allah,
Untuk itu, alangkah eloknya bila kita sebagai pengikut Nabi Muhammad Saw. Yang tawadhu, berhias diri juga dengan sikap tawadhu, terutama dengan sesama umat Sayyidina Muhammad Saw. Sehingga akan tampak pemandangan sosial yang indah di antara sesama muslim, saling menghargai, tidak saling merendahkan, saling menutupi, tidak saling menelanjangi, saling memuji, tidak saling mencela. Energi kita pun tidak digunakan untuk mencari cacat saudara, tetapi kita gunakan untuk mengerahkan potensi kita agar berdaya guna hidup di tengah-tengah masyarakat.

Namun perlu diingat, rendah hati ini jangan sampai masuk ke derajat rendah diri. Karena rendah hati akan berdampak positif, sementara rendah diri akan berdampak negatif. Rendah hati adalah sebuah keutamaan, sedangkan rendah diri adalah kehinaan. Rendah hati akan memacu jiwa pemiliknya untuk terus bertanding, sedangkan rendah diri akan meracuni pemiliknya untuk tidak ikut bertanding, mereka kalah sebelum berperang. Rendah hati adalah obat kesombongan, sedangkan rendah diri adalah penyakit, yang sementara ini menggerogoti jiwa umat Nabi Muhammad Saw.

Semoga saja kita termasuk orang yang rendah hati yang tidak rendah diri. Amin ya Rabbal ‘alamin.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا (٦٣)

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS. Al-Furqan: 63)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, alhamdulillah, sebagai warga negara yang baik, yang berusaha mengamalkan ketaatan kepada ulil amri, kita semua telah menyampaikan aspirasi masing-masing secara langsung-umum-bebas-rahasia. Apapun pilihan akhir masing-masing, tentunya adalah hak masing-masing. Tidak untuk dibahas dan diperdebatkan. Namun, kita wajib bersyukur bahwa prosesi itu telah berlangsung dengan baik dengan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah pada khususnya. Semoga Allah Swt menghindarkan diri kita semuanya, daripada pribadi-pribadi yang selama proses menuju pilihan akhir adalah pribadi yang tidak menerima money politics dari siapapun. Karena selain tidak jelasnya sumber dana-dana mereka dan membuat kita tidak lagi independen dari pemikiran asli. Namun bukankah satu suara umat Islam begitu mahal nilainya di hadapan Allah Swt? Karena satu suara itu lahir dari sebuah proses berpikir secara mendalam untuk kemudian lahir menjadi sebuah keputusan individu, terlebih sebuah keputusan untuk memilih wakil manusia yang akan memberi warna kepada  materi undang-undang negara kita. Apakah isi dari materi Undang-undang lima tahun ke depan akan lebih bercorak kepada liberalisme, pluralisme, komunisme, sosialisme? Ataukah ia lebih bercorak kepada semangat keberagamaan selain Islam? Ataukah ia lebih bercorak kepada semangat berIslam yang menyimpang bahkan sesat seperti Syi’ah, Ahmadiyah, dan aliran sesat lainnya? Ataukah ia lebih bercorak kepada semangat Islam yang kaffah, semangat Islam yang syamil mutakammil, semangat Islam yang  yang berusaha menegakkan tujuan Syari’at Islam (Maqashid al-Syari’ah) sebagaimana telah ditulis secara detail oleh seorang ahli ushul fikih bermadzhab Maliki dari Granada (Spanyol), yaitu Imam al-Syatibi (w. 790 H).

Sesungguhnya, konsep tentang tujuan Syari’at Islam telah dimulai pada masa Imam Haramain, al-Juwaini dan Imam al-Ghazali. Namun kemudian disusun secara sistimatis oleh al-Imam asy-Syatibi dalam kitabnya yang terkenal, al-Muwwafaqat fi Ushul al-Ahkam, juz II, yang beliau namakan kitab al-Maqashid. Menurut al-Syatibi, pada dasarnya syariat ditetapkan untuk mewujudkan kemaslahatan hamba (mashalih al-‘ibad), baik di dunia maupun di akhirat. Diantara tujuan yang bersifat dharuriyat beliau jelaskan lebih rinci mencakup lima tujuan, yaitu : (1) menjaga agama (hifzh ad-din); (2) menjaga jiwa (hifzh an-nafs); (3) menjaga akal (hifzh al-‘aql); (4) menjaga keturunan (hifzh an-nasl); (5) menjaga harta (hifzh al-mal). Maka apapun Undang-undang yang akan terlahir dari para wakil rakyat adalah bergantung kepada worldview apa, cara pandang apa, yang bersemayam di dalam setiap qalbu mereka. Karena demikianlah satu sisi kelemahan sistem demokrasi tatkala satu orang ulama sama suaranya dengan satu orang jahil.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالأَمِيْرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَّةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّت

“Kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya. Sehingga seluruh kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpin.” (Muttafaqun alaihi)

Maka posisikanlah diri kita semuanya dengan cara berpikir  seorang pemimpin. Yang senantiasa menimbang-nimbang antara pertimbangan kebaikan dan keburukan, dampak baik dan dampak buruk, menjauhkan diri dari dorongan hawa nafsu setan, menjadikan segala urusan pemimpin dikembalikan kepada al-Qur’an al-Karim, panduan hidup utama umat Islam. Jangan tinggalkan al-Qur’an hanya untuk dibaca di masjid. Jadikan ia referensi dan sumber motivasi gerak dan keputusan kita. Mulai dari keputusan-keputusan yang kita buat dalam memimpin diri ini dalam kehidupan, dalam memimpin keluarga, dalam kebersamaan kita menegakkan Syariat Islam di negeri kita. Karena semua keputusan hidup kita adalah sebuah pilihan, dan Allah Swt akan meminta pertanggungjawaban kita. Apa landasan berpikir kita dalam membuat keputusan? Bagaimana proses keputusan yang kita jalankan? Apakah kita melibatkan Allah swt dalam keputusan yang kita ambil?

Jauhkanlah diri kita dari segala bentuk fanatik terhadap -isme kecuali Islam. Karena semua -isme adalah produk manusia. Sementara Islam telah terhidang di hadapan. Jauhkan  diri kita dari segala bentuk fanatik terhadap figur ataupun tokoh. Karena figur dan tokoh tidak abadi dan bisa menyimpang. Sementara ideologi akan tetap hidup. Jauhkan pula diri kita dari segala bentuk fanatik terhadap golongan, kesukuan, nasab. Karena Islam mengawali kelahirannya untuk menghapus segala bentuk kefanatikan hina seperti itu dan menggantikannya dengan amal unggulan. Ingatkah kita akan pesan Nabi saw,

أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّوَجَلَّ , وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكَ عَبْدٌ

“Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘azza wa jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah kalian seorang hamba sahaya (budak)”. (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi).

Kuatkanlah referensi berfikir kita dengan as-Sunnah yang mulia, dan kemudian fatwa para sahabat Nabi saw., dan kemudian ra’yu yang di dalamnya terdapat qiyas, ijma’ para ‘ulama, mashalih mursalah, dan sadduz dzarii’ah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الإِمَامُ العَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يَفْطُرَ وَدَعْوَةُ المَظْلُوْمِ.

“Tiga doa yang tidak tertolak: Doa pemimpin yang adil, orang yang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang dizhalimi” [HR. Tirmidzi dan Ibn Majah]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسَاجِدِ  وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ  وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ حُسْنٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ  وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Tujuh orang yang akan dinaungi Allah pada hari yang tiada naungan selain naungan-Nya: (1) Seorang imam yang adil (2) Seorang pemuda yang menghabiskan masa mudanya dengan beribadah kepada Allah. (3) Seorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid. (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah. (6) Lelaki yang diajak seorang wanita yang cantik dan terpandang untuk berzina lantas ia berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah”. (5) Seorang yang menyembunyikan sedekahnya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. (6) Seorang yang berdzikir kepada Allah seorang diri hingga menetes air matanya.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Maka iman kita mengatakan bahwa imam yang ‘adil adalah imam yang muslim dan imam yang menegakkan amanahnya di atas tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hanya dengan syarat inilah sebuah do’a dikabulkan Allah. Kita berlindung kepada Allah Swt dari hadirnya pemimpin sebagaimana ramalan Rasulullah saw,

يَكُونُ بَعْدِى أَئِمَّةٌ لاَ يَهْتَدُونَ بِهُدَاىَ وَلاَ يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِى  وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِى جُثْمَانِ إِنْسٍ

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu, pen) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal, pen). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia.“ (HR. Muslim)

Akhirul kalam, berpikir adalah satu pekerjaan kaum muslimin. Untuk itulah Allah senantiasa mengulang-ulang perintah-Nya untuk berpikir, dan memberikan pujian dan balasan terbaik kepadanya.

Sebagai penutup khutbah ini, khatib berwasiat untuk khatib pribadi dan kita semuanya, bahwa hakikat memilih wakil rakyat dengan amanah membuat UU untuk keadilan dan kesejahteraan telah kita tunaikan. Yakinlah bahwa Allah swt akan meminta pertanggungjawaban akan upaya sungguh-sungguh kita dalam berfikir secara mendalam untuk memilih wakil rakyat tersebut dalam konteks meninggikan kalimat Allah di muka bumi ini, dan akan hadir dalam waktu dekat ini masa bagi kita untuk kembali berfikir secara mendalam untuk menemukan pemimpin yang ideal, yang menggabungkan kepakaran ulama dan keutamaan jiwa kepemimpinan untuk menegakkan UU yang telah dibuat para wakil rakyat yang mendukung kelestarian dan tegaknya Syariat Islam.

Gunakanlah alat dan metodologi berpikir yang telah diwariskan oleh figur terbaik yang memang layak diberikan sikap fanantik kita kepadanya, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalaupun pemimpin yang ideal itu belum ada dan masih sulit ditemukan, maka minimal pilihan kita jatuh kepada pemimpin yang memiliki tauhid yang lurus, mencintai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tidak menjadi musuh bagi tegaknya syariat Islam. Agar tatkala ia berdo’a untuk menjadikan negeri ini negeri baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, Allah segera mengabulkannya, diiringi do’a kita kepada pemimpin tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ  عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ  كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengetahuinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat (yang memiliki tugas mengaminkan do’anya kepada saudarany, pen). Ketika dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin, engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” (HR. Muslim)

كَمَا تَكُوْنُوْنَ يُوَلَّى عَلَيْكُمْ

“Bagaimanapun keadaan rakyat, maka begitulah keadaan pemimpin kalian.”, sebuah ungkapan yang juga dijadikan judul sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Abdul Malik Ramadhani al-Jazairi.

Rakyat yang shalih akan melahirkan pemimpin yang shalih. Rakyat yang senang mendo’akan kebaikan untuk pemimpinnya, akan mendapatkan pemimpin yang senang mendo’akan kebaikan untuk rakyatnya. Dari ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

,خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ  وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendo’akan kalian dan kalian pun mendo’akan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim)

Baarakallaahu lakum fil Qur’anil ‘azhim, wa nafa’anii wa iyyaakum bi maa fiihi minal aayaati wadzdzikril hakiim. Fataqabbalallaahu minnaa wa minkum tilaawatahuu innahuu huwassamii’ul ‘aliim.

Aquulu qawli haadza fa astaghfirullaahalii wa lakum, wa li saairil muslimiina wal muslimaat, wal mukminiina wal mukminaat, fastaghfiruuhu innahuu huwal ghafuururrahiim

Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-

Sejenak kita merenung perjalanan kehidupan umat Islam di bumi nusantara ini. Saat abad pertama hijriyah atau abad tujuh masehi, para pedagang Arab yang terkenal dengan istilah Gujarat memasuki bumi nusantara ini untuk berdagang dan menyebarkan agama Islam. Agama Islam dibawa mereka dengan cara damai dan terbuka, Islam rahmatan lilalamin. Masyarakat pribumi terpesona dengan akhlak para pedagang yang sekaligus Dai ilallah. Mereka masuk Islam dengan suka rela, padahal sebelumnya mereka tidak mengenal Tuhan, menyembah roh, bebatuan, pepohonan. Agama nenek moyang kita dahulu dinamakan animisme dan dinamisme.

Dakwah Islam itu dilanjutkan oleh para auliyaaullah atau Wali Songo. Terutama di kawasan Jawa. Perlahan Islam dianut oleh masyarakat di seluruh nusantara. Sampai akhirnya Islam menjadi agama mayoritas di negeri ini. Bahkan saat kolonialisme Barat menyerbu bumi nusantara, para pahlawan muslim-lah yang membebaskan negeri ini dari penjajahan dengan pekikan lantang Takbir, Allaaahu Akbar.

Islam masuk bumi nusantara ini berkat sentuhan para Dai ilallah, dilanjutkan oleh para Wali Songo, dimerdekakan oleh para pahlawan muslim. Sampai hari ini faktanya Indonesia menjadi Negara berpenduduk Muslim terbesar di seluruh dunia.

Melanjutkan Perjuangan Pendahulu
Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-
Alhamdulillah, Indonesia sudah merdeka secara fisik. Hampir 68 tahun kita sudah memperingati kemerdekaan tersebut. Namun, jika kita mau terbuka, ternyata kita belum merdeka secara hakiki. Kita belum merdeka secara ekonomi, pendidikan, politik, sosial, dan budaya. Ekonomi kita masih dikuasai pihak Asing, kekayaan alam kita masih dinikmati pihak Asing. Pendidikan kita masih tambal sulam dan mahal, bahkan ada lembaga pendidikan Asing yang tidak bisa disentuh oleh pemerintahan kita meski terjadi banyak pelecehan seksual terhadap anak-anak. Secara politik, Indonesia masih belum mandiri dan masih disetir pihak Asing (lihatlah bagaimana kepentingan Asing itu mendekati capres sekarang ini). Secara sosial di negeri ini masih terjadi ketimpangan juga tindak pidana narkoba, sangat mengerikan. Keamanan sekarang ini pada titik nadir, banyak kriminalitas di sekitar kita. Secara budaya, kita di jajah oleh budaya Barat yang mempertontonkan kehidupan materialisme dan hedonisme atau serba boleh.

Tanggung jawab kita sebagai Muslim sekarang ini adalah melanjutkan dakwah para pendahulu kita, agar negeri ini menjadi merdeka secara hakiki. Merdeka secara hakiki itu berarti masyarakatnya mampu melaksanakan ibadah secara baik, mengenyam kesejahteraan dan kemakmuran, dan mendapatkan jaminan stabilitas keamanan.
Itulah yang dirasakan oleh bangsa Arab sampai saat ini. Allah swt berfirman:

لِإِيلَافِ قُرَيْشٍ ﴿١﴾  إِيلَافِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاءِ وَالصَّيْفِ ﴿٢﴾  فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَـٰذَا الْبَيْتِ ﴿٣﴾
 الَّذِي أَطْعَمَهُم مِّن جُوعٍ وَآمَنَهُم مِّنْ خَوْفٍ ﴿٤﴾

“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (QS. Quraisy:1-4)

Pengalaman khatib saat studi di Mekah selama satu tahun. Di sana pendidikan gratis, fasilitas dipenuhi, bahkan mendapatkan beasiswa bulanan dalam jumlah lumayan besar. Itu bagi mahasiswa asing, bagaimana dengan mahasiswa pribumi, tentu mereka sekolah dan kuliah mendapatkan beasiswa yang besar. Kesehatan di sana gratis dengan fasilitas maju. Infrastruktur bagus; jalanan lebar dan bagus., seperti jalan tol-nya kita bahkan lebih bagus mereka, tapi tak berbayar. Masyarakat mereka sejahtera. Padahal kekayaan mereka hanya minyak. Gunung mereka bebatuan. Tanah mereka tandus. Lautan mereka tidak seberapa.

Menuju Indonesia Berkah
Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-
Kita bangsa Indonesia ini kaya raya, memiliki segalanya. Tanah kita subur makmur; tongkat dilempar menjadi tanaman. Gunung kita emas, dieksploitasi sampai anak cucu kita tidak akan habis, seperti yang berada di Papua. Gunung kita pepohonan lebat menjulang, itu berarti kertas dan kayu. Itu semua adalah duit. Lautan kita banyak titik minyak juga jutaan spesies ikan. Minyak kita ada sekitar 150 titik dan yang baru dieksplorasi 60-an titik. Jutaan spesies ikan mestinya menjadikan para nelayan sejahtera, bukan setiap hari ikan-ikan kita dicuri oleh Asing dengan kapal-kapal canggih. Indonesia lebih kaya dibandingkan Negara-negara Timur Tengah, karena Allah sengaja menyiapkan bumi ini untuk hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah swt. berfirman:

إِنَّ الأَرْضَ لِلّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَاء مِنْ عِبَادِهِ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; diwariskannya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-A’raf:128)

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini diwarisi hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al-Ambiya’:105)
Bumi nusantara ini dari Sabang sampai Merauke adalah milik Allah, diwariskan bagi hamba-hamba-Nya yang Beriman, Shalih, dan Bertaqwa. Menuju Indonesia yang baldathun  thayyibatun wa Rabbun Ghafuur. Rakyat bisa sekolah dengan gratis sampai perguruan tinggi. Rakyat bisa berobat tanpa dipungut biasa sepeserpun. Rakyat kita menikmati pembangunan fisik dan infrastruktur dengan nyaman. Rakyat kita mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran. Rakyat kita merasakan keamanan.

Memilih Pemimpin
Hadirin sidang jum’ah -rahimakumullah-
Dalam waktu dekat bangsa Indonesia akan menyelengarakan pemilu presiden, tanggal 9 Juli 2014, saat umat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Saat itulah umat Islam wajib menentukan pilihannya sebagai bentuk tanggung jawab dan peran melanjutkan dakwah yang sudah dilakukan oleh para pendahulu kita. Sebab, presiden dengan pemerintahannya akan menentukan nasib umat Islam dan bangsa ini. BBM naik itu tergantung presiden, cabai naik itu tergantung presiden, narkoba dibasmi itu tergantung presiden, perzinahan dibasmi itu tergantung presiden. Pendidikan gratis itu tergantung presiden, kesehatan gratis itu tergantung presiden, infrastruktur bagus itu tergantung presiden. Indonesia maju makmur sejahtera itu tergantung presiden dan tentu pemerintahannya serta didukung parlemen.

Umat Islam harus memilih pemimpin yang baik agamanya, jelas keberpihakannya pada umat Islam, dan didukung oleh ormas dan parpol Islam. Bukan memilih pemimpin yang tidak jelas agamanya, atau kelompok yang jelas-jelas memusuhi umat Islam, seperti mereka yang telah menolak UU Pendidikan, UU Pornografi, UU Jaminan Halal, UU Perbankan Islam dst. umat Islam harus memilih pemimpin yang lebih mendekati pada kriteria kepemimpinan dalam Islam, yaitu Muslim, Mukmin, Shalih, dan Bertaqwa.
Allah swt berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf:96)
Memilih pemimpin tidak sekedar yang Muslim secara KTP saja, karena sepanjang perjalanan kepemimpinan bangsa Indonesia ini selalu dipimpin oleh Muslim, tapi sampai saat ini bangsa ini masih belum sesuai yang diharapkan bersama seperti yang saya uraikan di atas. Karena itu, kita tidak sekedar memilih pemimpin yang Muslim, karena Allah swt pernah menolak klaim orang Arab badui yang mengaku beriman. Allah swt berfirman:

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat:14)

Semoga umat Islam di Indonesia melek politik. Politik adalah bagian dari agama. Politik bagian dari kehidupan umat Islam, satu kesatuan tidak terpisahkan. Jangankan memilih presiden, makan saja Islam mengaturnya. Jangankan politik, ke WC saja Islam mengaturnya. Jika yang remeh-temeh saja Islam memberi bimbingan, maka hal yang besar dan menentukan nasib jutaan umat manusia, Islam jauh lebih memperhatikan dan memberikan arahannya.

Semoga negeri yang kita cintai ini menjadi negeri “baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur; negeri yang gemah ripah loh jinawi toto tentrem karto raharjo.” Aamiin
بارك الله لي ولكم في القرأن العظيم, ونفعني وإياكم بما فيه من الأيات والذكر الحكيم, وتقبل مني ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah,
Bagi kita yang mengenal sejarah Islam pastilah telah memiliki pandangan positif tentang betapa sempurnanya ajaran agama ini hingga sanggup membentuk karakter para pendahulunya menjadi pejuang, bahkan pemimpin yang hebat. Di antara para sahabat Assabiqunal Awwalun yang begitu lekat dalam ingatan kita, yaitu sosok sahabat seperti Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatthab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib ditambah lagi dengan para tabi’in yang pernah menjadi pemimpin di kalangan umat Islam. Bila mengenang kembali aksi-aksi fenomenal mereka di zaman Rasulullah dan di masa-masa kekhalifahan, maka sangat terasa kenangan sejarah itu menumbuhkan sebuah kerinduan akan hadirnya kembali karakter-karakter kepemimpinan seperti mereka. Hampir tidak kita temukan indikator-indikator yang menjadi bukti kegagalan mereka. Yang ada justru adalah kisah-kisah sukses tentang kepemimpinan mereka. Mari kita simak penggalan-penggalan kisah kepemimpinan inspiratif beberapa di antara mereka.
Abu Bakar ash-Shiddiq, Sang Pemimpin Waraa’
Dalam sebuah penggalan pidatonya yang terkenal, Abu Bakar ash-Shiddiq dengan lantangnya mengatakan, “Orang yang kalian nilai kuat, sebenarnya kuanggap lemah. Adapun yang kalian pandang lemah adalah orang yang kuat dalam pandanganku.”
Inilah kalimat yang menggambarkan keberanian dan keadilan beliau sebagai pemimpin. Tidak membuka peluang untuk berkongsi terhadap kekuatan-kekuatan besar. Akan tetapi, lebih memilih untuk menjadi penguat bagi mereka yang lemah. Tidak seperti yang terjadi saat ini. Kekuasaan justru hanya menguntungkan orang-orang dekat, pengusaha-pengusaha kakap, pejabat teras dan kalangan elit lainnya. Sedangkan rakyat kecil dimarjinalkan, pedagang kecil digusur, orang bodoh dibodoh-bodohi dan dibohongi, pegawai rendahan dibentak-bentak, dan bila tak berduit jangan mimpi memperoleh pelayanan lebih.
Bahkan beliaupun tak segan mengangkat pedang untuk memerangi mereka yang telah murtad, yang enggan menjalankan perintah Allah dengan menyebarkan kesesatan, dan yang tidak mau mengeluarkan zakat. Penyimpangan iman pasca wafatnya Rasulullah ini telah menggerakkan Abu Bakar untuk membentuk 11 unit pasukan perang untuk memberantas para pelakunya. Begitulah sosok khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq. Apa yang pernah dikatakan dan dilakukan Abu Bakar sebagai pemimpin adalah sebuah komitmen imaniyah antara Allah, dirinya dan umat yang dipimpinnya ketika sudah diangkat sebagai khalifah. Inilah yang melahirkan kegigihan dalam mewujudkan ucapan janji itu.
Yang terjadi pada pemimpin kita saat ini bukan hanya disumpah menyebut nama Allah saat dilantik. Bahkan sebelum terpilihpun telah mengumbar janji-janji manis dan kemudian mengkhianati sumpah dan mengingkari janji-janjinya. Mereka menjanjikan jalan ke ‘surga’ tapi yang ada adalah jalan ke ‘neraka’. Mereka menjanjikan cahaya terang tapi yang ada adalah gelap gulita. Mereka sesumbar tak akan mengambil gaji sepeserpun. Tapi, yang dia kumpulkan adalah tunjangan-tunjangan, gratifikasi, mark-up, komisi perjalanan dinas, dan hadiah-hadiah  jatah proyek. Mereka berkomitmen untuk mengemban tugas dalam 5 tahun, tapi belum seumur jagung periode kepemimpinan kembali tergoda untuk meraih jabatan yang lebih tinggi dan menjanjikan kekuasaan dan materi.
Ingatlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُوْلاً
“Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.” (Qs. al-Isra`: 34)
Umar bin Khatthab, Khalifah Pemberani yang gemar Turun ke Lapangan
Efek keberaniannya menyebabkan setan-setan menjauh dari jalan yang akan dilalui olehnya. Namun, sang khalifah begitu mudah meneteskan air mata jika ada rakyatnya yang kelaparan. Dia tak akan nyenyak tidur sampai memastikan perut-perut rakyatnya telah terisi makanan. Suatu ketika, Khalifah Umar menemukan seorang ibu yang memasak batu hanya untuk menghibur anak-anaknya yang menangis kelaparan karena tak lagi memiliki makanan. Pada saat itu juga, Umar sendirilah yang memikul sekarung gandum yang diambil dari gudang Negara.
Bila Umar tak ingin diketahui oleh orang saat melakukan blusukan dan dilakukan di saat larut malam, maka pemimpin yang saat ini melakukannya di tengah gegap gempita liputan media. Dia tak akan turun dari mobil jika kamera wartawan belum siap menyorotnya. Kegiatan itu dilakukan semata-mata untuk melambungkan popularitas sang pemimpin. Inilah model pemimpin yang gemar membohongi rakyatnya dengan tampilan luar belaka. Keasliannya ternyata tak seperti apa yang nampak. Kebohongan menjadi bahasa yang enteng diucapkannya.
Jama’ah Jum’at Rahimakumullaah,
Masih begitu banyak pemimpin di kalangan Islam yang memiliki rekam jejak dengan segala aksi fenomenal mereka. Di antara mereka adalah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang pernah dikisahkan bahwa beliau mematikan lilin istana ketika berbincang dengan putranya karena tidak pantas bagi seorang Khalifah menikmati cahaya lilin yang dibeli dari uang rakyat ketika membicarakan masalah keluarganya. Dia juga pernah diberikan kuda tunggangan peliharaan terbaik untuk kendaraan dinasnya, tapi dia menolaknya dan memerintahkan untuk menjual kembali kuda itu dan uangnya disimpan di Baitul Maal. Di masa kekuasaannyalah tidak lagi ditemukan penerima zakat. Penurunan angka kemiskinan yang cukup fantastis menjadi indikator kesuksesannya yang paling fenomenal di bidang ekonomi.
Bandingkan dengan pemimpin saat ini. Kita akan temukan rumah-rumah dinas para penguasa yang berjejal di halamannya mobil-mobil mewah. Tidak jarang fasilitas negara justru digunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarga mereka. Di akhir masa jabatannya, rakyat miskin malah bertambah, hutang negara membengkak, kurs mata uang semakin merosot, tapi ironisnya harta kekayaannya dalam LHKPN terakhir justru membuncit.
Gubernur Said bin Amir al-Jumahi yang pernah memimpin Syam atau Hims di zaman kekhalifahan Umar bin Khatthab juga memiliki sebuah kisah yang fenomenal. Saat diminta  oleh sang Khalifah untuk menjadi Gubernur di  Syam, apa jawaban Said? Bukan ungkapan  kegirangan atau ucapan terima kasih. Namun seperti orang yang tertimpa musibah dia menolak amanah itu dan berkata, “Demi Allah, jangan kau timpakan fitnah kepadaku dan jangan kau kalungkan amanah ini di leherku, jangan wahai Umar!”
Dengan tertegun, Khalifah Umar kemudian menjawab, “Kalian limpahkan seluruh urusan kalian ke pundakku. Apakah kalian akan biarkan aku sendirian menanggung beban ini?” Lantaran jawaban Umar itulah akhirnya dengan terpaksa Said pergi ke Hims untuk menjadi Gubernur. Di kemudian hari, justru  namanyalah yang tertera sebagai salah satu penduduk termiskin di negeri yang dipimpinnya sendiri.
Bandingkan kembali dengan kondisi saat ini. Demi sebuah kekuasaan para pemimpin saling sikut dan saling menjatuhkan. Keserakahan menjadi kasat mata nampak di hadapan kita. Nomor urut 1 menjadi rebutan para Caleg. Kekuasaan telah menjadi sebuah gaya hidup. Pestapora kemenangan dirayakan sebagai simbol kebanggaan, padahal beban amanah yang begitu berat terkalung di leher-leher mereka.
Sosok berikutnya yang patut untuk dikenang adalah panglima kaum muslimin, Shalahuddin al-Ayyubi. Separuh hidupnya didedikasikan untuk membebaskan negeri-negeri muslim dari cengkeraman bangsa-bangsa penindas. Sang Panglima pantang menyerah tatkala berada di medan jihad hingga begitu disegani oleh pemimpin-pemimpin dunia pada saat itu. Baginya, tak sejengkalpun tanah kaum muslimin layak dihinakan oleh siapapun. Baitul Maqdis di al-Quds, Mesir, Suriah, dan dua kota umat Islam Mekah dan Madinah terjaga kehormatannya di tangan Jenderal, Panglima sekaligus Khalifah kaum muslimin ini.
Malu rasanya untuk membandingkan beliau dengan para pemimpin saat ini. Saat Palestina terjajah, Mesir dihinakan, Muslim Rohingya dibantai, Muslim Afrika Tengah di bakar hidup-hidup karena keimanan mereka, semuanya diam. Hanya kecaman dalam pidato kenegaraan yang mereka andalkan untuk menutupi kelemahan mereka. Para pemimpin muslim terjebak pada alasan klasik konsep negara-bangsa yang membatasi persaudaraan hanya sampai pada batas-batas negara. Sungguh tak berperikemanusiaan. Saksikan putra terbaik Islam! Shalahuddin al-Ayyubi tanpa mengandalkan pidato kenegaraan, beliau terjun ke medan tempur demi kehormatan tanah dan darah kaum muslimin.
Jama’ah Jum’at Rahimakumullaah,
Allah menghadirkan begitu banyak kisah-kisah kepemimpinan baik yang buruk maupun yang diwarnai kesuksesan tidak lain adalah untuk menjadi peta bagi arah berperilaku bagi pemimpin di era kini dan di masa mendatang. Allah ceritakan kisah Fir’aun dan Namrudz di dalam al-Quran tidak untuk diikuti, tapi untuk diambil pelajarannya. Sejarah menghadirkan kisah kepemimpinan para suksesor agama Allah agar para pemimpin memiliki banyak pilihan sebagai patron bagi arah dan perilaku kepemimpinan mereka.
Para pemimpin sukses di zaman dahulu itu lahir ketika belum terdapat media sebagai alat propaganda dan ketika belum berkembangnya sistem politik. Saat ini, peran-peran politik rakyat dilibatkan secara langsung dalam suksesi kepemimpinan sebagai imbas diterapkannya sistem demokrasi modern. Umat Islam yang menjadi komponen terbesar di negara yang besar ini harus dapat memanfaatkan potensi besar itu untuk kepentingan bangsa dan Negara yang berkeadilan (adil bagi semua anak bangsa) dan berdaulat secara ekonomi dan politik (tanpa adanya tekanan-tekanan dan kendali dari pihak asing).
Untuk para calon pemimpin dan para pemimpin di level manapun, hendaknya menyempatkan diri menyelami kembali sejarah para pemimpin Islam sebagai sumber inspirasi dan sebagai bentuk ikhtiar positif dalam memberi arah dan warna bagi karakter kepemimpinannya.
Para pemimpin muslim selayaknya dapat memberi ruang bagi terciptanya aksi-aksi populis tanpa rekayasa. Kisah-kisah kepemimpinan di masa kejayaan Islam telah menguak begitu banyak narasi yang kaya akan hikmah kepemimpinan yang sesungguhnya hingga menjadi layak untuk diteladani. Para pemimpin seharusnya sadar dengan sepenuhnya bahwa kepemimpinan itu ada untuk melayani, bukan untuk selalu dilayani. Kepemimpinan hadir sebagai bentuk pengorbanan, bukan malah mengorbankan orang lain. Kepemimpinan eksis bukan untuk mengejar materi, tetapi untuk menebar lebih banyak manfaat. Kepemimpinan bukan untuk menambah tinggi kebanggaan tetapi sebagai peluang untuk menguji ketawadhu’an. Kepemimpinan juga seharusnya menjadi sarana efektif menerapkan konsep Rahmatan Lil ‘Alamin, bukan malah menjadi Musibah Lil ‘Alamin.
Dalam setiap diri manusia, terbebani amanah kepemimpinan yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Rasulullah bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut. Seorang pembantu adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan tanggung jawabnya tersebut.”
Ketahuilah, semakin besar kapasitas kepemimpinan seseorang, maka semakin besar pula kadar pertanggungjawabannya di hadapan Allah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ




Ikadikobar - Disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Salam yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, bacalah dengan hatimu “Siapa yang membaca Al-Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, akan dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al-Quran.”
Subhanallah, orang tua yang memiliki anak Hafizh Al-Quran akan mendapatkan jubah (kemuliaan) yang tidak didapatkan di dunia.
Namun terkadang kita bingung bagaimana cara mendidik anak agar menghafal Al-Quran. Insya Allah di dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa tips yang dapat kita pergunakan untuk mendidik anak menghafal Al-Quran.
  1. Jangan targetkan banyak hafalan , yang penting tajwidnya benar. Lebih baik hafalan yang sedikit namun sesuai kaidah tajwid daripada hafalan yang banyak namun jauh dari kaidah tajwid. Terlebih lagi yang perlu dipahami adalah Apa yang mereka baca dan hafal pada usia dini sangat melekat di dalam benak mereka. Nah bila saja hafalan yang melekat itu salah maka sangat sulit untuk di ubahi ketika besar..
  2. Selagi anak itu tahsin dan tajwidnya belum bagus, jangan disuruh menghafal sendiri. Tapi harus ditalqin. Nanti dengan sering mendengar yang benar, lidah anak akan mengcopy secara otomatis. Agar kualitas tilawah dan dan hafalannya semakin mantap, bimbinglah tahsinnya secara intensif.
  3. Mulai hafalan Al Quran anak dari ayat yang mudah dihafal, bisa di mulai dari juz amma.
  4. Pergunakan waktu khusus untuk anak-anak menghafal dan juga waktu murajaah. Agar mereka selalu konsisten di dalam menghafal. Alangkah baiknya kita mencari waktu yang ketika itu anak sedang mod untuk menghafal Al-Quran.
  5. Alangkah baiknya kita memperdengarkan Murattal Al-Quran sesering mungkin. Ketika bangun tidur, mau tidur dan waktu-waktu senggang lainnya. Ini  sangat membantu mereka di dalam menghafal dan meniru suara qori. Alhamdulillah semua jenis Murattal sudah tersebar di mana-mana, ada yang bisa di download secara gratis seperti download.pusatalquran.com dan banyak situs lainnya, atau beli di toko buku dan kaset terdekat.
Catatan pengingat, menjadi penghafal Al-Quran dan mendidik buah hati menjadi penghafal Al-Quran butuh kesabaran besar. Maka selain berusaha, jangan lupa berdoa, agar kita dipermudah dalam setiap ibadah yang kita lakukan. Aamiin
 by. Muhammad Hasan Hidayatullah

Video

[Yours_Label_Name][video]

Author Name

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.